THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 5 (4)



Hazella mengambil pipa Nea dan mengangkatnya bersiap untuk memukul Nea yang tidak bisa bergerak. Nea menatap dengan tajam dan berusaha menghindara walau tubuhnya terlalu sakit untuk digerakkan. Namun Vio berlari ke arah Hazella dan menggelantung padanya.


"Jangan sakiti temanku!!!" marah Vio.


Hazella kesal pada serangga yang menggelantung pada dirinya dan mengangkat kerah baju Vio lalu membantingnya dengan keras sampai suara tulang patah terdengar.


"VIO!!!!" jerit Nea khawatir. "Ck sial! Tubuhku tidak bisa bergerak! Bergeraklah!! Bergerak atau temanmu akan terbunuh didepan matamu!!"


Hazella mendekat ke arah Vio yang berusaha bangkit lagi lalu menendangnya hingga berguling 3 meter dari posisi awalnya. Hazella mengangkat Vio lagi dan melihat Vio menatapnya dengan rasa marah luar biasa. Namun dia hanya menertawakannya dan melempar Vio dengan keras ke arah sebuah batu besar.


Nea yang memaksa tubuhnya bergerak menangkap Vio dengan tubuhnya dan berakhir menghentikan Vio menabrak batu namun justru dia yang menjadi samsak tubuh Vio dan membentur. Luka Nea bertambah parah dan tubuhnya gemetar hebat. Meski begitu Nea mencoba berdiri dan mengambil belati Hazella yang tergeletak tak jauh dari sana.


"Vio tidak punya pengalaman bertarung, dia hanya anak biasa. Aku harus melindunginya," pikir Nea.


"Apa yang bisa kau lakukan dengan belati tumpul itu, hah?!"ejek Hazella.


Hazella dengan cepat maju dan menyerang Nea dengan keras sampai belatinya jatuh. Nea yang sudah tidak punya senjata apa-apa dipukul dengan pipa besi, Nea menahan pipa besi itu dengan tangannya agar tidak melukai kepalanya. Pipa itu membuat tangan putih Nea mulai membiru karena lebam.


Melihat pipa besinya sudah bengkok, Hazella membuangnya dan menendang Nea hingga tersungkur. Lalu mengambil batu yang cukup besar dan berencana melemparnya ke arah Nea. Nea yang sudah tak bisa bergerak lagi hanya bisa melihat batu itu mengarah padanya.


Tapi...


TAP TAP TAP


BRUUKK!!!!


Vio berlari secepat yang dia bisa ke arah Nea dan melindunginya dari batu besar yang terlempar itu. Tapi sayang, batu itu menimpa kepala Vio dan membuatnya pendarahan dikepala lalu jatuh pingsan seketika di pangkuan Nea.


Tubuh Nea bergetar lagi, kali ini bukan karena sakit. "Vi-Vio? Hei... Vio? Bangun! Jawab aku!! Aku marah loh!! VIO!!!!" jerit Nea disertai air mata yang mengalir deras dipipinya.


"Tidak... tidak... Vio!!!! SIALAN!!! BERANI-BERANINYA KAMU MELUKAI TEMANKU!!!" marah Nea melihat keadaan Vio yang menyedihkan.


"Hahahaha, memangnya kenapa? Justru bagus kalau dia mati, penghalang terbesar profesor akan menghilang," tawa Hazella.


Nea menatap tajam Hazella dengan rasa haus darah luar biasa. Walau cuma sebentar, Hazella dibuat merinding melihatnya. "Ck! Kamu akan segera menyusul temanmu itu," kata Hazella sambil bersiap melempar batu lainnya.


Batu itu lagi-lagi terlempar ke arah Nea dan Vio. Nea berusaha berdiri untuk melindungi Vio. Namun belum sempat batu itu sampai ke Nea, batu itu sudah terbelah menjadi beberapa bagian. Sebuah siluet gadis dengan pedangnya muncul bersamaan dengan suara burung berkicau.


"Hahaha... kamu kemana saja, bodoh!" tawa Nea lega.


"Maaf aku terlambat. Nea tolong beri Vio pertolongan pertama. Aku akan mengurus jala*g sialan yang berani-beraninya melukai sahabatku," marah Lizza.


Sebuah angin mendadak berhembus dengan keras. Aura Lizza yang sebelumnya kuning terang mendadak berubah menjadi merah gelap. Bukan hanya Nea yang bisa melihat Aura, Hazella juga ikut merasa melihat sesuatu yang gelap terpancar dari tubuh Lizza.


"Bukan hanya melukai kedua sahabatku, kamu juga berani menyamar menjadi diriku demi membunuh mereka? Aku bukan orang yang suka main hakim sendiri dan aku adalah orang yang cukup penyabar. Tapi... sekarang aku benar-benar ingin membunuhmu!!!"


Lizza dengan cepat sudah berada di belakang Hazella, Hazella bahkan tidak menyadarinya. Saat dia menyadarinya, Lizza sudah mengangkat pedangnya.


"Tamashi no ken, nana banme no sutairu. Eien no surasshu!!" ( Pedang jiwa, jurus ke tujuh. Tebasan abadi ). Sedikit informasi, saat berlatih kendo guru Lizza adalah orang jepang asli dan keturunan samurai.


Banyak tebasan pedang muncul dalam waktu singkat, bahkan sebelum Hazella bisa menghindar, seluruh tebasan itu sudah melukai dirinya. Wujud Hazella kembali ke dirinya yang asli. "Sial! Aku harus melakukan sesuatu pada monster itu," pikir Hazella.


Tapi lagi-lagi, sebelum Hazella berubah ke wujudnya yang lain. Lizza sudah menyerangnya tanpa henti dengan pedangnya. "Ini bukan pertarungan... Ini pembantaian satu sisi," gumam Nea saat melihat mereka. Nea sudah selesai membalut luka Vio dengan merobek bajunya sendiri, namun karena tidak ada pengobatan yang layak, wajah Vio memucat dan membuat Nea semakin panik.


Tidak butuh waktu lama sampai Hazella benar-benar sekarat karena ulah Lizza. Saat dia sudah terluka terlalu banyak. Lizza menggeretnya dan mengikatnya di tiang penyangga kuil. Lalu menatapnya tidak puas, Lizza berjalan ke arah kedua sahabatnya dan menggendong Vio untuk tiduran di kuil dan membopoh Nea agar bisa duduk di teras kuil.


"Aku kagum kamu tidak membunuhnya," kata Nea tersenyum.


"Aku masih belum ingin jadi seorang pembunuh. Dan lagi... kita masih harus mengorek informasi darinya bukan?" jawab Lizza.


Lizza diam menatap Vio dengan perasaan bersalah. Dia terus menyalahkan dirinya karena datang terlambat, namun Nea berusaha membuatnya tidak memikirkan itu karena berkat Lizza, mereka masih hidup sekarang. Lizza hanya mengangguk sedih mendengar Nea.


"Yang lebih penting sekarang adalah kita harus mengobati Vio secepatnya, dia tidak bisa dibiarkan begini," kata Nea sedih.


"Kamu benar, tapi bagaimana caranya... obat-obatan di Villa terbakar habis, dan kapal masih akan datang 4 hari lagi. Sial!!" kesal Lizza.


Tapi tidak lama setelah dia mengucapkan itu, terdengar suara yang membuat mereka senang. Itu adalah suara Tikara yang datang menjemput mereka. Tikara lari ke arah mereka secepat yang dia bisa. Pada awalnya wajahnya senang karena mereka bertiga masih ada di sana, namun ekspresi itu berubah drastis setelah melihat adiknya dalam kondisi buruk.


Vio pingsan karena pendarahan dikepala, rambutnya berantakan dan darah terciprat kemana-mana. Bajunya yang cantik jadi rusak dan sobek-sebek, kulitnya yang halus dipenuhi luka memar dan lebam. Dia tidak tahan melihat kondisi adiknya.


"VIO!!! Apa yang terjadi padanya?!" tanya Tikara panik.


Lizza dan Nea hanya diam dan memasang wajah bersalah, Tikara mulai memperhatikan bahwa bukan hanya adiknya yang terluka. Nea juga mengalami luka yang banyak walau tidak separah Vio. Lalu di sekitar sana ada seorang wanita penuh luka pedang sedang terikat. Mau dipikir bagaimana, Tikara tidak bisa menemukan jawabannya. Dia terlalu panik untuk berpikir jernih sekarang.


"Untuk sekarang... Ayo kita berkumpul dengan yang lain, Reva dan Kayla harusnya sudah memanggil kapal untuk menjemput kita sekarang. 3 jam lagi mungkin sudah akan sampai. Sampai kapal datang dan bisa membawa kalian ke rumah sakit, aku akan memberi pengobatan yang lebih layak di Villa. Syukurlah aku membawa kotak obat sendiri di tas," kata Tikara mencoba membuat keputusan sebaik mungkin.