
#Di Rumah Sakit
"Hay! hay!" Ada sebuah tangan besar nan kokoh tengah menggoyang-goyang tubuh Adam.
"Ngelamunin apaaaa?"
Adam tersentak.
"Eh, Ayah! sejak kapan Ayah ada di sini? kok Adam nggak denger ada orang masuk kedalam?"
Ayah tersenyum pada Adam..
Melihat sang mertua sedang memperhatikan menantunya dengan seksama, membuat menantu kesayangannya itupun merasa jauh lebih baik, hal itu dapat di buktikan dengan hati Adam yang terasa sangat gembira ketika di perlakukan sebaik itu oleh sang mertua.
Adam tertawa kecil, tangan kanannya yang putih dan bersih itupun dengan refleksi menutupi bibirnya yang tengah menahan tawa sekuat tenaga.
"Kok malah ketawa? ngelamunin apa sih Dam?"
"Oh.. Ini, bukan hal yang penting kok"Adampun tersenyum.
"Yakin?" Kata Ayah, menyipitkan kedua matanya seakan tidak percaya dengan apa yang Adam katakan padanya.
"Jangan bohong, kita itu satu Tim!" Lanjutnya.
"Adam tau itu kok, cuma Adam nggak ngerti aja harus memulai cerita dari mana..."
"Emang sesusah itu Dam? cerita aja nggak apa-apa! mau memulai dari manapun juga boleh!"
"Adam malu, soalnya Adam--"
"Ayah!!! apa Ayah di dalam!"Aku menyerobot masuk kedalam tanpa permisi.
"Aisyah! kamu nggak sopan banget ya! masuk Ruangan orang nggak pake permisi nggak pake salam! kebiasaan!" Seru Ayah.
Adam menatapku dan tersenyum..
Matanya yang hitam dan agak kecoklatan itu terlihat sangat berbinar-binar dan cantik.
"Kenapa kamu Dam? Mata kamu sakit ya, sampe nggak bisa berkedip ngliatin aku mulu?"
"Kamu cantik sekali..." Senyum tulus nan sayup itupun merekah seperti bunga sakura di musim semi, seakan tengah mencerminkan keindahan dan melambangkan kebanggaan di setiap kerahannya.
"nggak jelas banget sih! Udaahh ahh males!" Namun hal itu tetap tidak dapat menggoyahkan sedikitpun tekadku.. Untuk tetap memusuhinya sekalipun dia adalah seseorang yang memiliki senyuman semanis gula.
"Ayah! Ayah ngapain ada di Ruangan Adam... Bukannya Ayah masih belum sembuh? Ayo, balik ke Ruangan Ayah aja yoo!!" Kataku, sembari menarik tangan Ayah.
Namun Ayahku justru menarik kembali tangannya itu, menghentikan langkahku, dan menyuruhku untuk tetap tinggal di tempat itu.
Wajah yang gagah berani, penuh kasih sayang itu tengah mencoba untuk meluluhkan hatiku ini..
Dia menantikan kedatanganku kemari supaya aku dapat menggantikannya untuk mengurus keperluan Adam di Rumah Sakit, dan membantunya untuk membersihkan tubuhnya yang kotor.
"Lah! kok aku? kan udah ada petugasnya sendiri, Ayah!" Keluhku.
"Petugasnya hari ini cuti, nggak bisa masuk semua... Jadi kamu yang mesti bantuin Adam buat bersih-bersih!"
"Kok bisa...?"
"Ya bisa lah, kalo pake A... Kalo pake U ya Bisu :v " Kata Adam meledekku.
Dia tersenyum tanpa dosa di depanku, aku sangat yakin! ini adalah siasat liciknya supaya dia bisa di mandikan secara langsung olehku!
-Dasar mesum!- Dalam hatiku.
Aku mencoba sekuat tenaga, semampuku, sebisaku, dengan seluruh kekuatan dalam diriku, untuk tidak terpengaruh dengan perkataan mereka dan tetap pada pendirianku untuk tidak ikut campur dalam hal itu.
"Harus mau! kasian Adam nggak ada yang bantuin!"
"Nggak!"
"Udah.. Cepet!" Ayah mendorong tubuhku.
"Nggak! pokoknya Asyah nggak mau!" Bantahku semakin menyeru.
"Ahhhgghhh!! dada Ayah terasa sesak sekali!"
Tiba-tiba Ayah terlihat melemas.. Tangannya terus memegang dadanya dan tubuhnya sedikit demi sedikit mulai runtuh.. Sepertinya apa yang selalu aku khawatirkan selama ini selalu terjadi di saat yang tidak tepat!
Ya! pastilah penyakit legend Ayahku itu kambuh lagi..
Keteguhan hatiku saat itupun mulai mengambigu dan tidak lagi sekokoh sebelumnya, dan jika ini terus berlangsung maka!... Akan hanya ada rasa khawatir yang teramat besar yang akan mengalahkanku dalam pertaruhan dengan egoku sendiri.
"Ayah!! Ayah kenapa lagi?"
"Ayah sepertinya stres karna kamu!" Kata Adam dengan santai.
Aku sangat panik, aku mencoba memanggil suster.. Berteriak mencari bantuan dari dalam sambil tanganku mencoba untuk tetap menopang tubuh Ayahku supaya tidak jatuh ke bawah.
"Turuti saja kemauan Ayahmu itu, jika tidak!-- hemm.."
Aku semakin tidak karuan melihat Ayah seperti ini, sekeras apapun aku mencoba meminta bantuan... Sama sekali tidak orang ada yang masuk untuk menolongku.
Sepertinya, keteguhanku dalam mempertahankan egoku hanya akan sampai pada hal ini, bahkan mungkin saja kehawatiranku akan kesehatan Ayah yang kian memburukpun sudah mulai dapat mencapai batasnya.
"Iya! iya.. Ayah, iya! Aisyah akan menurut!"
"Nahh... Gitu dong dari tadi!"
Tangan Ayahku mulai berhenti menutupi dadanya, perlahan-lahan mulai bangkit kembali membawa berat tubuhnya terangkat dari kedua tanganku yang sudah menopangnya sekuat tenaga sedari tadi.
"Loh.. Loh!! kok Ayah udah bisa berdiri lagi sih? loh! kok gitu sih? Ayah bohong ya sama Aisyah?!" Kataku dengan wajah yang bingung..
Aku sama sekali tidak tahu, jika Penyakit Jantung yang terkenal dengan keganasanya dalam menyerang targetnya itu, bisa di lumpuhkan dengan sangat mudah, secepat, dan seefisien ini.
"Aduhh... sakit sekali!"
Ayahku kembali menutupi dadanya, dan menundukan tubuhnya seakan tengah merasakan sakit yang luar biasa.
Matanya berkedip beberapa kali..
"Ayah... Ayah kenapa?"
"Aduhh, dada Ayah semakin terasa sakit sekali! sudahlah.. Ayah mau jalan keluar dulu cari bantuan.. Udah kamu urusin Adam aja!" Katanya sembari kembali memegang dadanya, berjalan sempoyongan menuju pintu Ruangan.
Entah apa yang sebenarnya terjadi padanya, aku sama sekali tidak mengerti dengan situasi yang rumit ini..
Sekiranya, ada hal yang kurang dapat di terima logika, namun mampu membuatku berfikir bahwa mungkin.. Itu adalah kebenarannya.
"Tapi Ayah!"
"Udah Ayah nggak apa-apa kok!"
Ayahpun melangkahkan kakinya dengan cepat dan pergi meninggalkan kami berdua..
-Wahh! Gut Ideaah Ayah! Gut Jub pokoknya! (beri dua jempol)- Dalam hati Adam
-Besok Ayah mau ikutan casting di sinetron layar lebar ahh, kayanya Ayah emang jago Akting!- Dalam hati Ayah.
"Ehem!! (berdehem) kamu durhaka sekali yah sama Ayah kamu.. Nggak mau nurut sampe bikin Ayah kamu sakit gitu.."
Suara menyebalkan itu, memecah suasana.
"Bu-Bukan, maksud aku itu...! Huhhfftt (menghela nafas)"
"Udah lupain! mana perlengkapan mandinya? perlu aku siram pake air panas nantinya biar kamu merasa agak baikan?" Lanjutku.
Rasa kesal dan mencoba untuk bersabar itu seakan tengah mergelombang hebat di dalam hati dan otakku, sungguh suasana yang merepotkan.
"Tega sekali kamu..."
"Ya udah, mana?" Kataku dengan perasaan agak dongkol.
"Tuh.. Udah di siapin suster tadi pagi!"
Bibir Adam menunjuk ke Arah meja di samping sofa duduk.
"Lah itu udah ada yang nyiapin! terus katanya hari ini nggak ada suster yang masuk!"
"Dih! kata siapa? emang aku pernah bilang begitu?"
"lah.. Tadi Ayah?"
"Ya kan Ayah! bukan aku!"
"Ohh.. Jadi maksud kamu Ayah itu bohong soal yang sakit tadi ke aku, gitu?" Aku mengepalkan tangan kananku, memukul lembut tangan kiriku beberapa kali.
"E-heh.. Ya nggak tau, udah kamu jangan nunjukin posisi yang kaya gitu dong, serem tau!"
"Ya kan! kalian sekongkol?"
Kecurigaanku yang semakin menajam itupun semakin tercium kebenaranya, Namun! dengan lihainya si Pria tidak tahu diri itupun menepis tuduhan miringku dengan memasang wajah polos tanpa beban dosa di depanku.
"Mana mungkin aku berbuat sekeji itu.." Kata Adam, menggeleng-gelengkan kepala.
"Teruss...?"
"Ya nggak ada terusannya dong Aisyah.. Istriku tercinta!"
Aku mengabaikannya, sepertinya pembicaraan ini akan semakin tidak masuk akal dan pasti tidak akan berujung menyenangkan, jika aku terus membahasnya dengan dia.
Aku mencoba untuk tenang, menghela nafasku secara perlahan-lahan lalu mulai memantapkan diriku untuk siap menerima tantangan ini.
Tapi, sejujurnya aku sama sekali tidak siap dan tidak tahu-menahu harus memulainya dari mana..