
Berbeda dengan pertarungan melawan Hazella yang tak seimbang secara fisik, pertarungan ini tak seimbang karena teknik dan pengalaman bertarung. Vio dan Nea kesal karena merasa bahwa dirinya tak berguna. Meski sudah jelas peluru mereka berhasil mengenai Kayla, namun itu tak akan berguna jika dalam hitungan detik tubuh Kayla beregenerasi dan dirinya sendiri tidak terpengaruh dengan rasa sakit itu.
“Dia bahkan tidak melambat saat terkena peluru tepat di dada dan kepalanya. Apa-apaan itu?!!”
Nea segera teleport ke tempat Lizza untuk membantunya. Begitu dia sampai, Nea langsung diserang Kayla dengan pisaunya. Namun Lizza berhasil melindungi Nea tepat waktu sehingga Nea tak terkena pisau itu. Kayla melontarkan dirinya kebelakang dan bergerak menaiki pohon dengan cepat. Lalu dalam waktu singkat dia bergerak mengelilingi Lizza dan Nea sambil menggunakan pepohonan sebagai tumpuan kakinya.
Serangan demi serangan dia lontarkan dari berbagai arah. Tak semua serangan itu berhasil di tangkis Lizza, sehingga tubuh mereka berdua terkena beberapa sayatan. Setelah mengumpulkan cukup kekuatan, Nea menteleportkan dirinya dan Lizza ke arah Vio. Bersama Vio, Nea menghujani Kayla dengan peluru dalam jumlah banyak.
Seolah peluru itu bergerak dengan lambat, Kayla berhasil menangkis semua peluru yang mengarah padanya hanya dengan sebuah pisau. Nea dan Vio berusaha memberi cukup waktu untuk Lizza menutup lukanya dengan perban yang mereka bawa. Lizza kembali ke pertarungan dan berhadapan lagi dengan Kayla yang tersenyum senang karena menikmati semua pertarungan ini.
Lizza dan Kayla saling menyerang dan menangkis serangan satu sama lain, terkadang gerakan mereka terlihat indah seperti sebuah tarian dan terkadang gerakan itu juga terlihat brutal. Baik Lizza maupun Kayla bisa mengenai yang lainnya. Namun karena luka Kayla akan langsung sembuh saat itu juga, maka Lizza tidak akan bertahan jika pertarungan ini berlangung lama. Padahal jika dihitung, luka yang diterima Kayla sangat banyak dan parah hingga membuatnya bisa mati berkali-kali.
“Keabadian sungguh curang, aku harus memikirkan cara menanginya,” pikir Vio dengan kepala dingin.
“Kemampuan regenerasinya luar biasa. Bahkan jika kami menghancurkan jantung maupun otaknya, dia hanya akan beregenerasi dengan cepat. Kalau begitu saat ini... kita harus mengunci gerakannya dulu,”
“Nea! Lizza! Dengarkan aku! Aku punya rencana,” kata Vio dalam hati.
Lizza dan Nea kaget karena mendadak sebuah suara muncul di kepala mereka. Ini adalah salah satu variasi kemampuan Vio. Doll Telepathy memungkinkannya untuk mentransfer suaranya pada Doll-nya dan sebaliknya. Ditengah pertarungan itu, Vio menjelaskan rencananya untuk menangkap Kayla.
Lizza dan Kayla terus menghantamkan pedang mereka, Nea mensupport Lizza dengan menyerang Kayla di titik-titik vital. Kayla tidak sadar, meski Kayla tidak merasa sakit karena dia sudah menghapus sistem sensorik rasa sakitnya sebelumnya tapi reaksi kejut saat titik vitalnya rusak tetap mempengaruhinya.
Pada saat itu, gerakan Kayla akan sedikit melambat dan berantakan dari pada sebelumnya. Vio yang menyadari itu telah meminta Nea untuk hanya menargetkan titik vital. Sementara Lizza dan Nea terus melawan Kayla, Vio tidak diam saja. Dia terus mengamati detail-detail penting dan menyusun strategi di otaknya.
Mata merah Vio fokus melihat teropong di senjatanya. Dia sudah menargetkan satu titik yang bisa memberi waktu untuk dua temannya. Titik itu adalah mata Kayla. Dalam waktu singkat, dua peluru telah dilontarkan hingga tepat melukai kedua mata Kayla. Kayla memang tidak kesakitan, tapi dia tidak bisa melihat selama beberapa detik sampai matanya pulih kembali.
Beberapa detik itu tidak disia-siakan Lizza. Sesuai rencana Vio, Lizza menebas kedua kaki Kayla hingga terputus dan dengan cepat Nea melakukan teleport untuk mengambil kedua kaki itu dan menjauhkannya dari Kayla.
“Hee... kalian cerdas juga,” gumam Kayla senang.
“Namun itu percuma,” lanjutnya dengan senyum mesum khasnya.
Kaki Kayla yang dipegang Nea meronta dan berlari ke arah Kayla dengan sendirinya. Itu adalah pemandangan mengerikan dan menjijikan jika dilihat dari dekat. Darah Kayla yang tersebar kemana-mana sejak awal pertarungan membuat suasanya tempat itu menjadi wilayah perang dengan darah dimana-mana.
Lizza, Nea dan Vio sudah kehabisan stamina untuk melanjutkan pertarungan. Mereka memang terluka, namun jika dibandingkan dengan luka pertarungan dengan Hazella, luka yang merek derita tak terlalu parah.
“Ada yang aneh... Kayla sepertinya tidak bertujuan untuk menghabisi kami. Kalau dia mau, sudah dari tadi dia bisa menyelesaikannya. Alasan pertarungan ini berlangsung lama sepertinya karena... Kayla ingin mengulur waktu. Tapi untuk apa?” pikir Vio bingung.
TENG~ TENG~ TENG~ TENGGG~
Sebuah suara mengejutkan mereka bertiga. Itu adalah suara jam raksasa yang ada di cukup jauh dari mereka. Karena jam itu sendiri sangat besar, bahkan dalam beberapa kilometer suara jam itu masih dapat terdengar.
“Seharusnya jam itu hanya berdentang setiap jam 12. Kenapa sekarang ini sudah berdentang? Ini masih jam 7,” ucap Nea kebingungan.
“Ah, itu... aku yang mengaturnya. Khusu untuk hari ini,” jawab Kayla senang.
“Apa maksudmu? Bagaimana caramu melakukannya? Itu harusnya tidak mungkin bisa diatur orang sembarangan. Dan kenapa harus jam 7? Tanya Lizza kesal.
“Caraku melakukannya itu rahasia,” balas Kayla sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir.
“Kenapa harus jam 7? Karena tepat jam 7 malam, Violet Silvero lahir ke dunia ini,” lanjutnya sambil menyeringai mengerikan.
Mendadak tubuh Lizza dan Nea terasa berat.
Seperti yang mereka rasakan 10 tahun lalu, tubuh mereka seperti digerayangi sesuatu yang aneh dan membuat mereka mulai ambruk. Pandangan mereka mulai mengabur dan rasanya sulit untuk bernapas.
“Sial! Apa yang kamu lakukan pada kami?!!” jerit Nea marah.
“Tenang saja, ini hanya obat tidur yang efek sampingnya sistem saraf kalian akan mati sementara. Tidak berbahaya kok,” balas Kayla riang.
“Sejak dulu sepertinya kamu selalu memakai cara curang ya,” sindir Lizza yang berusaha mempertahankan kesadarannya.
“Lizza! Nea!”