THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 2 : LUKISAN MONALISA



Vio memasuki villa dengan hati-hati. Didalamnya tidak ada sesuatu yang spesial kecuali sebuah lukisan besar ditengah ruang tamu. Disana terlukis seorang wanita cantik dengan rambut pirang panjang dan mata hijau emerald yang bersinar.


"Wah, cantik banget," kagum Vio. "Tapi... dia siapa?!"


"Hmm, apa yang sedang kamu lihat Vio?" tanya Bu Tika mendekati Vio.


"Ah, coba lihat kak! Wanita itu cantik banget, kakak tau siapa dia?" tanya Vio dengan mata berbinar. "Cewek itu..." jawab Bu Tika terpotong.


NYUUUT


Mendadak kepala Tika berdenyut, rasanya sakit. Tangan kirinya langsung menyangga kepalanya yang terasa berat. "Kenapa kak!!?" jerit Vio panik. "Tidak, tidak apa-apa. Hanya saja..." jawab Bu Tika terbata-bata. "Hanya saja?"


"Entah kenapa aku merasa melupakan sesuatu yang penting, tapi apa ya. Lupakan soal itu, tadi kamu tanya tentang siapa wanita itu bukan? Kakak tidak kenal, tapi mungkin disuatu tempat kakak pernah melihatnya. Maaf," ucap Bu Tika tersenyum kecut.


"Tidak masalah, aku juga bukannya ingin tau banget kok,"


Vio sudah tidak peduli lagi dengan siapa orang di lukisan itu. Lizza yang memandang Vio dari jauh mulai mendekatinya dan melihat lukisan itu juga. Setelah dilihat dengan seksama ada sebuah nama yang ditulis sangat kecil di pojok kiri bawah. Lizza mengguncang bahu Vio untuk menunjukkan penemuannya.


"Viqueilan Dangela," gumam Vio membaca namanya.


"Itu pasti nama wanita itu, dilihat dari manapun itu nama perempuan-kan?" kata Lizza. "Iya, nama yang cantik seperti wajahnya," balas Vio.


"Tidak! Arti namanya cukup menyedihkan," timpal Nea tiba-tiba. "Hmm, kamu tau artinya Nea?" tanya Vio dan Lizza.


"Ya, begitulah. Arti namanya itu adalah 'Malaikat Jatuh bersayap Hitam'," jawab Nea.


"Malaikat jatuh ya, memang agak menyedihkan sih," cicit Lizza.


Ditengah renungan mereka, sebuah suara terdengar memanggil mereka. Bu Tika dan teman-teman mereka yang lainnya sudah berkumpul dan bersiap untuk pembagian kamar. Setiap kamar diisi 4-5 anak, tentu saja laki-laki dan perempuan tidak boleh sekamar. Vio sekamar dengan Lizza, Nea, Reva dan Kayla di kamar yang menghadap ke arah laut.


Tanpa basa-basi, mereka segera menuju kamar masing-masing untuk istirahat. Karena sudah sore, Bu Tika memberi waktu bebas sampai makan malam. Anak-anak diizinkan melakukan apapun yang mereka mau kecuali berenang di laut, karena akan ada pasang di malam hari. Reva dan Kayla pergi ke pantai untuk jalan-jalan dengan Aliya dan Laini.


Sedangkan Trio Viline ( Vio, Lizza, Nea ) memilih keliling Villa untuk melihat-lihat setelah mereka selesai bermain game di kamar.


"Kalau gitu mau keluar? Sebentar lagi Sunset, aku ingin lihat itu dari teras," ujar Vio.


"Boleh banget!!!" kata Lizza dengan senyum lebarnya, Nea hanya mengangguk-angguk dan mengikuti mereka berdua kemanapun mereka mau. Begitu tiba diteras samping, ada sebuah meja payung dengan 4 kursi yang mengelilinginya. Tanpa basa-basi mereka segera duduk disana.


Tidak lama mereka menunggu, matahari mulai tenggelam dan menampilkan pemandangan yang indah. Semilir angin meniup rambut mereka, membuatnya terbang perlahan. Poni panjang Nea tersibak ke samping, menampilkan mata kanannya yang berwarna emas murni. Vio dan Lizza dibuat kagum melihatnya, Nea yang biasanya selalu suram tersenyum hangat melihat sunset didepannya. Mata kiri biru laut dan mata kanan emas murninya terlihat seperti pemandangan indah didepan mereka.


"Cantik," ucap Vio tanpa sadar.


"Eh?" Nea kaget dengan pernyataan Vio yang tiba-tiba. Dia pikir yang Vio maksud adalah pemandangan didepannya. Tetapi pernyataan Lizza menyadarkannya.


"Kau benar Vio, Nea terlihat sangat cantik bukan?"


"Eh?! Kalian bukan sedang memuji pemandangannya?" kaget Nea dengan rona diwajahnya. Nea yang malu-malu adalah sesuatu yang sangat langka bagi mereka berdua. Vio berusaha menahan tawanya dan Lizza sudah terkikik kecil.


"Padahal kamu itu cantik, matamu juga sangat indah. Tapi kenapa kamu memanjangkan poni sampai sepanjang itu?" tanya Vio penasaran.


"Ahh, sebenarnya... Disekolahku dulu, orang-orang mengejekku karena warna mata yang berbeda sebelah. Sejak itu aku memanjangkan poniku untuk menutupi sebelah mataku," jawab Nea sedih. "Dasar bodoh! Jangan pedulikan apa kata orang, percaya dirilah. Lizza! Ayo!" kata Vio diikuti senyuman lebar Lizza.


"Kalian mau kemana?" tanya Nea bingung.


"Ke dalam, aku akan mengambil gunting. Percayakan penampilanmu pada kami, tenang saja begini-begini Lizza itu mau masuk ke Hair Style University. Kami boleh merapikan rambutmu-kan?"


"Itu... terserah kalian,"


Karena Nea sudah memberi persetujuan, Lizza dan Vio kembali ke kamar mereka untuk mengambil gunting. Saat masuk, mereka melewati lukisan itu lagi. Mendadak Vio merinding saat didekatnya. Vio menolehkan kepalanya dengan cepat untuk melihatnya. Waktu itu, posisi Vio ada di lorong samping lukisan dan bukan didepannya tetapi...


"Matanya... melirikku?" cicit Vio pelan ketakutan. "Bukannya matanya menghadap ke depan," lanjutnya. "Ada apa Vio?" panggil Lizza.


"Ah, ti... tidak ada,"