The Power Of My Husband

The Power Of My Husband
Kesempatan Langka



Hari berikutnya..


Tidak ada yang datang menemui Adam, ataupun berbicara padanya.


Dia merasa sangat kesepian..


Clarissa tidak bisa Adam hubungi, aku sama sekali tidak mau bertemu dengannya, sedangkan Ayah kembali ke Kantor mengurus urusan Kantor yang kian padat.


Sepi, sendirian, rindu..


Hampa, merana, dan khawatir akan segalanya.


Dia merasakan perasaan yang sangat menegangkan.


"Nadia! apa yang akan dia lakukan?"Kata Adam, yang masih terbaring di Rumah Sakit.


Cepat atau lambat, semuanya akan terbongkar.


Namun, cepat atau lambat pula bahaya yang akan di hadapinya itu kianlah membesar..


Tidak ada yang tau, tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Adam dan juga Nadia..


Mereka berdua menyembunyikan sesuatu di belakangku, tanpa sepengetahuanku.


Aku juga bukanlah orang yang peka seperti Ayah..


Ayah bisa dengan mudah mengerti situasinya.


Sedangkan aku? sampai saat ini aku hanya mampu membenci Adam dan terus membencinya..


Cahaya putih nan hangat menyerbu Ruangan Adam dari balik kaca itu..


"Ahh.. Siapa, yang bisa aku ajak kerja sama dalam hal ini?"Adam terus berfikir cukup keras..


Saat dia melamun memikirkan hal itu..


Tiba-tiba..


Lampu yang terletak di atas pintu itupun mengeluarkan bunyi dan berkerlap-kerlip.


Adam segera menyiapkan diri, dan duduk di atas Tempat Tidur, menyandarkan tubunya.


-Siapa yang datang? apa itu Ayah?-Dalam hati Adam..


Pintu itupun perlahan-lahan mulai terbuka lebar, di ikuti seseorang yang tidak asing.. Berada di belakang pintu.


"Selamat pagi, berandalan!"


Sapaan dingin, yang sering dia dengar waktu dia bekerja di Kantor itu tidak lain dan tidak bukan adalah sapaan Sekertaris Ken.


Dia datang kemari karna permintaan Ayah waktu itu..


"Senang bisa bertemu anda lagi.." Kata Adam.


"Sayangnya, aku sama sekali tidak menyukainya.. Jika, hal ini bukan karena permintaan pak Regian, aku tentu tidak akan sudi untuk datang kemari"Kata Sekertaris Ken, sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Dia membuang wajahnya, dan bersikap sangat angkuh di depan Adam.


"Dingin.. Seperti biasanya!" Adam tersenyum.


"Lalu apa yang anda inginkan dari saya yang tidak berdaya ini?"Tanya Adam.


Suasana semakin tegang, selalu seperti itu..


Mereka berdua tidak pernah akur, ataupun saling peduli satu sama lain..


"Aku datang kemari untuk mengujimu!"Kata Sekertaris Ken.


"Ayo kita bertarung!"Seru Sekertaris Ken.


Adam tersentak..


Sangat tidak mungkin, untuk meladeni tantangan Sekertaris Ken di saat keadaannya yang masih seperti ini.


Tubuhnya masih terasa sakit, meskipun keadaannya jauh lebih baik daripada sebelumnya..


Tapi, tetap saja.. Menerima tantangan konyol itu adalah satu hal yang sangat berbahaya.


Apalagi, Sekertaris Ken sangat membenci dirinya, dia tidak akan segan-segan untuk menghabisi Adam jika memang mereka berdua melakukan pertarungan sengit mereka satu lawan satu.


"Itu sangat tidak mungkin.. Aku pasti akan kalah jika melawan anda! tubuh saya tidak sekuat sebelumnya!"Kata Adam.


"Apa kau takut?"


"Dasar pecundang!" Sambung Sekertaris Ken.


"Apa yang bisa saya dapatkan, jika saya melawan anda?"Tanya Adam.


"Aku akan mengikutimu! aku akan menjadi pertnermu dalam melawan kelicikan Nadia, seperti yang di katakan pak Regian"


Itu adalah penawaran yang sangat menarik.


Jika Sekertaris Ken yang cerdas itu berada di pihaknya.. Maka, semuanya akan lebih mudah lagi.


Sekalipun, aku saat ini masih menjadi boneka Nadia.. Tapi, dengan bantuan Sekertaris Ken kami pasti bisa mengatasinya.


"Bagaimana? mau bertarung mati-matian melawanku?"Sambung Sekertaris Ken.


Tanpa ragu..


Adampun menjawab dengan lantang.


"Aku siap! sekalipun aku harus mati saat ini juga.. Aku pasti akan melakukan apapun demi Aisyah!"


Sekertaris Ken tersentak..


-Bagus! dengan begitu aku bisa menghabisinya dengan sangat mudah!-Dalam hatinya, sembari tersenyum.


Meskipun, dia tau bahwa tingkat kemenangannya dalam melawan Sekertaris Ken sangatlah kecil.. Tapi, dia sama sekali tidak ragu untuk melakukannya sekalipun itu bisa membahayakan nyawanya sendiri.


Dia hanya bermodalkan keyakinan dan keinginan yang kuat, yang ada di dalam hatinya..


Dia berfikir, tentang masa depan yang bisa dia lakukan saat dia memiliki seseorang yang hebat seperti Sekertaris Ken.


Apalagi, Ayah tidak ada disisinya..


Maka, dengan adanya Sekertaris Ken semuanya akan terasa lengkap seperti biasanya.


Adam segera melepas infus yang masih melekat pada tangannya, dan segera berusaha turun dari Tempat Tidur.


Tubuh lemahnya itu masih sangat sempoyongan saat dibawa berdiri..


Perutnya terasa perih karya keretakan yang terjadi kemarin, darah yang kemarin merembas keluar dari tubuhnya sebenarnya bukanlah luka biasa..


Terjadi sesuatu pada tubuhnya yang mengakibatkan bekas luka yang agak mengering itu menjadi kembali basah.


Tetapi, kemarin dia hanya mengabaikannya dan mengganti perban di perutnya.


-Andaikan kemarin aku menuruti apa kata suster untuk kembali melakukan pengobatan scara exsklusif lagi pada perutku-Dalam hati Adam.


Penawaran tanpa basa-basi itu harus dia terima apapun yang terjadi.


Dia harus memenangkan pertarungan itu, bagaimanapun caranya.


"Sepertinya, kakimu bahkan tidak begitu kuat untuk menompang beban tubuhmu itu.."Kata Sekertaris Ken.


"Apa anda mulai peduli pada saya?"Tanya Adam


"Hahaha(tertawa sangat keras)jangan bercanda! aku justru senang.. Melihat ketidak berdayaanmu itu!"


Wajah Sekertaris Ken yang terlihat sangat seram itupun membuat tubuh Adam tidak berhenti bergetar.


Dendam yang terkubur dari dalam hati Sekertaris Ken, akhirnya semakin terlihat dan semakin membara.


Kesempatan yang langka, bisa membalaskan dendam masalalunya dengan Adam dan menghabisinya.


Dia segera mengambil sebuah kertas lebar dari balik Jas yang sedang di kenakannya.


Tak lupa pula, sebuah pulpen hitam pekat ikut dia bawa ke Ruangan itu.


"Persiapan yang begitu luar biasa, rupaya hal ini sudah anda nanti-nantikan, rupanya.." Kata Adam, sambil tersenyum di depan Sekertaris Ken.


"Tentu saja, aku selalu menanti saat-saat emas seperti ini.."


Sekertaris Ken menyodorkan kertas itu di depan Adam.


Itu adalah kertas yang berisikan sebuah perjanjian yang sudah dia buat, khusus untuk pertarungan hari ini.


-Aku tau, laki-laki berandalan seperti dia tidak akan menolak permintaan bodohku itu dengan sangat rumit, apa lagi jika dia tau bahwa dia sangat membutuhkan keberadaanku!-Dalam hati Sekertaris Ken.


Akhirnya semua berada di genggamannya..


Adam segera mengambil selembaran itu, dan membacanya sedikit.


Selembaran kertas putih bertinta itu berisikan sebuah perjanjian, dimana apapun yang terjadi pada Adam dalam pertarungan mereka satu lawan satu itu, bukanlah tanggungjawab Sekertaris Ken.


Dan apapun yang terjadi padanya, murni atas keputusan bersama yang sudah di sepakati tanpa adanya keterpaksaan apapun.


Sekertaris Ken, benar-benar percaya diri sekali..


Dia percaya, bahwa dia akan memenangkan pertarungan itu dengan sangat mudah.


"Aku sudah menanda tangani ini.."Kata Adam, menyodorkan kembali kertas itu ke arah Sekertaris Ken.


"Bagus.."


"Aku pasti akan memenangkan ini apapun yang terjadi!"Seru Adam..


"Cih! sombong sekali kau!"


"Ayo kita selesaikan urusan kita di atas Gedung ini!"Sambung Sekertaris Ken, sembari menyimpan selembaran itu di atas laci lemari yang ada di samping sofa..


-Tentu saja, aku tidak mau kertas ini sampai rusak ataupun terkena noda darah saat aku sedang melawan Adam-Dalam hatinya.


Merekapun bergegas menuju Lantai paling atas Gedung tersebut untuk melakukan pertarungan sengit mereka.