The Power Of My Husband

The Power Of My Husband
Sekertaris Ken Josua VS Pengalaman Pahitnya Melawan Adam



Ketidakpekaan, serta kepercayaanku yang terlalu tinggi terhadap Ayah.


membuatku hanya menganggukkan kepala beberapa kali, seperti orang bodoh.


Mereka saling tertawa canggung satu sama lain.


Sekertaris Ken yang sudah terlihat semakin menua itupun, terlihat sangat sikuk tidak seperti biasanya.


Tak bertahan cukup lama, keadaan secanggung itupun sedikit membaik.


Sekertaris Ken mencoba untuk mencairkan suasana dengan menyapaku penuh hangat.


"Oh, ya! apa kabar Nona Muda.. Sudah cukup lama sekali ya, kita tidak saling bertemu seperti ini!"


Benar saja..


Terakhir aku bertemu dengannya, yakni ketika aku datang berkunjung ke Kantor Ayahku.


Untuk membicarakan hubungan baruku dengan Alexas.


Aku memang sering melihat Sekertaris Ken berada di Rumahku, karna keperluan pekerjaan.


Tapi, aku sama sekali jarang bertegur sapa dengannya.


Karna jujur saja! dia itu sedikit cerewet dan super ketat.


Aku sedikit risih dengan sikapnya itu.


Meskipun, yaa... Aku tau! sikap menyebalkannya itu juga demi kebaikan keluargaku semata.


Sebenarnya dia itu orang yang sangat baik dan setia.


"Kabarku baik, bagaimana denganmu? apa keperluanmu di luar negri sudah selesai semua?" Tanyaku.


"Soal itu Nona Muda tidak perlu khawatir! semua sudah teratasi dengan baik. Tapi, saya ingin membicarakan sesuatu yang cukup penting dengan Ayah Nona.."


Wajah super sensitif itu, sungguh mampu membuat seluruh bulu kudukku berdiri, merinding.


Aku tidak pernah melihat wajah Sekertaris Ken seserius ini..


Biasanya.. Dia hanya cerewet, berbicara banyak, melarang ini itu, dll. Tetapi dengan memasang wajah yang biasa-biasa saja di depanku.


Tapi, kali ini sedikit berbeda..


"Apa yang ingi--"


"Nona Muda tidak perlu tau tentang urusan kami kali ini.. Saya mohon, sebaiknya untuk sementara waktu, Nona Muda segera menyingkir dari Tempat ini!" Seru Sekertaris Ken.


-Sial! dia galak sekali padaku!- Dalam hatiku.


Orang yang satu ini benar-benar sulit aku atasi..


Ayahku bahkan hanya bisa diam dan menggeleng-gelengkan kepala saja di depannya.


Luar biasa galak dan tegas.!


Mungkin, hal itu jugalah yang membuat dia sangat di kagumi dan di hormati oleh semua Karyawan Kantor.


Dia juga merupakan salah satu orang yang cukup berpengaruh dalam kemajuan dan keseimbangan bisnis Ayahku itu.


Tanpa panjang lebar.


Akupun segera menyingkir sejauh mungkin dari jangkauannya.


Aku ingin tau apa yang mereka bicarakan itu..


Tetapi, hanya dengan melihat wajah Ayahku yang kaku dan melihat wajah Sekertaris Ken yang terlihat penuh emosi.


Membuatku berfikir bahwa kali ini, aku sudah berada di pilihan yang paling tepat.


"Kenapa kamu menyuruh Aisyah untuk pergi menjauh dari sini?" Tanya Ayah.


"Saya hanya tidak mau Nona Muda, sampai mendengar alasan tidak masuk akal milik anda!"


-Ee-heh! padahal aku belum sempat mengatakan alasan apapun!- Dalam hati Ayah.


"Saya langsung datang kemari, setelah saya dengar Nona Muda akan dinikahkan dengan seorang Karyawan rendahan, kepercayaan anda yang bernama Adam!" Seru Sekertaris Ken.


Suasana di sekitar tempat itu berubah menjadi suasana yang sangat tegang sekaligus lucu.


Bos dimarahi Bawahannya? Haha (tertawa jahat)..


Jarang sekali ada hal seperti itu terjadi di dunia nyata.


"Apa urusanmu di luar negri benar-benar sudah selesai?"


"Bukan itu inti permasalahannya! urusan itu sudah saya selesaikan, sesaat setelah berita yang sangat mengerikan itu.. Terdengar sampai di telinga tajam milik saya!"


"Haha.. Sepertinya, kamu sudah sedikit berlebihan!"


Sekertaris Ken mulai terlihat emosi berat.


"Keputusanku itu tidak pernah salah! aku selalu tau apa yang terbaik untuk Putriku.."


Wajah yang tadinya ketakutan itu, berubah menjadi sedikit lebih percaya diri.


"Jika tentang putriku. Aku tidak pernah main-main dalam mengambil tindakan!, kamu fikir aku ini sapa?" Tegas Ayah.


"Ta-tapii, saya sangat faham siapa Adam yang sebenarnya. Saya adalah orang yang lebih dahulu bertemu dengan laki-laki brengsek itu sebelum anda!"


Sekertaris Ken membayangkan wajah Adam saat pertama kali dia bertemu dengan Adam.


Saat itu dia tengah berjalan di trotoar dekat Kantor, menuju sebuah Restoran megah di pinggir jalan. Dengan membawa sebuah berkas penting, serta sejumlah uang tunai di dalamnya.


Tanpa di duga-duga dan di sangka-sangka.


Seseorang yang tidak di kenalinya telah mengambil secara paksa tas berharga itu darinya.


Pelaku perampokan dengan menggunakan segerombolan sepeda motor itu, di ketuai oleh Adam selaku anggota paling di takuti Geng jalanan.


Singkat cerita, mereka pada akhirnya terlibat sebuah perkelahian yang sengit.


Di antara Sekertaris Ken dan Adam. Pemenang adu fisik satu vs satu itu telah di menangkan oleh Adam.


Dengan perjanjian awal yang sudah di sepakati kedua belah pihak (Tidak di perbolehkan melapor kekantor Polisi / melibatkan hukum berjenis dan dengan cara apapun, tanpa adanya perjanjian lain di atas perjanjian yang sudah di sepakati oleh kedua belah pihak).


Semenjak itulah, rasa benci di dalam hati Sekertaris Ken mulai mencuat.


Karna Adamlah, Sekerteris Ken kesusahan dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang Sekertaris kepercayaan Ayah.


Dia harus terus menerima banyak komplain dan tuduhan miring soal hilangnya Sejumlah uang perusahaan itu, oleh sebagian Donatur sekaligus Pelanggan dan para Kolega perusahaan.


Dan juga di haruskan bolak-balik keluar negri, untuk mengurus para Donatur(Pelanggan)dan para Kolega berpengaruh tersebut, yang sudah mulai kecewa dengan pelayanan Sekertaris Ken yang terkesan sangat tidak bertanggung jawab dan sangat meragukan.


Sampai saat ini..


Dia masih tidak bisa melupakan wajah Adam yang terlihat berandalan dan bengis.




Cih! tau begitu lebih baik aku lapor Polisi saja, dari pada harus menghadapinya secara langsung.


Apa lagi jika aku tau, hasil yang ku dapatkan hanyalah sebuah kekalahan besar seperti ini!- Dalam hati Sekertaris Ken.


Sekertaris Ken merasa sangat terhina sekali karna kekalahan telak yang telah dia alami waktu itu.


Siapa sangka..


Seorang Sekertaris Ken yang terkenal akan kehebatannya dalam segala bidang di mana-mana.


Kalah, dengan seorang berandalan yang tidak punya etika seperti Adam dalam pertandingan adu jotos itu.


Harga dirinya benar-benar runtuh dimatanya dan dimata semua orang.


"Memangnya kamu tau apa tentang dia. Kamu memalang lebih dulu mengenal dia dibanding aku.. Tapi, aku lebih memahaminya dibanding kamu!"


"Maksud anda?" Tanya Sekertaris Ken.


"Dia yang dulu, dengan dia yang menolongku sewaktu aku hampir tertabrak mobil itu sangat berbeda jauh. Mereka adalah seseorang yang memiliki tubuh yang sama.. Tetapi, sudah berbeda sikap!"


Ayah menerangkan tentang perilaku dan sikap Adam yang jauh berbeda dari pandangan Sekertaris Ken selama ini.



Pria baik, yang sudah menolongnya saat ia dalam bahaya(hampir tertabrak mobil)tidak mungkin memiliki hati yang kotor apa lagi sebengis itu.


Adam selalu bertingkah baik dan sopan di depan Ayah, dia juga anak yang terkenal sangat menghormati orang lain, dan sangat menjunjung tinggi harga dirinya di atas hal lainnya.


Dia punya kepribadian mandiri, penyayang, dan sangat bertanggung jawab dimata Ayah.


-Sebagai buktinya, dia rela melakukan dan mengorbankan segalanya demi Putriku yang bodoh itu!-Dalam hati Ayah.


"Tetap saja hal itu tidak bisa di buktikan hanya dengan melihat satu kebaikan. Lagipula, bisa saja kan Adam itu hanya berpura-pura baik di depan anda!" Seru Sekertaris Ken.


Ayah masih terdiam, memikirkan masalalu saat dia pertama kali bertemu dengan Adam.


"Kenapa anda tiba-tiba terdiam seperti itu?" Kata Sekertaris Ken.


Ayah tersentak, diapun mulai tersadarkan diri dari lamunan masalalu yang panjang itu.


"Tidak apa.. Aku hanya sedikit memikirkan sesuatu"


"Apa, itu berarti anda sedang menyesali keputusan ceroboh anda. Dan berniat untuk memperbaikinya? Haha.. Tenang saja! saya pasti Aka--"


"Tidak! bukan itu.." Seru Ayah.


"Hanya saja, untuk saat ini aku belum bisa mengatakan segalanya padamu.. Apalagi sebelum kamu benar-benar bisa menerima Adam sebagai menantu terbaikku!" Lanjutnya.


Sikap keras kepala itu, mulai menyelimutinya dengan cepat.


"Kalau begitu, coba buktikan!" Sekertaris Ken berdiri dari tempat duduk, lalu mengarahkan jari telunjuknya. Tepat di depan wajah Ayahku.


Melihat sikap Sekertaris Ken yang juga sama keras kepalanya itu, membuat Ayahku tidak habis fikir.


Ayahku menghela nafas dalam-dalam.


(Huuhhhhhfft.......)


Pembicaraan itu, sepertinya tetap akan berujung rumit tanpa adanya penyelesaian yang jelas.


Ayah beranjak dari tempat duduk itu.


Dia mulai menatap mata Sekertaris Ken, sambil memasukan kedua tangannya kedalam kantong celana.


"Jika itu maumu, baiklah! aku akan membuktikan sesuatu. Tapi, kau sendiri yang harus melakukannya demi dirimu sendiri!"


"Apa maksud anda?" Tanya Sekertaris Ken, sembari menarik kembali tangannya ke posisi semula.


"Tanyakan saja pada Adam! kenapa dia rela melakukan segalanya demi Aisyah!"


Tanpa berkata hal yang lain, Ayah meninggalkan Sekertaris Ken di tempat itu sendirian.


Dia menuju ketempatku, dan mengajakku untuk segera pergi dari Taman.


"Tu-tunggu dulu! ini belum selesai!" Teriak Sekertaris Ken.


Aku hanya terdiam diri melihat semua itu berlangsung di depanku.


Ayahku mengacuhkannya..


Sedangkan, dari kejauhan terdengar Sekertaris Ken yang terus saja berteriak kalau urusan mereka berdua belum selesai, dan dia masih ingin melanjutkannya.


Aku ingin menanyakan hal apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.


Tapi, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakannya pada Ayah.


Karna.. Yaa, situasinya memang sedang tidak tepat saja!


Dan untuk menuai hasil yang lebih baik.


Akhirnya aku memutuskan untuk membahas hal yang lain, yang jauh lebih penting dari pada mengurusi urusan pribadi mereka.


-Aku tidak akan mau kehilangan kesempatan lagi! aku harus bicara dengan Ayah secepatnya!- Dalam hatiku.


"Ayah..."


"Hm"


"Aku ingin menyampaikan sesuatu.."


"Apa itu?"


"Ini soal rencana baikku untuk Ayah.."


Sembari berjalan beriringan, Ayah melirik kearahku.


"Apa itu?"


"Rencanaku soa--l"


"Apa itu soal rencanamu dengan Nadia?"


Tiba-tiba saja hal mengejutkan itu terjadi.


Ayah menyela pembicaraanku dengan wajah yang terlihat seperti orang yang kaget, bingung, dan juga bertanya-tanya.


Sebenarnya, hal itu tidak jadi masalah bagiku.


Dan satu-satunya yang jadi akar permasalahan disini adalah..


Hal aneh yang aku rasakan, ketika mendengar Ayah melontarkan pertanyaan seperti itu barusan.


-Bagaimana bisa Ayah tahu, kalau aku merancang semua ini dengan Nadia?- Dalam hatiku.