
"A... apa yang terjadi barusan?" tanya Reva bingung.
"Dilihat dari keadaannya, sepertinya Lizza yang tadi bersama kita di kuil bukan Lizza yang asli. Ini mirip cerita Lizza kemarin malam," bisik Kayla di telinga Reva.
"Eh? Tadi Lizza ada di kuil-kan? Kenapa mendadak bisa ada disini? Dia juga kaget tadi," tanya Tikara. Reva dan Kayla panik mendengarnya, mereka tidak boleh membiarkan guru mereka tau lebih banyak. Jadi mereka tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya... yang lebih penting lagi, bukankah kita harus melakukan sesuatu tentang teman sekelas ini, bu guru? Lizza pasti pergi ke tempat Vio dan Nea, jadi tak perlu khawatir," balas Reva mengalihkan perhatian.
"Kamu benar juga,"
Tikara segera masuk dan menenangkan murid-muridnya yang lain. Seperti halnya Lizza, si kembar juga menanyai apa yang terjadi pada mereka dan memperoleh jawaban yang sama juga. Setelah berdiskusi cukup lama, mereka memutuskan untuk kembali ke pantai dan menghubungi kapal mereka agar menjemput mereka lebih cepat. Memang menyebalkan, tapi tidak ada satupun anak yang mau berada lebih lama di pulau itu.
Mereka keluar ruangan dan mendapati sebuah tangga kayu yang cukup lebar, setelah menaiki itu mereka bisa tau bahwa mereka berada di suatu gudang makanan. Ruangan di atas tangga berisi rak-rak dengan makanan kaleng dan botol anggur dimana-mana. Suhu di sana juga cukup rendah, namun tetap tidak sedingin kulkas.
Tempat mereka di kunci tadi sepertinya adalah tempat pembuatan minuman anggur dari buahnya, karena setelah cahaya masuk mereka bisa melihat tumpukan tangkai anggur dan beberapa tong untuk menghancurkan anggur itu. Alasan ada pedang disana tidak diketahui, mungkin untuk alat pertahanan diri atau semacamnya, mengingat di Villa juga ada banyak senjata kuno.
"Bu Tika! Tolong ibu bawa teman-teman yang lain pergi ke Villa. Aku dan Kayla akan menyusul Lizza dan membawa mereka ke Villa juga," ucap Reva.
Tikara sedikit ragu untuk menyetujuinya, bagaimanapun Vio itu adiknya. Sejak insiden 10 tahun lalu, keluarga Silvero benar-benar menjaga Vio dengan ketat. Kekhawatirannya pada adiknya juga semakin mengganggu hatinya.
"Maaf... aku tidak bisa mengizinkan itu. Kalian pergi bersama yang lain ke Villa, biar aku yang menjemput tiga anak itu," balas Tikara.
"Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapian, aku tidak ingin lebih banyak anak terpisah lagi. Jadi kalian dengarkan aku dan pergi ke Villa saja!" suruh Tikara.
Walau sedikit enggan karena merasa melewatkan sesuatu yang menarik, tapi Reva menggangguk dan pergi bersama Kayla dengan teman sekelas yang lain. Setelah murid-muridnya itu hilang dari pandangannya, Tikara segera pergi ke kuil melalui jalan yang tadi. Sebenarnya jalan di dalam lukisan bercabang menjadi dua, satu arah menuju kuil dan arah lainnya menuju gudang makanan itu.
Tanpa menunggu lebih lama Tika segera berlari secepat yang dia bisa. Karena dari tadi, dia punya firasat yang sangat buruk. "Kenapa dari tadi perasaanku nggak enak ya, seolah aku merasa... aku melewatkan sesuatu yang penting dan karena itu Vio bisa dalam bahaya."