THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 5 (5)



"Anu... maaf Kak Tika... aku..." ucap Lizza terbata-bata.


"Hahh!! Sudahlah, aku akan membuat kalian memberiku penjelasan nanti. Saat ini kita fokus menyembuhkan kalian dulu. Aku akan menggendong Vio, Nea kamu bisa berjalan?"


"Bisa."


"Bagus. Lizza kamu... emm, bawa siapapun itu ikut dengan kita. Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja," seru Tikara.


Tikara menggendong Vio di punggungnya diikuti Nea yang dipapah Lizza. Sambil memapah Nea, Lizza juga menggeret Hazella dengan tali yang mengikatnya. Mungkin terdengar kejam karena Hazella juga sedang terluka, tapi Lizza terlalu marah untuk memikirkan itu. Selama dia tidak mati, maka Lizza tidak peduli.


Mereka masuk ke Villa lewat pintu belakang agar tidak mengejutkan siswa lainnya. Reva dan Kayla membantu mereka untuk membawa yang terluka berbaring di ruangan bersih. Vio di tidurkan di atas alas tidur ( futon ) dan Nea di dudukkan di atas selimut empuk. Sedangkan Hazella di biarkan tergeletak di atas alas.


Tikara mengambil tasnya di lantai dua dan dia bersyukur bahwa tasnya masih utuh. Dia mengeluarkan beberapa obat di sana lalu mulai mengobati mereka. Pertama dia mengobati adiknya dulu karena pendarahannya. Dia menuangkan Asam Traneksamat cair pada luka Vio dengan handuk. Setelah luka bersih dan sedikit kering, Tikara mengolesi Vio dengan Betadine lalu membalutnya dengan perban bersih dan kapas.


Tikara juga tak lupa mengoleskan Anirca Topical dan meminumkan Bromelain pada Vio dan Nea agar memar mereka sembuh. Lalu membalut memar itu dengan perban dan mengompres memarnya dengan air dingin dari danau.


"Pastikan area yang mengalami memar lebih tinggi dari yang lain, kalau sudah beberapa menit lagi ganti kompresnya dengan air hangat. Aku akan mengobati orang disana," pesan Tikara pada murid-muridnya.


Tikara menatap wanita itu sejenak. Kepalanya berdenyut setiap kali dia menatapnya.


"Siapa dia sebenarnya? Aku merasa pernah melihatnya... tidak, yang lebih penting aku harus mengobatinya dulu. Lukanya tidak begitu dalam, walau terlihat mengenaskan tapi sebenarnya tidak separah 2 anak itu. Mereka itu... bahkan sampai ada tulang yang patah, setidaknya aku sudah mengobati luka luar mereka. Tapi tetap harus ke rumah sakit secepatnya."


Tikara melakukan hal yang sama pada Hazella, dia mengoleskan obat dan membalut lukanya. Lizza sementara melepas talinya tapi setelah selesai diobati, Lizza mengikatnya lagi di bagian yang tidak terluka. Seperti kata Tikara, tak lama setelah itu kapal datang menjemput mereka. Dia memastikan seluruh muridnya masuk ke kapal baru dia memasukkan trio Viline dan Hazella masuk.


Tikara memasukkan adiknya dan yang lain ke UKS kapal dengan hati-hati. Setelah menidurkan Vio dan Nea ke kasur, Hazella juga ditidurkan namun di saat yang bersamaan juga di borgol disana.


Tikara dan Lizza duduk di kasur di sebelah Vio dan Nea. Lalu dia mulai memasang wajah serius.


"Aku sudah memberi kalian pengobatan. Terima kasih pada Nea karena sudah memberi Vio pertolongan pertama," kata Tikara. Tikara memancarkan aura merah yang luar biasa. Nea dan Lizza belum pernah melihatnya semarah ini sebelumnya.


"Sekarang, bukankah aku sudah bisa menagih penjelasan dari kalian, hmm?" senyumnya.


"Jadi bagaimana bisa adikku terluka separah itu?! Aku belum pernah melihatnya dalam kondisi buruk sejak penculikkannya 10 tahun lalu. JELASKAN DENGAN RINCI!!!"


Tikara marah besar, bukan pada mereka berdua. Tapi dia marah pada dirinya sendiri karena gagal melindungi adiknya meskipun dia sudah berjanji sejak hari itu. 10 tahun lalu Vio pernah diculik saat usianya 6 tahun dan dia baru di temukan ½ tahun kemudian. Sejak saat itu, keluarga Silvero menjadi sangat posesif dalam menjaga Vio. Apalagi karena saat ditemukan, Vio kehilangan seluruh ingatannya dan belum kembali sampai sekarang.


"Huft!! Bisa melihat aura, bisa menyamar menjadi orang lain, seorang pembunuh berantai dan masa laluku yang menghilang... Semua itu terdengar tidak masuk akal," kata Tikara.


"A-apa bu guru tidak percaya?" tanya Lizza takut.


"Tidak, aku percaya. Malah semua jadi jelas sekarang," balasnya. "Hei, apa kalian masih menyimpan kotak yang kalian temukan itu? Itu pasti bisa membantuku mengingat masa laluku, karena itu mungkin adalah tujuan Akasia yang sebenarnya."


Lizza berjalan ke tas Nea lalu mengambil kotak itu. Kotak itu masih tidak terbuka sama sekali. Kode yang harus dimasukkan juga belum ditemukan. Tikara menatapnya sejenak, lalu mencoba memasukkan angka ke dalamnya.


"Apa Kak Tika bisa membukanya?" tanya Lizza pada Nea. "Aku tidak tau."


Dalam sekali percobaan, Tikara berhasil membuka sandinya. Itu tentu saja mengejutkan Lizza dan Nea. "Bagaimana kak Tika bisa tau kodenya?" tanya Lizza.


"Entahlah, angka itu muncul begitu saja di kepalaku. 2- 5(1+4)- 4(2+2)- 6(2+4) -0, itu adalah kodenya. Empat angka awal adalah nomer absen Akasia, Hazella, aku dan Yurio. Sedangkan nol adalah Viqi. Itu adalah sandi yang hanya kami yang tau. Entah kenapa itu mendadak muncul dikepalaku, meski aku masih tidak ingat Viqi dan Hazella," jawab Tikara.


Kotak itu terbuka, isinya bukan sesuatu yang luar biasa seperti yang diharapkan Lizza dan Nea. Hanya sebuah gambar jelek 5 orang dengan keterangan namanya. Namun gambar itu berhasil memicu rasa sakit luar biasa di kepala Tikara sampai membuatnya terjatuh dan memegangi kepalanya. "Arrgghhh!!! Sakitt!!" jeritnya kesakitan.


Lizza dan Nea tidak tau harus berbuat apa melihatnya, Lizza memegangi gurunya dan berusaha membuatnya tiduran dikasur. Sementara mereka melihatnya dengan tatapan khawatir, gambaran masa lalu mulai memasuki kepala Tikara sekaligus. Inilah yang menyebabkan kepalanya terasa seperti mau meledak.


Tikara masih terasa kesakitan dan mulai mengeluarkan air mata. Namun itu bukanlah air mata akibat sakit kepalanya, itu berbeda. Hatinya terasa tercabik-cabik sekarang, dia mulai mengingat kembali apa yang terjadi lima tahun lalu saat dia dan teman-temannya beru lulus SMA dan bergi berlibur.


Setelah beberapa saat, rasa sakit itu berkurang dan Tikara mulai tenang lagi. Dia mulai duduk dan menampar dirinya sendiri dengan keras.


PLAAKK!!!!!


Nea dan Lizza kaget bukan main, tiba-tiba guru mereka melakukan hal itu sambil meneteskan air matanya. "Kak Tika, apa yang terjadi? Ke-kenapa kamu melukai dirimu sendiri?" tanya Lizza cemas.


Dengan tatapan kosong dan penuh rasa bersalah, Tika mulai berbicara. "Ini salahku... harusnya kami bisa menghentikan Hazella saat itu, harusnya Viqi... tidak perlu mati saat itu. Kenapa bukan aku saja yang mati? Kenapa harus gadis sebaik dia? Dan... kenapa karena kebodohanku... adikku ikut terluka..." isak Tikara.


"Tolong jangan menyalahkan diri anda sendiri! Kalau ada yang harus disalahkan, maka yang bersalah bukan hanya anda. Kami pihak kepolisian juga ikut bersalah karena gagal menyelesaikan kasus ini," timpal Nea.


"Bu Tika, sepertinya anda mendapat ingatan anda kembali. Bisakah anda menjelaskan apa yang terjadi di pulau 5 tahun yang lalu? Saya yakin penjelasan anda akan sangat membantu."


"Tentu saja itu membantu, karena... aku adalah saksi tindakan Hazella yang masih hidup sampai sekarang. Aku akan menceritakannya, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Akan kukatakan... apa kesalahanku, bagaimana Viqi bisa meninggal, kenapa Hazella mencoba membunuh Viqi dan... kebenaran yang kami temukan saat itu... semuanya." Kata Tika serius.