
[ Permisi, minta perhatiannya sebentar. Chapter Prolog nya kehapus :") jadi aku gak bisa ngedit prolog. Beberapa hari ini aku baru sadar kalau tebal miring kata gak ikut ke copy dari word. Jadi harus ku edit manual. Tapi bagian prolognya mustahil ku edit karena hilang :") Jadi aku bakal upload ulang prolog di bab ini, tentu saja bab 1 nya tetep ada. Jadi yg gak mau baca ulang tinggal scroll sampai muncul aja bab 1 nya ]
PROLOG
“Murid pindahan?” tanya seorang gadis.
“Ya, aku dengar kabar kalau kelas kita akan kedatangan seorang murid pindahan,” jawab gadis lainnya bersemangat.
“Seorang murid pindahan... ini aneh, padahal hanya tinggal sebulan lagi sampai kelas kita pergi piknik. Tapi tiba-tiba ada murid pindahan, bukannya itu aneh Lizz?” tanyanya lagi.
“Vio... vio... bukannya itu bagus? Jadi si murid baru bisa ikut piknik-kan? Kamu terlalu curigaan ah,” jawab gadis bernama Lizza.
Vio masih curiga dengan kejadiaan tiba-tiba ini, tapi dia memilih untuk tidak membahasnya lagi, sahabatnya Lizza hampir tidak menaruh curiga pada itu jadi dia akan diam saja. Murid satu kelas sedang membahas seperti apa murid pindahan itu. Para laki-laki berharap kalau murid pindahannya adalah seorang gadis cantik, sebaliknya para perempuan berharap kalau murid pindahan itu adalah seorang pria tampan.
Namun tidak seperti yang mereka harapkan, seorang gadis yang suram memasuki ruang kelas dengan guru mereka. Rambut gadis itu hitam panjang dan poninya menutupi mata kanannya. Wajahnya sangat pucat, satu-satunya hal yang cantik darinya hanyalah mata kirinya yang berwarna biru laut.
“Baiklah anak-anak, dia akan menjadi keluarga baru kita dikelas ini. Silahkan perkenalkan dirimu,” pinta Bu Tika sambil tersenyum ramah.
“Namaku Jeannea Bluonna,” katanya singkat.
Satu kelas hening, menunggu kata-kata selanjutnya dari murid pindahan itu. Tapi dia tidak mengatakan apapun lagi. Untuk memutus keheningan, Bu Tika lah yang banyak berbicara didepan kelas.
“Baiklah, cukup sekian. Ketua kelas!” panggil Bu Tika.
“Ah, iya kak,” jawab Vio cepat.
Violet Silvero adalah anak kedua dari keluarga Silvero, keluarga yang cukup terkemuka di negeri itu. Dia adalah anak yang sangat cerdas dan cantik, penampilan yang anggun dengan rambut pirang panjang dan mata birunya membuatnya seperti malaikat.
Kakak perempuannya, Tikara Silvero saat ini adalah wali kelasnya. Selain sebagai guru, Tikara ( Bu Tika ) juga adalah seorang peneliti hebat di sana. Dia sudah sangat sukses di usianya yang masih muda, yaitu 22 tahun. Sebagai adiknya, Vio sangat cerdas dan selalu peringkat satu di generasinya, dia juga adalah seorang anggota Osis di sekolahnya.
Violet juga punya seorang adik laki bernama Lilviar Silvero yang saat ini tengah berada dibangku SMP, seperti kedua kakaknya Lilvi juga sangat cerdas dan sudah banyak memenangkan penghargaan di sekolah. Itu adalah profil singkat tentang Vio.
“Tolong nanti saat istirahat kamu antar Jeannea keliling sekolah. Dan... sudah kubilang berapa kali, kalau disekolah panggil aku Bu Guru!” marah bu Tika.
“Baik, baik, jangan marah-marah terus. Nanti cepat tua loh,” ejek Vio.
“VIO!!!” jerit bu Tika diikuti gelak tawa satu kelas. Walaupun sangat pintar, Vio anaknya sering bercanda dan mudah bergaul, jadi tidak heran kalau temannya sangat banyak. Tapi diantara mereka semua, Lizza adalah sahabat baiknya.
“Hahh! Baiklah, Jeannea kamu bisa duduk di sana,” kata bu Tika sambil menunjuk sebuah bangku kosong di belakang. Jeannea mengangguk lalu jalan perlahan ke arah bangku itu sambil melirik-lirik dan melihat satu kelas.
Saat akan melewati bangku Vio, Jeannea berhenti sejenak dan bergumam pelan. “Auramu... benar-benar aneh, hitam tapi juga putih,” gumamnya.
“Aura? Apa yang anak ini bicarakan?” kata Vio dalam hati. Waktu terus berlalu dan tak terasa waktu istirahat telah tiba. Vio dan Lizza mendekati meja Jeannea, lalu mengajaknya bicara.
“Perkenalkan namaku Violet Silvero, ketua kelas disini. Kamu boleh memanggilku Vio. Seperti kata Kak Tika tadi, aku akan mengajakmu keliling sekolah,” kata Vio ramah walau masih menyimpan sedikit kecurigaan.
“Kalau Vio ketuanya, maka aku adalah wakilnya. Kenalin, namaku Halizza Gracesia panggil aja aku Lizza. Aku akan ikut menemani kalian keliling sekolah, tidak apa-apa kan?” tanya gadis berambut ungu pendek dengan ramah.
“Kuning terang ya,” gumam Jeannea.
“Hmm?! Maaf bisa kamu ulang?” pinta Lizza.
“Ah tidak, kamu... boleh ikut, terserah kalian saja,” jawab Jeannea agak ketus.
“Oke kalau begitu pertama-tama mari kita lihat, bukannya nama Jeannea itu terlalu panjang? Gimana kalau Nea aja?” usul Lizza seenaknya sendiri. “Nea?” tanya Jeannea kaget.
“Tentu saja, Jeannea kalau disingkat jadi Nea. Enah didengarkan?” balasnya sambil tersenyum.
“Tidak buruk, aku setuju. Kalau gitu mulai sekarang kita akan panggil kamu Nea saja. Kamu juga panggil aja kami Vio dan Lizza,” timpal Vio.
Saat itu, Nea tidak bisa mengalahkan Vio dan Lizza dalam debat itu, jadi Nea mengalah dan membiarkan mereka memanggilnya seperti itu. Setelah itu mereka bertiga keliling sekolah, berkali-kali Vio dan Lizza mengajak Nea mengobrol, namun Nea hanya diam saja dan mendengarkan.
Bagi anak-anak lain, Nea adalah anak yang aneh. Dia tidak pernah mengajak orang mengobrol lebih dulu, dia juga menghiraukan setiap anak yang mengajaknya bicara. Nea seolah olah memberi sebuah pembatas agar dirinya bisa tetap sendirian. Alhasil bahkan setelah satu bulan berlalu, tidak ada anak yang mau bicara dengan Nea.
Tidak ada... Kecuali Vio dan Lizza, mereka berdua masih tetap dan terus-terusan mencoba bicara dengan Nea walau tidak pernah dibalasnya. Namun karena kegigihan mereka, lama-kelamaan Nea pun mulai membalas mereka walau masih belum banyak berkata-kata.
“Ahh! Satu minggu lagi ya, aku nggak sabar mau berenang,” ucap Lizza.
“Laut ya... aku harus beli baju renang baru. Oh iya, Lizza! Nea! Pulang sekolah pergi ke Dapartement Store yuk!” ajak Vio.
“Baju renang? Okelah, Nea juga ikutkan?” tanya Lizza.
“Baik,”
...***...
Hari Keberangkatan
“Masuk ke bisnya satu-satu, jangan rebutan,” seru bu Tika. Saat ini kelas Vio, kelas 2-4 akan melakukan perjalanan wisata ke pulau pribadi Pak Yurio. Beliau adalah mantan wali kelas mereka di kelas 1. Pak Yurio berbaik hati meminjamkan salah satu pulau pribadinya.
“Bukankah motif pak Yurio sangat jelas, diakan terkenal suka sama kakak,” cicit Vio pelan pada Lizza dan Nea.
“Mau sok baik lah itu, wkwkwk,” kata Lizza cekikikan. Nea hanya diam mendengarkan mereka saja. Pada awalnya Vio menganggap kalau Nea adalah anak aneh yang suram dan mencurigakan, sekarang memang masih aneh tapi kesan Nea mulai meningkat. Walau aneh tapi Nea tidak jahat, justru bisa dibilang dia baik pada Vio dan Lizza. Makanya mereka berdua menyukainya.
“Bahkan sampai sekarang, aku masih tidak bisa menebak isi pikirannya,” pikir Vio.
Seluruh murid kelas 2-4 sudah masuk ke bis. Lizza duduk bersama Nea karena tidak ada yang mau duduk bersamanya. Vio sendiri duduk bersama temannya yang lain didepan Lizza. Setelah semua duduk dengan rapi, bis pun berangkat menuju ke pelabuhan.
“Vio!” panggil gadis disebelahnya.
“Hmm, kenapa?” jawab Vio setengah mengantuk.
“Kamu dan Lizza dekat dengan Jeannea ya? Kamu nggak takut sama dia?” tanya gadis itu. Gadis yang saat ini sedang berbicara bersama Vio bernama Aliyana Edless. Keluarga Silvero dan Edless adalah teman dekat, jadi Vio sudah kenal Liya sejak dia masih kecil.
“Dibilang dekat juga aku nggak tau, tapi ya... dia nggak jahat kok, jadi buat apa takut,” jawabnya sambil tersenyum tipis.
“Gitu ya, rumor tentangnya itu bisa aja salah ya,” balas Liya.
“Rumor?!” tanya Vio penasaran.
“Iya, ada sebuah rumor tentangnya. Di sekolahnya dulu tepatnya di Akademi Perempuan Valkry pernah beberapa kali muncul pembunuhan, dan katanya Jeannea terlibat dengan itu dan akhirnya dikeluarkan dari sekolah,” ucap Liya tegang.
“Ternyata ada rumor seperti itu, jelas itu salah kan? Kalau memang benar dia terlibat atau kenal dengan pelaku, seharusnya polisi menangkapnya dan bukannya dikeluarkan,” kata Vio.
“Benar juga,”
Ditengah pembicaraan mereka, dua gadis didepan mereka setengah berdiri dan menghadap ke arah mereka sambil membawa camilan ditangan.
“Apa? Apa? Kalian membicarakan apa?” tanya dua gadis itu serentak. Mereka berdua adalah si kembar dari keluarga Novalia, Revana Novalia dan Kaylana Novalia.
“Bukan apa-apa, cuma rumor Jeannea,” jawab Liya.
“Hmm, pembunuhan nih. Seru juga, bicara soal itu bukannya ada yang lebih terkenal ya. Ya kan Kayla?” tanya Reva pada adik kembarnya Kayla.
“Maksudmu pembunuh berantai itu, ini sih sudah jadi trending di internet. Pembunuhan yang sangat mulus dan rapi, bahkan polisi dan dektektif sama sekali nggak nemu bukti,” jawab Kayla sambil mengunyah camilan.
“Itu bukan hal yang pantas untuk dikagumikan?” kata Liya agak kesal.
Sementara ketiga gadis itu mengobrol, Vio sudah mulai kehilangan kesadarannya. Kemarin malam dia tidak bisa tidur karena terlalu bersemangat, jadi sekarang dia sangat mengantuk dan akhirnya tertidur dengan wajah menyandar di jendela bis.
...***...
VIO POV
“Tidak!!! Jangan lakukan itu!!! Aku akan mengikuti permintaanmu, jadi... jadi tolong lepaskan teman-temanku!” Seorang gadis menjerit terisak-isak dihadapan seseorang. Siapa itu? Kenapa wajahmu begitu kesakitan? Apa yang terjadi?
Gadis itu lagi-lagi berteriak kencang, kali ini diiiringi amarah. Aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan. Beberapa tubuh yang mengkin kukenal terbaring tak jauh dari gadis itu, mereka penuh dengan luka dan darah. Beberapa bahkan kehilangan anggota tubuh mereka. Sambil memeluk tubuh salah satu dari mereka, gadis itu mulai mengumpat lagi dan lagi. Kenapa? Kenapa kamu begitu menderita? Siapa kamu? Kenapa saat aku melihatmu menangis, hatiku juga ikut sakit. Rasa sedih dan marah ini mulai menelanku, seakan aku juga ikut mengalami penderitaan gadis itu.
Cukup! Ini bukan perasaanku. Itulah yang ingin kukatakan, tapi mulutku tak bergerak seakan menolak fakta itu. “.... sa lalu,” kata gadis itu lagi. Apa? Kamu bilang apa?
“O!”
“Io!”
Tubuhku seakan ditarik menjauh darinya. Tunggu! Aku belum mendengar apa yang mau dia katakan. Seakan tak mempedulikan keinginanku, pemandangan tentang gadis itu mulai terbakar bara api. Sial! Setidaknya biarkan aku tau siapa gadis itu. Tepat sebelum seluruh pemandangan itu terbakar, gadis itu berbalik menatapku sambil menangis. Ah... jadi gadis itu sebenarnya adalah....
“IO!”
“VIO!!!” sebuah jeritan membangunkanku dari tidurku. Jadi yang tadi itu cuma mimpi. Setelah kesadaranku sepenuhnya kembali padaku, aku menoleh ke arah asal suara itu. Kulihat wajah temanku Liya dengan wajah terheran-heran.
“Ke... kenapa li?” tanyaku.
“Kok malah tanya kenapa, liat keluar! Bis-nya sudah sampai di pelabuhan, kita harus masuk kapal, ayo cepat. Duh, kamu itu kalau mau tidur pas dikapal aja dong. Bangunin kamu itu nggak gampang tau,” kesal Liya.
“Maaf, aku ketiduran. Iya sebentar aku ambil tas ku dulu diatas dan turun ambil koper dibagasi,” jawabku. Tidak kusangka aku akan ketiduran, seperti bukan aku saja. Aku tidak ingat mimpi apa tadi, tapi kenapa aku merasa itu terlalu realistis ya. Sudahlah biarkan saja.
Begitu aku turun dari bis kulihat sahabatku, Lizza dan Nea sudah menungguku dibawah. Si kembar Novalia juga ada tak jauh dari sana. Sedangkan kakak sedang mengabsen murid satu kelas bersama seorang pemandu dari kapal. Sepertinya liburanku yang menyenangkan akan segera dimulai.
Itulah pikiranku saat itu, siapa yang menyangka kalau yang menunggu kami bukanlah liburan yang menyenangkan seperti harapanku. Tapi justru awal dari terror dan ketakutan yang akan kami ingat sampai kami mati.
...***...
Seluruh murid sudah menaiki kapal yang mereka sewa. Kapal begerak dengan baik sehingga para murid dapat menikmati berlayar dengan kapal serta fasilitasnya. Sayangnya itu tidak berlaku untuk Vio, dari awal dia menaiki kapal sampai setengah perjalanan sudah ditempuh perutnya tidak enak. Ya, Vio sedang mabuk laut.
"Vio! Kamu baik-baik saja?" tanya Lizza.
"A.. aku nggak baik-baik saja, kapan kita sampai? Kalau begini terus bisa mati aku," jawab Vio pucat. "Kamu nggak akan mati hanya karena mabuk laut," sela Nea ketus.
Lizza hanya tertawa kecil dan berusaha terus mengobrol agar mabuk Vio bisa teralihkan. Nea sesekali ikut dalam obrolan. Lama kelamaan Vio mulai mendingan dan ikut mengobrol juga. Tapi ditengah-tengah obrolan mereka, mata kanan Nea berdenyut.
"Sensasi ini... akan ada hal buruk yang datang. Aura disekitar laut juga tidak bagus, gawat! Aku harus melakukan sesuatu," pikir Nea dalam hati.
"Aku mau ke toilet dulu, mau ikut?" tanya Nea. "Tidak, kalau bisa aku nggak mau banyak gerak," jawab Vio cepat. "Kalau gitu aku temenin Vio disini, jangan lama-lama ya," kata Lizza.
Nea mengangguk, dia sudah mengira kalau teman-temannya tidak akan ikut mengingat kondisi Vio saat ini. Setelah berjalan cukup jauh dari Vio dan Lizza, Nea menuju ke tempat tertinggi di kapal itu. Sebuah tiang panjang dengan tangga di naikinya, dari sana Nea melihat sekeliling. Matanya sekarang terfokus pada sebuah pulau kecil yang cukup jauh dari kapal. Dari pandangan Nea, pulau itu tertutupi sebuah kabut hitam pekat.
"Sudah kuduga, ternyata keputusanku pindah memang benar," gumam Nea.
"NEA!!" jerit Vio dan Lizza bersamaan. "Apa yang kau lakukan disana?!" tanya Vio. "Kami sudah mencarimu kemana-mana karena kamu tidak segera kembali, tapi ngapain kamu ke atas sana?"
Nea melihat kedua temannya dari atas lalu turun dengan perlahan, dia hanya bilang kalau dia ingin melihat seberapa jauh mereka dari pulau tujuan mereka. Lizza mengangguk tanda mengerti lalu menanyakan apa yang Nea lihat. Tapi tidak dengan Vio, kecurigaan Vio yang sempat hilang muncul kembali.
"Ada yang aneh, tidak mungkin dia naik hanya untuk melihat pemandangan atau hanya mengecek, karena kalau sudah dekat nanti pasti akan diumumkan oleh pihak kapal. Kenapa dia repot-repot menaikinya?" pikir Vio.
Sebuah suara terdengar di kepala Vio. Sesaat setelah suara itu terdengar, kepala Vio mendadak sakit. Tubuhnya agak ambruk, Vio menggertakan giginya dengan kuat untuk menjaga kesadarannya. "Sial! Jangan sekarang! Tidur saja sana, setiap kamu keluar tidak ada hal baik yang terjadi," ucap Vio didalam hati, saat ini Vio seperti sedang berbicara dengan seseorang entah siapa di dalam hati dan kepalanya.
"DIAM!!"
Lagi-lagi suara yang sama terdengar di kepalanya. Setiap suara itu terdengar, kepala Vio akan sangat kesakitan. Melihat temannya yang hampir ambruk, Lizza dan Nea berusaha membantunya. Saat Lizza mengulurkan tangannya, Vio menapisnya dengan kasar.
"JANGAN DEKATI AKU!!!" jeritnya. "Pergilah... Tinggalkan aku sendiri," gumam Vio dengan mata yang sedikit berair karena menahan sakit.
Lizza sangat terkejut karena Vio tidak pernah seperti ini sebelumnya. Sedangkan Nea terkejut karena hal lain. Aura hitam dalam diri Vio mulai membesar dan melahap aura putihnya. Dia merasakan firasat buruk saat melihatnya, dan mengajak Lizza menjauh dulu.
"Lizz, sebaiknya kita tinggalkan Vio dulu. Ada saat dimana kamu ingin sendiri sebentar bukan? Mungkin saja Vio tidak ingin kita melihatnya saat ini," katanya.
"Ah kau benar, aku juga tidak suka ada yang melihatku sedang kesakitan. Tapi... apa Vio akan baik-baik saja? Bukannya dia harus diantar ke rumah sakit?" kata Lizza cemas.
"Tidak ada rumah sakit dikapal, dan mungkin mabuknya tambah parah dan dia ingin muntah. Tidak ada orang yang ingin dilihat saat muntah," bujuk Nea lagi. Akhirnya Lizza hanya diam dan pergi dengan Nea, hatinya masih tidak ingin meninggalkan Vio. Tapi dia merasa Nea ada benarnya juga. Untuk saat ini dia akan meninggalkan Vio dan pergi sebentar.
Setelah mereka berdua tidak terlihat di mata Vio lagi, tubuhnya benar-benar ambruk dan napasnya jadi sangat berat. Kepalanya berdenyut hebat sampai Vio tidak bisa menahannya lagi.
Mendengarnya Vio hanya tersenyum kecil, "Bukannya ini salahmu? Kalau kamu tidak mencoba keluar, aku tidak akan merasa sesakit ini."
Mendengarnya Vio hanya tersenyum kecil, "Bukannya ini salahmu? Kalau kamu tidak mencoba keluar, aku tidak akan merasa sesakit ini."
"Aku mengerti, saat itu tiba aku tidak akan melarangmu. Jadi sekarang tolong tenanglah dan jangan keluar. Karena saat kamu keluar, tidak ada yang bisa menghentikanmu... bahkan aku sekalipun. Kumohon Litt... jangan... sekarang..."
Kesadaran Vio sepenuhnya menghilang sekarang. Tubuhnya saat ini sangat panas karena demam. Seorang teman sekelasnya yang saat itu sedang berjalan-jalan disekitar sana menemukan Vio dalam kondisi pingsan dan segera memanggil kakaknya, Tikara.
Melihat kondisi adiknya ini, Tikara sudah bisa menebak apa yang terjadi. Lalu menggendongnya masuk ke kamarnya di kapal dan memberi pertolongan pertama. Setelah demamnya mulai turun, Lizza dan Nea datang menjenguknya. Lizza menyesal karena saat itu meninggalkan Vio sendirian. Sedangkan Nea masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Aura hitamnya... menghilang? Apa yang sebenarnya terjadi?!" gumam Nea.
Sebenarnya Vio mempunyai sebuah rahasia yang sangat ia jaga. Didalam diri Vio, ada sebuah kepribadian lain. Vio menyebut kepribadian ini Litt dari nama Let di Violet. Bagi Vio, Litt sangat berbahaya. Saat Litt mengambil alih tubuhnya, maka akan muncul kerusakan dimana-mana.
Vio takut seberapa parah kerusakan yang akan diperbuat Litt menggunakan tubuhnya karena saat Litt keluar (berganti kepribadian) Vio tidak mengingat apa yang terjadi pada Litt. Sedangkan Litt mengingat semua hal saat kepribadian Vio keluar. Ini bukanlah sebuah kasus kerasukan atau semacamnya. Dunia menyebut kasus seperti Vio ini Kepribadian Ganda.
Mereka berdua, baik Vio maupun Litt adalah Violet Silvero. Tidak ada yang asli maupun yang palsu. Karena sejatinya mereka adalah orang yang sama tapi memiliki sifat yang berbeda. Meski sebagian besar waktu 'Violet' dikendalikan oleh Vio. Tapi kepribadian Litt lebih kuat dan dapat dengan mudah mengambil kendali tubuh.
Alasan Vio yang lebih sering keluar adalah karena Litt tidak terlalu tertarik dan memilih membiarkan Vio yang bersenang-senang menikmati hidupnya. Litt hanya keluar saat ia bosan atau saat sesuatu yang menarik baginya mucul. Bagi Vio, sesuatu itu pasti tidak baik dan akan berbahaya. Jadi Vio masih tidak terima kalau Litt keluar.
Terakhir, untuk membedakan saat dimana 'Violet' adalah Vio atau Litt sangat mudah. Saat Vio yang memegang kendali, mata Violet akan berwarna biru laut. Sedangkan saat Litt yang memegang kendali, mata Violet akan berwarna merah ruby.
[ Bukan hal penting sih, tapi kalau kalian tertarik melihat-lihat gambar buatan Cha_nyann, silahkan lihat di IG Cha_nyann aja @CPatra_HA ]