THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 3 (3)



Sekarang giliran Vio menceritakan apa yang dialaminya tadi. Dari pada keadaannya, Lizza lebih terkejut dengan cerita Vio. Saat dia meninggalkan sweaternya tadi, teman sekelasnya tidak ada disana apalagi saling menyerang.


"Vio, bukannya ini semua aneh?" tanya Lizza.


"Aku tahu, untuk sekarang ini ayo kita menunggu Nea bangun. Banyak yang ingin kutanyakan padanya. Saat ini mungkin hanya Nea yang bisa menjawab menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi," kata Vio setelah selesai memberi pertolongan pertama pada dirinya.


Tak butuh waktu lama sampai Nea bangun, setelah dia memuntahkan air yang dia telan, Nea mendudukan dirinya dan berterimakasih pada Lizza karena menyelamatkannya saat dia tenggelam. Lizza hanya tersipu malu dan berkata dirinya tidak berbuat banyak. Vio tersenyum dan tertawa melihat tingkah temannya. Namun itu hanya sebentar, Vio langsung memasang wajah serius setelahnya. Vio dan Lizzapun menceritakan apa yang mereka temukan dan alami.


"Nea, katakan padaku semua yang kamu tau tentang pulau ini. Kamu mempunyai informasi yang tak kami tau kan?" pintanya.


"Apa maksudmu? Aku tidak tau apa-apa," jawab Nea cuek.


"Jangan berbohong. Pertama, kamu tiba-tiba pindah sekolah diwaktu kelas kami hampir piknik. Kedua, disekolahmu yang sebelumnya ada kasus pembunuhan yang seharusnya saat itu para siswa tidak akan diizinkan pindah tanpa mengurus banyak hal. Tetapi waktu kamu keluar dan waktu kamu mendaftar terlalu cepat, artinya kamu pasti dibantu orang dalam. Ketiga, kamu bisa tau perspektif lukisan seakan sudah pernah melihatnya. Keempat, kamu tau kalau Vilan itu saudara Pak Yurio walaupun kamu marga mereka tidak sama. Kelima, setelah aku menyelidikimu aku tau hal penting. Setiap ada kasus pembunuhan berantai di sekitar, kamu selalu ada di TKP," ucap Vio panjang lebar membuat Nea dan Lizza hanya bisa tercengang.


"Kamu tau apa artinya semua itu? Simpel, hanya ada satu kemungkinan. Kamu pasti bekerja sama dengan kepolisian, apa aku salah?" kata Vio mengakhiri penjelasannya.


"Tidak... justru kamu sangat benar. Bagaimana kamu bisa tau itu hanya dengan petunjuk kecil seperti itu?" jawab Nea kaget.


"Mudah, hanya polisi atau sejenisnya yang bisa melakukan penyelidikan secara resmi dan orang mereka pasti bisa pindah kemanapun mereka mau jika itu demi penyelidikan," balas Vio.


"EHHH???? Kok aku nggak tau itu? Anggota kepolisian, keren!!" timpal Lizza.


"Tidak, aku hanya bergabung karena keluargaku adalah keluarga polisi. Sejak kecil aku sudah di didik untuk menjadi itu. Tapi anak dibawah umur tidak bisa menjadi polisi, jadi sekarang aku ini Unit Satuan Khusus (USK). Sejujurnya aku masuk ke sekolah ini karena kelas ini akan pergi ke pulau ini dan pulau ini berhubungan dengan kasus yang sampai saat ini belum terselesaikan," kata Nea.


"Tolong jelaskan itu, kita harus mengumpulkan semua info saat ini," seru Vio.


"Kakak?"


"Mereka yang saat itu baru lulus SMA berniat berlibur ke pulau kerabat Yurio, kerabat Yurio itu punya seorang anak perempuan bernama Viqueilan Dangela atau biasa dipanggil Viqi. Karena Yurio dan yang lainnya menginap cukup lama, Viqi bisa cepat akrab dengan mereka. Tetapi saat itu orang yang paling dekat dengan Viqi adalah Tikara. Yah intinya begitu, waktu dengan cepat berlalu. Entah karena alasan apa, pada hari terakhir keenam anak itu saling menyerang satu sama lain," Nea berhenti sejenak dan menghembuskan napas panjang.


"Orang tua Viqi tidak ada pada saat itu karena mengambil persediaan dipulau utama. Tubuh Viqi sudah lemah sejak lahir, jadi kemungkinan dia bersembunyi saat itu. Saat itu dia bersama Tikara berada di ujung tebing karena tidak tau akan kemana lagi. Ombak besar menghantam mereka berdua dan mereka jatuh ke bawah. Beruntung Tikara jatuh ke laut, kepalanya menghantam batu yang membuat dia kehilangan ingatannya selama 1 tahun,"


"Jadi karena itu Kak Tika mendadak hilang ingatan dan masuk rumah sakit 5 tahun lalu, ayah dan bunda tidak pernah menceritakan alasannya padaku," pikir Vio.


"Sedangkan... Viqi jatuh ke bebatuan runcing di bawah, tubuhnya tertusuk batu itu dan dia meninggal seketika. Kasus itu ditutup sebagai kecelakaan, orang tua Viqi yang sangat sedih tidak ingin kembali ke pulau dan mewariskan pulaunya ke Yurio. Karena itu adalah kenangan menyedihkan, Yurio dan yang lain merahasiakannya dari Tikara yang kehilangan ingatannya," cicit Nea sedih.


"TAPI!!! Tiga tahun yang lalu, Akasia melukis lukisan Viqi dan Yurio memajangnya di villa miliknya. Awalnya semua orang mengira itu adalah lukisan biasa untuk mengenang Viqi. Namun disaat terakhir hidupnya, Akasia mengatakan sesuatu," kata Nea mulai tegang.


"Apa? Apa?" tanya Lizza penasaran.


"Dia berkata, 'Lukisan Monalisaku akan menunjukkan kebenarannya' begitu. Kasus yang ditutup itu dibuka kembali. USK bertugas menyelidiki lukisan itu, kami menemukan kode seperti yang kamu temukan Vio. Tapi kami tidak bisa menyelesaikannya sebelum lukisan itu ditarik kembali dan dikembalikan ke pulau. Oleh karena itu, setelah mengetahui kalau Tikara dan muridnya akan pergi ke pulau, aku ditugaskan untuk menjadi murid pindahan dan pergi menyelidiki ke sini. Tapi aku nggak nyangka, kalau kemungkinan yang terjadi berhubungan dengan hal-hal mistis," ucap Nea mengakhiri ceritanya.


"Terimakasih sudah menceritakannya. Sekarang kita harus memecahkan kode itu bersama untuk menghentikan kekacauan ini," kata Vio.


"Benar! Benar! Kelihatannya menarik, kami boleh ikut tidak?" kata dua gadis kembar bersamaan. Mendadak, dibelakang Vio muncul mereka berdua.


"HWAAAAA!!!" kaget Vio, Nea dan Lizza disambut senyum nakal si kembar.