
Trio Vilian berlari secepat yang mereka bisa ke Villa, setibanya mereka disana mereka dikejutkan dengan sesuatu hal. Orang-orang yang Litt ikat di pohon tidak ada dimana-mana. Namun, sekarang bukan waktunya untuk mereka memikirkan teman sekelasnya, karena ada hal yang lebih penting untuk di urus.
Jejak yang Vio dan Litt temukan masih ada disana, jadi tanpa basa basi mereka mengikutnya dan sampai ke depan lukisan. Seperti yang Vio katakan sebelumnya, lukisan itu tidak bisa dibuka paksa. Darah yang tadi sudah lama mengering, dan Nea melakukan observasi menyeluruh tentang itu.
"Dilihat dari kondisinya, sepertinya waktu darah itu mulai jatuh dan menciprat adalah sekitar 3 jam yang lalu. Dengan kata lain, saat setelah kebakaran," terang Nea sambil menyentuh bekas darahnya.
"Apa tidak ada cara lain untuk membuka lukisan ini?" tanya Vio cemas. "Kalau kita terlalu lama, siapapun yang ada di dalam bisa mati kekurangan darah,"
"Kamu benar, aku juga khawatir mengingat lokasi Bu Tika tidak diketahui," ucap Lizza.
Nea menghembuskan napas panjang dan menutup matanya sejenak lalu berpikir. Yang Vio pikirkan saat melihat itu adalah bahwa Nea semakin lama semakin mirip agen kepolisian. Apalagi hal-hal yang Nea lakukan itu tidak normal untuk anak SMA biasa.
"Satu-satunya yang bisa kita lakukan sekarang adalah mencari petujuk apapun yang ada di Villa ini sambil menunggu si kembar membawa 'kunci'nya," kata Nea setelah membuka mata.
Merekapun berpencar sementara mengelilingi Villa. Vio mencari di lantai atas, Lizza di lantai bawah dan Nea pergi ke dapur untuk melihat tempat pembakaran.
"Tidak ada sesuatu yang mencurigakan disini, hanya kamar-kamar biasa. Apa aku bisa menemukan sesatu yang berguna disini? Huft... disaat seperti ini aku benar-benar berharap Litt ada disini membantuku, walau kita ini satu orang tapi entah kenapa Litt jauh lebih cerdas dariku. Meski otaknya agak geser... tapi dia sangat cerdas," gumam Vio pada dirinya sendiri.
Tanpa Vio sadari, seseorang selalu mengamati dirinya dari dalam. Ya, seseorang itu adalah Litt. Vio hanya beranggapan bahwa Litt memiliki ingatannya, hanya itu. Tapi sebenarnya tidak begitu. Saat kontrol tubuh ada pada Vio, dalam pandangan Litt dia seperti sedang menonton sebuah film. Jadi dia sebenarnya selalu memperhatikan Vio.
~Alam Bawah Sadar Violet~
"Anak itu... sekarang masih terlalu naif. Tapi ini belum waktunya aku untuk keluar, kalau hanya kejadian di pulau ini, Vio pasti bisa mengatasinya sendiri asal dia memutar otaknya," kata Litt sambil tiduran dan memakan snack ( hanya imajinasi ).
"Yang jadi masalah sekarang adalah wanita itu, dulu 'kami' bisa mengatasinya tapi entah apa sekarang mereka bisa," lanjutnya.
"Yah... walau aku benar-benar ingin keluar atau setidaknya memberi lebih banyak petunjuk untuk adik kecilku ini, tapi aku tidak bisa melakukannya. Ini harus bisa di atasi Vio sendiri demi pertumbuhannya. Dia tidak bisa selamanya naif, lagipula dia juga adalah aku,"
"Apa yang harus aku lakukan sekarang adalah menyusun rencana dengan segala kemungkinan bahkan hingga yang terburuk agar hal itu tidak terulang lagi. Kalau bisa aku tidak ingin Vio mengalami kejadian mengerikan yang mengguncang mentalnya, tapi itu akan sangat sulit sejak dia adalah aku," kata Litt mengakhiri komentarnya.
Sementara itu, Vio sudah selesai mengecek hampir seluruh ruangan di lantai atas kecuali sebuah ruangan yang terkunci oleh gembok besar. Dilihat dari pintunya, maka sangat jelas kalau itu adalah sebuah kamar seorang gadis. Walau sedikit tua, tapi kesan feminim dipintu itu masih terasa. Vio menyeringai lebar, "Disaat seperti inilah kemampuanku berguna... hahaha," jeritnya seperti orang jahat.
Vio mengambil jepit rambut dari sakunya dan mulai mengotak-atik gembok itu. Dia sudah terbiasa membuka gembok yang terkunci demi melarikan diri dari rumah untuk bermain. Ya, Vio yang dulu adalah anak yang sangat tomboy. Pada awalnya karena kesal anak keduanya terlalu sering keluar untuk bermain, Nyonya Silvero ( Ibu Vio ) mengunci gerbang depan dengan gembok. Namun Vio memanjat pohon dekat situ dan berhasil keluar, saat pohonnya ditebangpun Vio membuat lubang yang mengarah ke luar. Sejak itu halaman rumah Silvero di aspal, meski begitu lagi-lagi Vio berhasil kabur.
Segala cara telah dilakukan Nyonya Silvero hingga akhirnya Vio kehabisan akal untuk kabur. Tapi yah... mengingat kepribadiannya, Vio tidak menyerah dan belajar membuka gembok dengan alat seadanya. Akhirnya sang ibu angkat tangan dan membiarkan Vio bermain sepuasnya, beruntung itu tak bertahan lama. Sejak memasuki SMP, Vio mulai rajin belajar dan berhasil menjadi siswa teladan seperti sekarang.
CLAAANG
Suara gembok terbuka terdengar, Vio tersenyum puas dengan hasilnya. Setelah menghilangkan penghalangnya, pintu itu dengan mudah terbuka. Di dalamnya hanya terdapat kamar anak perempuan biasa yang mulai berdebu. Selain kasur, lemari, dan meja belajar ada banyak benda-benda perempuan banget disana, seperti boneka yang ada banyak dan aksesoris imut lainnya.
Tapi diantara semua itu, hanya satu hal yang menarik perhatian Vio. Dan itu adalah... sebuah foto lama yang dibingkai cantik oleh pemiliknya. Terdapat 5 anak yang tampak bahagia di foto itu, dan dia mengenal salah satunya.
"Bukankah ini Kak Tika?" pikir Vio kaget.
"Aku tau Kak Tika pernah kesini sebelumnya bersama teman-temannya dari Nea tadi. Apa ini mereka?" gumam Vio. Vio membalik album itu, dibaliknya ada sebuah tulisan.
"Ini nama ya, kalau begitu ini benar adalah foto kak Tika dan yang lainnya," ucap Vio. Di foto itu, dari kiri ke kanan ada seorang cewek pirang cantik, cowok hitam rambut kream, cewek pirang lemah lembut, cewek rambut pirang pendek berkacamata, dan cowok rambut hitam runcing.
"Hazel itu Hazella, Aka itu Akasia, Viqi itu Viqueilan Dangela yang ada dilukisan, yang Tika itu kakak, dan cowok kanan itu Pak Yurio ya," kata Vio. "Bagus, aku harus melaporkan ini ke yang lain," lanjut Vio senang.
Vio mengambil HP nya di kantong dan menelepon Pak Yurio, wali kelasnya dulu untuk menanyakan apa mereka memang pernah datang ke pulau dan dia menjawab iya memang benar. Vio juga sempat berbasa-basi bertanya dia sedanga apa sekarang, Yurio menjawab dia sedang minum-minum dengan guru yang lain dan mengirim foto selfienya. Vio hanya tertawa melihatnya dan menutup teleponnya.
Vio segera berlari menuruni tangga dengan foto itu ditangannya, dibawah sudah ada Nea, Lizza dan si kembar. "Kamu lamu banget," gerutu Lizza.
"Maaf, maaf. Jadi apa kalian menemukan sesuatu," tanya Vio dengan cengirang lebar.