
"VIO! NEA! Kalian dimana?" jerit seseorang.
Dari pintu terlihat seorang gadis melambaikan tangannya sambil berteriak dengan kencang. "Lizza? Kamu darimana?" tanya Vio.
"Harusnya aku yang tanya, kalian darimana? Dari tadi aku nyariin kalian, didalam bahaya. Sampai apinya padam ayo keluar," kata Lizza.
"Maaf, aku tadi ingin ke toilet dan Nea hanya menemaniku," jawab Vio menyesal.
"Sudahlah, ikut denganku! Ada yang ingin kukatakan pada kalian," seru Lizza.
Vio dan Nea bertanya-tanya apa yang ingin dibicarakan Lizza. Tapi Lizza hanya diam saja dan membawa mereka menjauh dari villa dan menuju ke pesisir hutan. Disana Lizza menatap Vio dan Nea dengan wajah serius, mau tidak mau Vio beranggapan bahwa yang ingin dibicarakan Lizza adalah hal penting.
"Pertama, apa kalian itu asli?" tanya Lizza menekankan.
"Apa maksudmu asli? Memangnya ada aku yang palsu?" jawab Vio bingung. Nea tampak curiga dengan pertanyaan Lizza, dia mencoba menghubungkan semua yang dia tau tapi hasilnya nihil.
"Hah! Kalau begitu beritau aku, apa rahasia terbesar Violet Silvero?" tanya Lizza lagi.
"Kenapa kamu tiba-tiba tanya itu?" balas Vio curiga.
"Jawab saja! Ini penting," ucap Lizza.
"Itu... kepribadian gandaku?" jawab Vio berbisik ke telinga Lizza. Setelah mendengar jawaban Vio, Lizza tersenyum cerah dan mengangguk. "Kamu asli," katanya membuat Vio dan Nea tambah bingung.
"Kalau Nea, apa rahasia terbesarmu?" tanya Lizza lagi.
"Rahasia?" tanya Nea. "Aku tidak pernah mengatakan kemampuanku ke Lizza, jadi pasti bukan itu. Lalu yang mana?" pikirnya.
"Jangan-jangan tentang alasan aku memanjangkan poniku? Karena dulu disekolah lamaku aku sempat dibully?" jawab Nea ragu. "Ping pong, kalian adalah Vio dan Nea yang asli," kata Lizza sambil mengulurkan tangannya keatas.
"Sebenarnya kamu kenapa? Tiba-tiba berbuat begitu?" tanya Vio kesal.
Setelah itu Lizza mulai menjelaskan apa yang diketahuinya. Begitu Vio dan Nea keluar saat malam tadi, Lizza terbangun dan pergi ke balkon kamar untuk melihat bintang. Dari atas, dia melihat seorang wanita berambut pirang tertawa-tawa sendiri didepan pintu villa. Dia menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Lizza merinding melihatnya, tetapi dia berusaha tetap melihat wanita itu. Tidak lama, wanita itu menolehkan kepalanya dengan cepat sambil menatap Lizza dengan senyum lebar.
Tanpa buang waktu, Lizza segera masuk dan menutup pintu balkon. Napasnya terengah-engah. "Itu bukan manusia," pikirnya. Walau sangat takut, dia mengintip lewat celah-celah pintu. Saat itu dia melihat sesuatu yang mengejutkan, wanita pirang itu berubah menjadi salah satu teman sekelasnya. Baik wajah, baju, aksesoris dan yang lain terlihat sangat menyerupai temannya itu. Lizza tidak tau apa yang harus dilakukannya tentang itu, ditengah pikirannya asap mulai memasuki kamarnya.
"Asap? Bau terbakar? GAWAT!!" jerit Lizza. Saat itu juga dia membangunkan si kembar, lalu meminta mereka berpencar membangunkan yang lain. Suara orang-orang panik mulai terdengar, bahkan ada sebuah jeritan seorang gadis juga. Jeritan itu yang didengar oleh Vio dan Nea. Saat semua orang sedang panik dan berlari kalang kabut, Lizza justru sibuk mencari kedua sahabatnya. Pikirannya mulai kemana-mana, tapi dia berhasil menemukan mereka.
Dia segera mengajak Vio dan Nea keluar, dan sangat ingin menceritakan apa yang terjadi. Tapi Lizza mendadak mengingat wanita itu, karenanya dia harus memastikan kalau Vio dan Nea yang ada didepannya adalah yang asli.
"Jadi itulah alasannya," kata Lizza mengakhiri penjelasannya.
Mendengarnya membuat wajah Vio mendadak menjadi pucat. Lizza yang khawatir pada Vio menanyakan apa yang terjadi. Vio juga menceritakan apa yang dialaminya setelah dari toilet.
"Tidak salah lagi! Wanita itu yang membakar dapur!" ujar Lizza geram.
"Tunggu! Ada yang salah, tadi kamu bilang wanita itu menyamar jadi teman sekelas kita bukan?" tanya Nea memastikan. "Iya, benar," jawab Lizza tanpa ragu.
"Tapi Vio, bukannya gadis yang kita temui bilang kalau kalau yang membakar dapur adalah seorang wanita berambut pirang? Sedangkan Lizza bilang kalau wanita itu menyamar. Bukannya itu bertentangan?" ucap Nea.
"Kamu benar, sebentar... jangan bilang? Kalau... sebenarnya gadis yang kita temui itu palsu? Dan dialah dalang sebenarnya?" tanya Vio curiga.
"Kemungkinan begitu, dan lagi teman-teman... sepertinya aku tau siapa yang mungkin adalah si wanita rambut pirang," kata Nea. "SIAPA?!"
"Wanita itu berambut pirang, dia bisa masuk ke Villa dengan mudah dan dengan cepat bisa mencapai dapur. Artinya dia sudah pernah kesini sebelumnya. Tadi aku juga mencium bau minyak di dekat area kebakaran, tapi Lizza tidak melihat dia membawa apapun saat didepan. Dengan kata lain minyak itu berada didalam, dan hanya pemilik rumah yang tau tempatnya. Wanita itu mungkin saja wanita yang ada dilukisan didepan. Viqueilan Dangela," terang Nea.
"Tapi kenapa pemilik villa malah membakar villanya? Dan lagi bukannya satu pulau punyanya Pak Yurio?" tanya Lizza tidak mengerti.
"Aku tidak tau alasannya membakar villa, dia mungkin punya dendam terhadap seseorang yang berhubungan villa ini. Dan lagi, Viqueilan Dangela adalah sepupunya Pak Yurio. Dia anak pemilik pulau sebelumnya," kata Nea menjelaskan.
Kecurigaan Vio tentang Nea bertambah, "Bagaimana dia bisa tau semua itu?" pikir Vio. "Baik marga dan penampilan Pak Yurio sangat berbeda dengan Viqueilan Dangela, tapi Nea tau dia sepupunya?Bahkan dia juga tau Viqueilan Dan.. ah kepanjangan, Vilan saja. Dia juga tau Vilan itu anak pemilik sebenarnya. Tentang perspektif lukisan didepan juga, seakan dia pernah melihat itu sebelumnya. Nea, Siapa kamu sebenarnya?"