THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 5 (3)



"Aku tidak perlu menanyakan keberadaan Lizza asli, soalnya Nea sepertinya sudah tau. Lalu, siapa kamu sebenarnya? Apa masih harus menanyakan itu? Setelah kamu mengatakan kalau kamu bukan Viqeuilan Dangela, maka sudah jelas kamu itu siapa. Karena kamu adalah..."


"Hazella Breckforst. Apa aku salah?" ujar Vio.


Hazella tersenyum lebar. "Seperti yang diharapkan dari adik perempuan Tika, kecerdasanmu tidak bisa diremehkan. Bagaimana kamu bisa tau kalau aku adalah Hazella? Bukankah bisa jadi aku adalah Yurio atau Akasia?" pancingnya.


"Tidak mungkin kamu adalah mereka. Kemarin malam sampai pagi ini, Pak Yurio sedang minum-minum dengan guru lain. Sedangkan Akasia... melihat dari apa yang terjadi sampai sekarang, sepertinya dia sudah tau kebenarannya dan berusaha menunjukkannya secara tersembunyi. Yang membuatku penasaran adalah... Kenapa kamu tidak membunuhnya? Bukankah harusnya mudah untukmu melakukan itu, kecuali... jangan bilang kamu jatuh cinta padanya atau semacamnya," ejek Vio.


"CUKUP!!! Kamu sudah kelewatan bocah!!" jerit Hazella marah.


"Ya seperti katamu, aku jatuh cinta pada Akasia. Sejak dulu saat masih SMA aku sudah menyukainya... tapi, si jala*g itu!!! Dia mencuri Akasia dariku sejak pertama kali bertemu,"


Vio hanya menatapnya dengan tatapan merendahkan. Membunuh orang karena cemburu, alasan yang rendahan. Terlebih lagi dia berani melibatkan Tikara, membuat hati Vio tambah panas menahan amarah.


"Hanya karena alasan itu kamu membunuh seseorang? Bodoh sekali," sindir Vio.


"Bocah! Kamu tau apa? Tentu saja aku tidak akan membunuhnya hanya karena alasan itu. Aku beruntung, karena dia adalah Livvy jadi aku bisa membunuhnya," katanya sambil tertawa lebar.


"JADI KARENA DIA LIVVY KAMU BISA MEMBUNUH ORANG SEENAKNYA?? APA KAMU TIDAK PAHAM BETAPA BERHARGANYA NYAWA SESEORANG??!!!"


Kesabaran Vio sudah habis, dia tidak bisa lagi tetap bersikap tenang dan menahan diri lagi. Nea hanya diam melihat sahabatnya bertindak sendirian. Dia bukannya tidak peduli atau tidak mau membantu, tapi dia diam memperhatikan dan mencari celah musuh. Karena musuh bukan lawan yang mudah dihadapi.


"Hei! Daritadi kamu bicara soal Livvy terus, bukannya kamu juga seorang Livvy?" kata Nea masuk ke percakapan.


"Hoo, akhirnya kamu mengatakan sesuatu. Benar, aku juga seorang Livvy. Tapi aku berbeda dari kalian, aku adalah produk gagal yang tidak bisa berevolusi dan membebaskan diri dari bom sialan itu," jawab Hazella.


"Evolusi? Bom? Apa yang dia bicarakan sebenarnya?" pikir Vio dan Nea.


"Lalu... 38 orang yang terbunuh tanpa jejak itu, apa kamu yang membunuhnya?" tanya Nea sambil memasang wajah serius.


"Baiklah, cukup basa-basinya. Tidak ada gunanya memberitau lebih banyak pada orang yang akan mati," lanjutnya.


Tepat setelah mengatakan itu, Hazella bergerak dengan cepat ke arah Vio dan Nea lalu menggunakan belatinya untuk menusuk Nea. Tapi refleks Nea yang cepat berhasil menyelamatkannya. Dia menghindari itu dengan mudah.


"Bagaimanapun Nea itu agen terlatih sih ya," pikir Vio.


Nea melakukan roll depan dan mengambil pipa yang tak jauh darinya sebelum Hazella menyerangnya lagi.


TANGG!!!!


Suara besi bertubrukan terdengar. Hazella terus menerus menyerang Nea namun Nea selalu berhasil menangkisnya. Vio tidak hanya diam melihatnya, dia mencari sesuatu disekitarnya untuk membantu Nea.


"Huh! Bukannya kamu bisa menghipnotis orang juga? Kenapa tidak menghipnotis aku atau Vio," ejek Nea. "Jangan bilang... kamu tidak bisa melakukannya-kan," Nea berusaha memprovokasi Hazella untuk membuatnya melupakan Vio.


"Itu benar, kemampuanku tidak berguna melawan Livvy yang lain. Tapi kenapa? Begini-begini aku juga seorang Assassint," balas Hazella. "Trik murahan seperti menyerangku dari belakang tidak akan berguna."


Vio berada tepat dibelakang Hazella sambil membawa batu besar di tangannya, namun Hazella menyadari keberadaannya dan menyandung kakinya sehingga Vio menjadi oleng dan jatuh. Nea menggertakan giginya, dia tidak bisa bertahan terus-menerus.


Hazella berubah wujud menjadi seorang pria bertubuh besar dan membuat kekuatannya bertambah. Nea berkali-kali didesak mundur, namun dia masih bisa berdiri dan berusaha melawan balik. Dia berhasil membuah Hazella menjatuhkan belatinya dan menyerangnya dengan pipa. Tapi berkat perubahan wujud Hazella, dia tidak banyak terluka.


Justru pipa Nea dipegang dengan tangan besarnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Nea yang memegang erat pipanya ikut terangkat, Hazella lalu melayangkan tinjunya tepat ke rusuk Nea dan membuatnya terpental beberapa meter.


"UHOOK!!!" Nea memuntahkan darah dari mulutnya karena dia dipukul keras dan tubuhnya menabrak batu. Tubuhnya gemetar hebat karena sakit tapi dia masih bisa tersenyum sinis. "Bukankah kemampuanmu terlalu curang? Sampai kemampuan fisik penggunanya juga didapatkan," kata Nea.


"Itu tidak ada apanya daripada kemampuan kalian, sekarang aku bersyukur hanya kamu yang mengingatnya," balas Hazella tersenyum mengejek.


"Kalian? Apa Vio juga punya?"