The Power Of My Husband

The Power Of My Husband
Hubungan Antar Sahabat Dan Alexas!



Aku berharap, kami berdua bisa selalu ada dalam ikatan persahabatan ini selamanya.


Tak mengenal waktu, tak mengenal jarak, tak mengenal usia, dan tak juga mengenal batasan.


Persahabatan kami tetap abadi, menjadi sejarah paling berharga dalam perjalanan hidup kami, menjadi penyejuk dikala susah, menjadi membara di saat hati tangah layu di terjang masa.


Persahabatan yang tak mengenal halangan apapun, aku ingin selalu ada untuk mengenalnya dan hadir di sisinya setiap waktu.


Aku tak dapat berhenti melamun, memandangnya dengan penuh rindu dan rasa bangga yang mendalam di hati.


"Kamu kok liatin aku sampe seserius itu sih Gin?"


"Kalo mau manggil Aisyah juga nggak apa-apa kok Nad!"


"Tumben, biasanya kamu selalu marah kalo aku panggil Aisyah.. Kamu nggak lagi kesurupan kan Gin?" Tanya Nadia sambil tangannya mengecek suhu tubuh di dahiku.


"Issss! apaan sih kamu Nad, aku nggak papa kok! aku nggak lagi kesurupan ataupun apapun.. Aku baik- baik aja!" Kataku melepas tangan Nadia yang dia tempelkan ke dahiku tadi.


"Ehh.. Kirain kenapa, trus kamu melamun kaya gitu kenapa coba?"


"Hemm.. Gak papa! nggak penting, udah lupain" Kataku.


-Kriing! Kriing! Kriing!-


Suara Phonecell berdering.


-Kenapa dia menelfonku di saat yang tidak tepat seperti ini! dasar Pria menyebalkan!- Dalam hatiku.


"Oh! sebentar ya Gin, aku angkat telfon dulu!" Nadia berdiri lalu mengangkat telfon sambil berjalan agak menjauh dariku.


-Sepertinya dia sedang membicarakan hal yang sangat penting, hal itu bisa terlihat dari raut wajahnya yang terlihat sangat kesal-Dalam hatiku.


Aku penasaran dengan apa yang sedang Nadia bicarakan dengan seseorang itu di telfon, akupun memberanikan diri untuk perlahan mendekat kearahnya untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi terhadapnya.


"Sudah ku bilang!, aku akan memberikan apapun yang kau butuhkan, asal! kau mau membantuku untuk menghancurkannya secara diam-diam! Aku yakin pas--"


Aku menepuk bahunya perlahan, seketika itu dia langsung menghentikan pembicaraannya itu di telfon.


"Nad! kamu tadi ngomongin apa sih? kok ada hancurin-hancurin segala! kamu lagi ada masalah?" Tanyaku.


"Nanti aku hubungi lagi, ada Aisyah disini.. Aku tidak mau membicarakan bisnis di depan sahabatku ini, haha (tertawa kecil) sahabatku ini sangat khawatiran sekali, dia pasti tidak akan tenang melihatku dalam keadaan yang kurang mengenakan seperti ini" Nadia langsung menutup telfon.


"Udah selesai? apaan sih?"


"O-hoh! bukan apa-apa kok, ini masalah bisnis, biasalah persaingan di dunia bisnis sekarang itu semakin ketat sekali.. Aku harus cermat dalam melakukan sesuatu hal, jangan sampai berujung pada resiko yang dapat mengakibatkan diriku dalam masalah" Katanya.


"Tap--i"


"I-iya udah ayo di lanjutin minum Coffenya, yuk duduk lagi Gin!" Dia menarik tanganku untuk kembali duduk di kursi.


"Sebenernya urusan aku disini udah selesai semua kok, aku mau pamit pulang.. Nanti aku lanjutin lagi di Rumah" Lanjutku.


"O-oh! gitu ya, Em ya udah! sekarang kamu pulang ya.. Hati-hati di jalan Aisyah!"


"E-eh! huhfftt yaa udah, makasih buat semuanya ya Nad!"


Sebenarnya aku masih ingin sedikit berbincang dengan Nadia, tapi sepertinya dia sangat terburu-buru ingin melihatku segera keluar dari Caffe itu.


Akupun langsung keluar dari dalam Caffe menuju keRumah sakit untuk menemui Ayahku lagi.


Saat di Jalan, aku menelfonnya untuk memastikan kondisinya baik-baik saja supaya aku bisa tenang ketika dalam perjalanan.


Aku ingin pulang keRumah terlebih dahulu, tapi sepertinya aku sudah ingin bertemu Ayahku di Rumah sakit pada saat itu.


Banyak hal sudah terjadi di hidupku, aku tau ini adalah hal yang tidak mudah bagi kami dan aku juga ingin menyampaikan niatku untuk memperbaiki kesehatan Ayahku.


Aku memesan Taxi Online lagi untuk menemani perjalananku nantinya.


#Sementara itu di dalam Caffe


Seorang Pria terlihat mengamati gerak gerik Nadia dari kejauhan, setelah kepergianku dari Caffe itu, Pria itu berdiri lalu perlahan-lahan mulai berjalan mendekati Nadia dan duduk di depannya.


"Aku sudah bilang! Jangan mencoba untuk mendekatiku atau menghubunguku ketika aku sedang berada di dekat Regina!" Hardik Nadia.


"Memangnya kenapa? kamu sendiri yang bilang kamu akan memenuhi semua permintaaku jika aku mau membantumu, lagi pula! aku kesini bukan untuk bertemu kalian saja! aku kesini hanya untuk kencan dengan pacar baruku, aku sama sekali tidak tahu menahu kalian sedang ada di dekat sini!" Kata Pria itu sambil bersandar di kursi itu dan menghisap batang Rokok yang ada di tangannya, lalu menghembuskannya kewajah Nadia.


"Kamu itu bodoh atau apa?!" Nadia mencoba untuk menampar wajah Pria itu.


Namun, Pria itu berhasil menampiknya dan memukul tangan Nadia.


"Ahhhgghhwww Sakit!" Teriak Nadia.


"Jangan main-main denganku, aku adalah kartu ASmu.. Jika kamu kehilanganku, maka kamu juga akan kehilangan Laki-Laki sialan itu untuk selama-lamanya!" Ancam Pria itu.


Nadia terlihat sangat geram terhadapnya, dia mengepalkan kedua tangannya lalu menggebrak meja dengan sekuat tenaga(Gubbraakk!!).


"Katakan tanpa basa-basi lagi! apa maumu?"


Pria itu meletakan kedua kakinya di atas meja dan menyilangkannya di depan Nadia.


Ssuuu huhhhhffff (hembusan asap rokok keluar dari dalam mulutnya).


"Aku mau Uang!"


"Apa! uang lagi? kamu gila! baru satu minggu yang lalu aku mengirimkan uang sebesar 100Jt ke nomor rekeningmu! dan kamu masih menginginkannya lagi dariku!" Nadia berdiri, kedua tangannya semakin kuat menggebrak meja itu, membuat semua mata di Caffe itu tertuju padanya.


"Duduklah! mereka memandangi kita sedari tadi!" Timpal Pria itu.


Nadiapun kembali duduk.


"Aku membutuhkan suntikan dana untuk obat itu, kau sudah berjanji untuk membantuku memenuhi kebutuhanku dan kau--"


"Iya aku tau! tapi! tidak semudah itu kamu memerasku dengan ancaman yang tidak masuk akal! aku memang membutuhkanmu, tapi! jika seperti ini maka! jangankan obat itu! aku tidak akan memberikan sepeserpun uangku untuk kebutuhan sehari-harimu!"


Mendengar Hal itu, Pria itu terlihat sangat marah dan semakin agresif pada Nadia.


Dia menurunkan kedua kakinya, membuang batang rokok itu kelantai lalu menginjak-injaknya.


Dia menyodorkan wajahnya di depan wajah Nadia dengan tatapan penuh kedinginan dan amarah yang mengerikan.


"Jangan sekali-kali kamu berniat untuk menghianati kesepakatan kita sebelumnya, Atau!!" Pria itu mencengkram mulut Nadia.


Cengkraman itu merusuk dan membuat Nadia tidak berani berkutik, Pria itu menatap mata Nadia dalam-dalam dan memuat Nadia sedikit ketakutan untuk menatapnya lebih lama.


"Akan aku buat mulut busukmu ini, berhenti berbicara untuk selama-lamanya! mengerti kamu!!" Dia melepas Cengkramannya dengan sangat kasar lalu menarik tubuhnya, berbalik dan meliriknya dengan sinis.


Wajahnya berubah tersenyum, dan dia mengangkat tangan kanannya keatas lalu melambaikannya di depan Nadia sebagai tanda perpisahan.


"Oke! sampai berjumpa lagi! ku tunggu transferanmu yang berikutnya ke Rekeningku!" Pria itu beranjak pergi dari Caffe.


Semua orang di Ruangan itu hanya mampu terheran-heran dengan mereka berdua, mereka sama sekali tidak mengerti tentang apa yang baru saja terjadi di antara Nadia dan Pria misterius itu.


Nadia hanya terdiam dengan tatapan yang kosong, dia memegangi mulutnya yang masih terasa perih karna cengkraman kuat tadi.


-Dasar Ba*ingan! dia mencengkramku sampai mulutku terasa panas dan pipiku sakit karna tergores kuku panjangnya itu!, Aku bersumpah! setelah urusanku selesai, aku akan langsung menjebloskanmu kedalam penjara dan membiarkanmu membusuk di dalam sana!- Dalam hati Nadia.


"Ya! aku bersumpah demi diriku sendiri! Alexas! aku akan membuatmu menyesali perbuatanmu hari ini!" Kata Nadia.