
"Dipaksa?"
"Ya, karena Tika adalah teman baikku saat itu, aku tanpa ragu memberitau alasan yang sebenarnya padanya tanpa tau bahwa itu akan membahayakannya. Alasanku membunuh para Livvy meski aku juga adalah Livvy karena itu adalah misiku. Bahkan meski aku tidak ingin, misi ini tidak boleh di abaikan kalau aku tidak ingin nyawaku dan nyawa adikku hilang begitu saja."
"Adikmu? Kamu punya adik?" tanya Lizza.
"Punya loh, orang tua kami bercerai jadi nama keluarga kami berbeda. Tapi kamu pasti mengenal adikku, dia adalah Aliyana Edless," balas Hazella.
"EH?!!!!! LIYA ITU ADIKMU?" kaget Nea dan Lizza.
"Bukankah keluarga Silvero dan Edless itu berteman baik sejak dulu? Kenapa kak Tika dan Vio tidak mengenalmu sebelumnya?" tanya Lizza.
"Ya karena Lili ikut ibuku dan aku ikut ayahku, ibu menikah dengan ayah Lili beberapa tahun yang lalu. Oleh sebab itu marga Lili dan ibu berubah jadi Edless," terang Hazella santai.
"Baiklah kembali ke topik. Saat itu aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah profesor untuk membunuh semua Livvy yang ada. Lalu alasan kenapa Livvy harus dibunuh itu sedikit rumit. Kita loncati itu dulu..."
"Ya jangan dong! Penting itu!"
"Setelah aku menjelaskan alasannya pada Tika dan Viqi, Tika jadi lebih tenang dan mengajakku untuk membicarakan ini dulu dengannya dan tidak langsung mencoba membunuh Viqi, aku iyain saja dan kami mengobrol sebentar."
"Tunggu! Bagaimana dengan alasan cemburu pada si Viqi itu? Katamu kamu begitu ingin membunuhnya saat itu," sela Nea.
"Tapi profesor selalu selangkah lebih depan dari kami, bahkan ponselku ditemukannya adalah bagian dari rencananya. Profesor dari awal sudah merencanakan untuk menghancurkan hatiku agar menjadi mesin pembunuh yang sempurna. Dia meleponku dan mengatakan bahwa dia menyandra adikku. Jeritan kesakitan Lili karena disiksa olehnya terdengar sangat jelas di telepon. Aku benar-benar putus asa agar dia berhenti menyakiti adikku karena dialah keluargaku satu-satunya, mengingat ayahku membuangku dan ibuku sudah meninggal."
"Profesor memberiku pilihan, pertama lakukan misiku tanpa perlawanan atau kedua, mati saat itu juga bersama adikku. Aku tidak masalah jika harus mati, tapi aku tidak akan membiarkan adikku terluka karenaku. Saat itu Tika dan Viqi tidak mendengar pembicaraan kami dan membiarkan punggungnya terbuka begitu saja. Jadi di saat mereka lengah, aku mendorong mereka dengan putus asa ke jurang itu. Dan... dipaksa membunuh seorang salah satu teman baikku saat itu benar-benar menghancurkan kemanusiaan dalam diriku. Sejak itu aku menjadi seperti yang diharapkan profesor. Seorang pembunuh berdarah dingin dengan puluhan korban."
"Ah, omong-omong... sepertinya Akasia melihat kejadia saat aku mendorong Tika dan Viqi ke jurang. Dia tidak bisa mengatakannya secara terang-terangan jadi dia membuat petunjuk dalam bentuk lukisan itu. Entah kenapa profesor tidak membunuhnya, mungkin agar terjadi sesuatu yang menarik. Atau mungkin karena umurnya memang tidak panjang, tapi anehnya profesor tidak membakar lukisan itu meski tau itu berbahaya," kata Hazella lagi.
"Setelah itu Viqi jatuh ke bebatuan runcing dan Bu Tika ke laut ya," ucap Nea.
"Tidak, kamu salah. Kejadian yang sebenarnya bukan begitu," balas Tikara. "Eh?"
"Saat itu... akulah orang yang jatuh ke bebatuan runcing sementara Viqi jatuh ke laut. Darah mengalir keluar dari kepala dan perutku, aku hampir mati jika... jika... jika Viqi tidak menyelamatkanku. Viqi itu, meskipun tubuhnya dingin karena air laut dan penyakitnya mulai kambuh... dia memaksakan dirinya untuk menolongku dan memindahkan lukaku pada dirinya, aku sudah mencoba menghentikannya tapi suaraku tidak mau keluar."
"Viqi yang menanggung luka menggantikanku... tewas saat itu juga. Tapi aku... justru melupakan semua kebaikannya dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa," kata Tikara, mulutnya bergetar dan air mata keluar deras. Hatinya sakit mengingat kejadian itu dan dia masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Yah kamu tau kejadian selanjutnya, Tika hilang ingatan dan tidak ingat apapun selama 1 tahun itu. Termasuk kepindahanku ke kelasnya 6 tahun lalu, itulah kenapa dia tidak mengingatku. Karena Tika tidak punya ingatan apapun, aku memohon pada profesor untuk melepaskannya dan dia setuju dengan syarat. Sejak itu, aku tidak pernah berniat memunculkan diriku di hadapannya lagi dan mengganggu hidupnya. Tapi itu mustahil karena targetku yang lain adalah murid dan adiknya sendiri. Maaf... sebenarnya aku juga tidak mau membunuh Vio dan kalian, aku punya adik. Jadi aku mengerti perasaan sayang pada adik sendiri." Hazella yang merasa bersalah menundukkan kepalanya dengan wajah menyesal.
"Hahh~ Aku tau itu," balas Tikara. "Aku memang belum memaafkanmu karena membunuh Viqi dan berusaha membunuh Vio. Tapi mataku masih bisa melihat kebaikan hatimu. Kalau kamu serius membunuh Vio sejak awal, Vio harusnya sudah lama mati tanpa bisa melakukan perlawanan."
"Ukhh... aku benar-benar minta maaf."