THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 6 (3)



HARI KE-10


“SUDAH CUKUP!!! KITA SUDAH TIDAK BISA BERDIAM DIRI DAN MENGAMATI LAGI!!!!” jerit Nea marah.


Vio tau perasaan Nea, maksudku sekarang jumlah anak yang ada di kafetaria tinggal 33. Seluruh anak dari Lab A sudah menghilang dan hampir semua anak dari Lab B juga hilang. Hanya anak-anak dari Lab A yang masih utuh, masih 30 anak.


“Tenang dulu Nea, kayak bukan Nea aja,” kata Vio menenangkan Nea.


“Memangnya Vio bisa diam gitu aja?! Ini jelas mencurigakan!!! Kita harus menyusup dan mencari tau!!!” jeritnya pada Vio.


“Vio juga gak mau diam aja. Tapikan Vio sudah pernah bilang, menyerang markas musuh tanpa informasi itu sama aja bunuh diri,” jawab Vio sambil memunyunkan bibir Vio.


Nea diam saja, aku tau Nea tidak bisa membalasku karena yang Vio katakan tidak salah. Kehilangan kesabaran dan asal menyerang sangat buruk. Bahkan anak kecil seperti Vio tau itu. Ditengah-tengah itu, Lizza berlari ke arah kami sampai napasnya habis.


“Hahh... hahhh... aku... bawa... informasi,” ucap Lizza terbata-bata.


“Minum dulu! Tenang dulu, lalu ceritakan pelan-pelan oke?” pinta Vio sambil menyodorkan gelas.


Setelah menghabiskan minumannya, Lizza menceritakan pada kami apa yang dia ketahui. Sepertinya di Lab B ada satu anak yang kewarasannya masih ada. Dua orang lainnya  gila jadi kami tidak bisa bertanya apapun, namun anak yang ini tetap normal hanya saja kesehatannya jadi sangat buruk.


Anak itu adalah kakak kelas 6 SD bernama Viqueilan Dangela, atau bisa dibilang Kak Viqi. Kak Viqi juga salah satu anak tertua di ketiga lab, Lizza menanyakan apa yang terjadi pada Lab B pada Kak Viqi. Di Lab B, profesor secara rutin memanggil beberapa anak untuk disuntikkan cairan merah ke dalam tubuh mereka. Beberapa anak menjadi gila setelah disuntik itu, beberapa lagi menghilang, dan hanya Kak Viqi yang tidak gila.


“Sepertinya Vio tau sesuatu. Kita bisa asumsikan kalau cairan itu adalah obat-obatan. Lab A, B, dan C diberi obat itu dalam dosis yang berbeda. Itulah kenapa cara memberinya berbeda. Vio tidak tau bagaimana Lab A diberi, tapi kalau dilihat dari situasinya pasti Lab A adalah dosis paling tinggi dan C paling rendah,” terang Vio.


“Jadi begitu. Kalau gitu anak yang hilang itu mungkin adalah anak yang overdosis obat? Vio kamu jenius!” puji Nea.


“Oiya dong, Vio!!!”


“Tapi Vio... itu obat untuk apa ya?” tanya Nea. “Vio juga tidak tau, itulah kenapa kita harus cari tau,” jawab Vio.


“Aku kayaknya tau itu buat apa...” timpal Lizza.


Vio dan Nea yang sedang fokus sendiri jadi kaget karena kata-kata Lizza. Ada anak yang tau tentang itu lebih dulu dari Vio, si Lizza ini... Vio terlalu meremehkan dia.


“OBAT APA ITU???!!!” kaget kami bersamaan.


“Ituu... kalian mungkin tidak percaya kalau aku bilang gini. Tapi Kak Viqi dapat kemampuan super setelah disuntik obat itu. Kak Viqi jadi bisa nyembuhin luka orang loh, tadi pas aku jatuh dan lututku berdarah bisa disembuhin Kak Viqi,” kata Lizza bersemangat.


“Obat yang bisa membuat orang punya kemampuan super???”


“Memangnya itu mungkin?”


Bukannya ini gawat ya... obat semacam itu tidak mungkin dibuat untuk tujuan baik. Mungkin saja si Prof Carla ini ingin menguasai dunia dengan memanfaatkan anak-anak kayak di film-film. Baik, sudah Vio putuskan. Kita akan cari tau tujuan pembuatan obat itu, lalu jika itu untuk hal buruk maka Vio harus menghentikan mereka.


“Kalau dah sampai kayak gini, kita harus menyusup malam ini juga!!!” tekad Nea.


Duh... anak ini, kalau dibiarin aja bisa bahaya. Bisa-bisa dia malah menyelinap sendirian. Kalau ketauan nanti siapa yang mau nolongin coba.


“Okelah... Vio juga ikut, tapi kalian harus dengerin Vio ya. Kalau yang kayak ginikan harus ada pemimpinnya biar mudah ngatur strategi.”


“Oke Vio.”


Setelah itu kami menunggu sampai jam tidur tiba. Karena kami sudah tinggal disini cukup lama, kami sudah hafal waktu dan pola patrolinya. Saat waktu tidur, seluruh pintu dan jendela dikunci jadi tidak ada jalan keluar. Tapi kami sudah merencanakan ini berhari-hari jadi kami pasti bisa.


Di hari ke-7, Lizza dan Nea menabur bubuk tepung yang kami dapat dari menghancurkan beras sedikit demi sedikit. Tepung itu di arahkan ke kunci pin pintu. Lalu Lizza memakai kuas make up seorang anak untuk meratakannya dan dengan perekat transparan kami bisa tau angka mana yang dipencet untuk membuka kunci. Tentu saja ini dengan arahan Vio.


Setelah tau, ada 4 angka. Dari ke-4 angka itu kita bisa tau mana angka yang paling banyak dipencet dari ketebalan dan ketidak rapian bentuk sidip jari. Ada 6 digit yang harus dimasukkan, sisanya kami tinggal menghitung dan menebak sampai kodenya terpecahkan. Beruntung alarm tidak menyala karena kami membuka pintu itu.


Tentu ada kamera pengawas yang melihat pintu. Tapi ada waktu-waktu kamera tersebut bergerak seperti kipas angin. Yang harus kami lakukan hanya bergerak di titik buta kamera pengawan dan mengganjal kamera pengawas dekat pintu agar tidak mengarah ke pintu sampai kami kembali.


Di perjalanan kami juga melihat berbagai sistem keamanan seperti detektor sinar inframerah, dll. Tapi kami selalu bisa melewatinya berkat kecerdasan Vio. Setelah berjalan cukup jauh, kami turun ke lift dan masuk ke semacam area terlarang. Keamanan di sana lebih ketat dan sulit dilewati.


Perjuangan Vio dan yang lain tidak sia-sia. Seperti perkiraan Vio, hari ini adalah jadwalnya rapat rutin. Tidak ada satu orangpun yang berada di ruang kantor dan disana juga tidak ada sistem keamanan selain kamera pengawas. Yah... pasti mereka tidak bisa memprediksi ada anak umur 6 tahun menyelinap masuk kedalam kantor merekakan.


Karena waktu kami tidak banyak, informasi yang bisa kami dapat terbatas. Namun infomasi itu sudah cukup untuk bisa meningkatkan kewaspadaan kami dan membuat kami harus lebih berhati-hati dalam bertindak.


Kami kembali secepat yang kami bisa dan membereskan ulah kami hingga tak meninggalkan jejak. Begitu kembali, semua anak sudah tertidur namun terdengar tangisan gadis-gadis kecil.


“Hiks... hiks... hiks... apa-apaan ini, kenapa kita harus mengalami ini,” keluh Lizza terisak-isak.


“Bukannya mereka terlalu kejam... melakukan semua itu... hiks... hanya demi tujuan pribadi. Kalau sudah pulang akanku laporkan ke papa... hiks,” kata Nea sambil menahan tangis.


Vio hanya diam menatap dua teman Vio yang berusaha sekuat mereka agar tidak menangis. Yahh bukannya Vio gak paham kenapa mereka sedih, Vio juga sedih kok. Tapi Vio tau, menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Menangis hanya akan memperlihatkan kelemahan kita sendiri, meski terkadang ada kalanya juga boleh menangis tapi tidak sekarang. Itu yang selalu bunda katakan pada Vio saat Vio menangis.


Setidaknya sekarang Vio tau tujuan mereka, tempat apa ini, alasan mereka melakukan itu, kenapa hanya anak-anak yang pakai, disebut apa kita ini dan... berapa jumlah korban akibat keinginan egois mereka. Prof Carla hanya ingi membuat orang yang mirip dirinya, sedangkan profesor lain ingin pengetahuan itu dan uangnya. Sungguh egois sekali.


Dari data di kantor, harusnya sekitar 8 hari dari sekarang kami, anak-anak Lab A akan memperoleh keterampilan kami dengan cara yang aman namun memakan waktu. Vio bisa saja sih sengaja tidak meminum obat itu, tapi anak yang tak berkemampuan akan dibunuh karena tidak dibutuhkan. Sebaliknya, anak dengan kemampuan luar biasa akan di isolasi dan batasi karena kemampuannya terlalu berbahaya.


“Pokoknya Vio tidak boleh terlalu mencolok! Kalau Vio di isolasi dan dibatasi, Vio akan sangat sulit kabur dari sini dan bertemu keluarga Vio lagi,” gumam Vio.