THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 7 (4)



Kapal sudah sampai di pelabuhan. Anak-anak berdesak-desakan keluar kapal dengan semangat sampai Tikara kewalahan menertibkan mereka. Reva, Kayla, Aini dan Aliya membantu menengankan murid yang lain karena Tikara harus cepat-cepat mengantarkan Vio dan Nea ke rumah sakit terdekat dengan ambulan.


Tanpa sepengetahuan murid lain, Vio dan Nea yang didampingi Lizza berangkat menuju rumah sakit. Tikara harus memastikan murid lain selamat sampai sekolah dulu, baru setelah itu dia menuju rumah sakit. Sedangkan mayat Hazella diserahkan pada kepolisian untuk di atopsi dan diselidiki.


Karena stastus mayat adalah seorang kriminal berat, pasti akan melaui proses-proses yang cukup rumit nantinya. Vio dan Nea saat ini berstatus korban luka berat oleh kepolisian dan dijaga dengan ketat.


Orang tua Vio, Lizza dan Nea segera dihubungi kepolisian dan dengan cepat mereka menjenguk anak mereka. Nyonya Silvero langsung menangis memeluk Vio begitu sampai dirumah sakit. Ayahnya dan ayah Nea bekerja sama untuk menindak kasus ini yang merupakan kasus pembunuhan berantai.


Setelah selesai menangis, Nyonya Silvero memarahi Vio cukup lama karena tindakan gegabah yang dia lakukan. Mereka bertiga diwawancarai oleh pihak kepolisian tentang apa yang terjadi di pulau itu. Vio dan yang lain menjelaskan dengan jujur apa yang mereka alami di pulau, tentu saja mereka merahasiakan tentang Livvy dan Novichock.


Trio Viline di anggap berjasa oleh kepolisian karena berkat mereka yang menghentikan Hazella, murid yang lain tidak terluka dan pulang dengan selamat. Semua hal merepotkan itu baru berakhir setelah waktu makan siang.


Polisi berhenti bertanya dan mulai menyelidiki mayat Hazella yang tidak diketahui penyebab kematianya. Hazella memang terluka berat karena ulah Lizza, namun luka itu seharusnya tidak membunuhnya. Oleh karena itu, penyelidikan terus berjalan.


Sementara polisi menyelidiki itu, orang tua trio Viline juga disibukkan dengan berbagai administrasi. Tikara lebih sibuk lagi karena harus mengurus ini itu dan menghadapi komplain orang tua murid lain. Akhirnya trio Viline ditinggal sendiri dalam penjagaan polisi.


“Aku capek!!!” keluh Lizza. “Bukannya sudah bagus kamu gak jadi tersangka pembunuhan?” ejek Nea. “Apa katamu?!!!” kesal Lizza.


“Sudahlah kalian berdua. Yang lebih penting lagi, entah bagaimana caranya kita harus bisa keluar dari sini dan pergi ke tempat itu,” potong Vio. Lizza dan Nea menganggukan kepalanya. Vio menatap jendela dan tersenyum pahit.


“Dengan ini rencana kita dimulai...” kata Vi tegas.


Vio mengendalikan beberapa pelayan dan Nea mendandani mereka dengan pakaian trio Viline lalu membuat mereka duduk di kursi sambil tiduran. Vio juga mengendalikan seorang polisi untuk menggendongnya yang tidak bisa bangun dari kasur. Setelah menandai hewan seperti sebelumnya, Nea menteleport diri mereka ke reruntuhan lab Novichock.


Setelah sampai, mereka bertiga bergerak menuju lahan luas yang sebelumnya merupakan tempat parkir helikopter. Doll polisi itu meletakkan Vio di sebuah batang yang runtuh lalu Nea mengembalikan polisi itu ke rumah sakit, tentu saja dia sudah dihilangkan ingatannya dulu oleh Lizza.


Setelah mengirim polisi itu, Nea pergi ke suatu tempat meninggalkan Lizza dan Vio. Nea pergi ke sebuah tempat pertemuan dengan seorang Doll Mafia yang sudah dikendalikan Vio sejak dikapal tadi. Doll itu menyerahkan sebuah koper besar pada Nea. Segera setelah menerima koper, Nea kembali teleport ke tempat Vio dan Lizza.


Didalam koper itu berisi tiga jenis senjata yang dilarang diperjual belikan secara umum. Namun karena Mafia bergerak dalam bisnis dunia gelap, mudah untuk mereka bisa mendapat senjata itu. Tiga jenis senjata itu sendiri adalah pedang katana Juzumaru-Tsunetsugu, HK MG4 MG 43 Machine Gun dan dua CZ 75.


Pedang katana akan dipakai Lizza, dua pistol dipakai Nea dan Vio yang tidak bisa banyak bergerak akan menjadi sniper. Seperti yang diketahui, Lizza merupakan pengguna pedang yang hebat kerena berlatih kendo. Nea yang merupakan anak dari keluarga kepolisian tentu saja sudah dilatih menggunakan pistol oleh keluarganya. Vio sebenarnya tidak pernah memegang senjata, namun Litt sering berlatih menggunaka senjata api sejak dulu jadi sekarang Violet bisa dibilang mahir dalam penggunaan senjata api.


Sementara trio Viline menyiapkan diri, seorang gadis berjalan pelan mendekati mereka. Suara tepukan tangan terdengar dan bergema sehingga tidak mungkin untuk tidak sadar dengan keberadaan gadis itu.


Gadis itu hanya membawa sebuah pisau perang di sabuknya. Dia tersenyum sambil mendekati Trio Viline yang memandanginya dengan amarah dan niat membunuh.


“Wah, wah. Aku benar-benar bersyukur kamu tidak melarikan diri dan datang kemari, Vio-ku sayang,” ucap gadis itu dengan seringai di wajahnya.


“ *****, akan kubayar semua perbuatanmu pada kami dulu,” marah Vio.