
VIO POV
"Vio? Jangan melamun, nanti kutinggal lo," ucap Lizza.
"Ah, maaf. Tadi aku memikirkan sesuatu, tunggu! Sejak kapan Nea hilang?" tanyaku.
"Hahh, kamu sih. Tadi kan Nea suruh kita ikutin dia kembali ke yang lain, ayo cepat!"
"Baik, tunggu... jangan cepat-cepat!"
Lizza sudah hilang dari pandanganku. Anak ini! Larinya cepat banget, sudah tau aku kurang atletik. Biarlah, ayo cepat kembali ke kakak. Urusan Nea disimpan dulu.
Semakin lama aku berjalan, langkah kakiku semakin cepat. Sial! Kenapa dari tadi perasaanku tidak enak. Semoga tidak terjadi apa-apa disana. Begitu sampai disana, sebuah pemandangan buruk terlihat dimataku.
Apa yang terjadi? Kenapa semua orang saling menyerang satu sama lain? Ini sweater dan HP Lizza! Kenapa bisa ada disini? Dimana Lizza dan Nea? Uhh, inilah kenapa aku benci firasatku yang tak pernah meleset ini. Tidak, ini bukan saatnya termenung disini. Aku harus menghentikan mereka.
Aku melingkarkan sweater Lizza seperti sabuk dipinggangku lalu segera menghampiri orang terdekat dariku. Mereka... Liya dan Aini?
"Liya! Hentikan! Kenapa kamu memukul Aini?" tanyaku pada Liya yang membawa tas besar. Dia mengayun-ayunkan tas itu padaku sebagai gantinya. Walau kurang atletis, aku cukup pandai menghindar, jadi tidak satupun serangan itu mengenaiku.
BRUUUUK!!!
Kepalaku... sakit, kutolehkan kepalaku untuk mencari tau siapa yang memukulku. Sepasang gadis kembar membawa cabang kayu yang cukup besar. Setelah mereka memukulku, mereka tersenyum puas. "Reva! Kayla! Kenapa kalian melakukan itu?" marahku.
Mereka hanya tersenyum dan berlari menjauh dariku dengan tawa mereka. Pandanganku sedikit nge-blur karena pukulan itu. Semakin lama kepalaku semakin sakit. Tapi tak berhenti sampai disana, Liya dan Aini mengerubungiku dan memukulku dengan tas mereka. Tidak sesakit pukulan si kembar yang memakai kayu sih, tapi tetap saja sakit.
"SUDAH CUKUP!! ITU SAKIT TAU, KENAPA SIH DENGAN KALIAN?" jeritku marah. Batas kesabaranku sudah habis, mana ada orang yang sabar-sabar saja dipukuli begitu. Seakan tidak mempedulikanku, Liya dan Aini hanya memandangku dengan mata mereka yang seperti ikan mati.
Aku tau ada yang salah dengan mereka semua, tidak mungkin mereka saling memukul begitu saja. Apalagi kalau melihat mata mereka, mereka seakan tidak sadar. Seperti sedang dikendalikan saja, tapi kenapa?
Liya dan Aini menjauh dariku, aku mencoba berdiri tapi tubuhku oleng. Akhirnya kupilih duduk dan istirahat sebentar. Kualihkan fokusku pada teman sekelas yang lain. Mereka masih saling memukul hingga memar-memar. Ini gawat! Kalau tidak kuhentikan akan berbahaya, tapi bagaimana cara menghentikannya?
Kebakaran villanya baru saja padam, tapi sudah ada masalah lain. Seolah-olah ini sudah direncanakan sebelumnya. Bukan! Ini pasti sudah direncanakan, siapapun itu dia membuat semua orang berkumpul disatu titik, lalu membuat mereka saling menyerang. Pikirkan Vio! Kenapa orang itu membuat kita saling menyerang, lalu kenapa aku tidak terpengaruh?
Bahkan jika ada yang tidak terpengaruh, dia pasti akan memilih tetap disini dan membantu atau pergi dan berlindung. Saat berlindung, orang pasti akan menghindari masuk ke villa yang baru saja terbakar, jadi kemungkinan pelaku saat ini berada di villa atau ditempat sekitar itu. Bagus, sekarang aku harus menemukan pelakunya. Sebelum itu...
"Aku benar-benar tidak bisa membiarkan mereka, huh," ucapku memandang teman sekelasku. "Untung saat keluar, aku membawa obatku,"
Kukeluarkan sebuah botol kecil berisi tablet dari kantungku. Ini adalah obat penahan rasa sakit, setiap kali aku ingin Litt keluar aku akan memakan obat ini dulu. Jadi aku bisa menahan rasa sakit dari keluarnya Litt dan tidak pingsan. Kalau aku pingsan akan gawat nanti, karena tidak akan ada yang bisa menghentikannya.
Setelah memakan obatku, perasaan aneh mulai menggerayangi tubuhku.
Senyuman Litt membuatku sedikit merinding. "Terserah apa katamu, apa kamu bisa menghentikan mereka?" tanyaku sambil menunjuk teman sekelasku.
"Tidak! Kamu tidak boleh membunuh mereka, hanya hentikan saja mereka."
Aku benci mengakuinya, tapi Litt benar. Aku yang sekarang tidak bisa melakukan banyak hal tanpa bantuannya. Mau bagaimanapun, Litt tetap adalah separuh diriku. Tidak ada manusia yang bisa hidup hanya dengan separuh tubuh dan jiwa saja.
Sesaat, Litt mengambil kontrol tubuh. Walau satu tubuh, tidak sepertiku Litt benar-benar atletis. Dengan cepat dia menangkap satu per satu teman sekelasku dan mengikatnya dengan tali ke pohon-pohon disekitarnya. Setelah dia selesai, Litt mengatakan sesuatu.
Litt benar, Kak Tika tidak ada disana. "Apa dia tidak terpengaruh dan pergi ke suatu tempat?"
"Ah, benar. Ini bekas gesekan benda yang dibawa manusia, pasti bendanya diangkat. Dan kalau beratnya sekitar 50 kg, artinya seharusnya apapun itu lebih berat lagi. Tidak salah lagi, ini manusia. Sesuatu yang digeret ini pasti manusia,"