THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 5 (6)



"Semua itu bermula di hari itu, saat kami sampai di pulau ini. Kami berempat menginap di villa sepupu Yurio, Viqueilan Dangela atau biasa dipanggil Viqi. Viqi itu adalah gadis yang ceria dan pintar meski tubuhnya punya penyakit. Seperti yang kalian tau, Viqi adalah seorang Livvy. Kemampuan spesialnya sangat... sangat... tidak adil, bagi dirinya."


"Viqi bisa menyembuhkan luka apapun selama itu adalah luka yang bisa dilihat. Tapi, luka itu tidak sembuh begitu saja. Luka itu akan berpindah ke dirinya sendiri, sungguh kemampuan tak berguna. Karena Viqi anaknya baik dan ceria, kami dengan cepat bisa berteman dengannya. Bukannya aku sombong atau apa, tapi diantara kami yang paling dekat dengan Viqi adalah aku."


"Singkat cerita, di malam hari kami minum-minum karena kami sudah cukup umur saat itu. Itu adalah acara minum kami yang pertama, banyak yang mabuk saat itu. Yurio, Akasia dan... Hazella. Aku tidak mabuk mungkin karena aku kuat minum, sedangkan Viqi tidak boleh minum karena kesehatannya. Kami berjalan-jalan berkeliling Villa sambil mengobrol, tapi... secara tidak sengaja kami menemukan benda itu."


"Benda itu?!"


"Ya... benda itu adalah... HP Akasia. Mungkin dia melupakannya atau yang lain. Jadi kami berniat mengembalikannya. Namun, HP-nya bergetar karena sebuah panggilan masuk. Tidak ada nama pada panggilan itu, mungkin saja dari orang asing. Meski begitu untuk jaga-jaga aku mengangkatnya."


"Dari suaranya sepertinya itu seorang wanita. Dia memerintahkan Hazella untuk segera menyelesaikan misinya. Tentu saja setelah kami mendengar itu, kami jadi penasaran tentang misi Hazella. Dan... kami, tidak... aku mencoba membuka HP-nya hingga berhasil. Tidak ada sesuatu yang benar-benar berbeda dari HP-nya. Tapi karena sudah terlanjur terbuka, aku iseng membuka galerinya untuk melihat aibnya. Keisenganku itu adalah hal yang membawaku ke neraka."


"Di galerinya terdapat sebuah album foto yang berjudul 'Tugas sekolah'. Saat itu aku berpikir kalau Hazella terlalu rajin karena tugas sekolah masih disimpan bahkan ketika kami sudah lulus. Namun itu tidak benar, saat kubuka album itu yang nampak bukanlah foto tugas sekolah seperti yang kuduga... Foto itu adalah..."


"Foto Targetku dan keterangannya, bukan?" potong Hazella.


Tikara, Lizza dan Nea terkejut dengan suatu suara yang tiba-tiba terdengar. Hazella sudah terbangun dari pingsannya entah sejak kapan.


"... sejak kapan kamu bangun?!" marah Tikara.


"Apa perlu kamu bertanya begitu? Aku bahkan tidak bertanya apapun meski kondisiku begini," balasnya santai.


"Kamu layak mendapatkannya!! Kamu sudah melukai Vio begitu parah, yang aku lakukan tidak seberapa," kesal Lizza.


"Woah, santai. Reuninya nanti dulu oke? Kita bisa mengobrol panjang nanti. Bukannya ceritanya belum selesai? Atau kamu tidak berniat melanjutkannya?" Hazella menyeringai, entah dia tidak peduli bahwa dia tertangkap dan rahasianya ketahuan atau apa. Dia dengan santai mengobrol seperti teman lama pada Tikara.


"... huft! Akan kulanjutkan." Tikara menarik napas panjang dan melanjutkan ceritanya.


"Foto itu berisi para target Hazella, yaitu Livvy dan keterangannya. Saat itu banyak dari Livvy yang masih belum ada tanda X. Dan diantara mereka ada orang yang kukenal, orang itu adalah Viqi dan... adikku sendiri, Violet Silvero. Kebanyakan dari mereka juga sepantaran dengannya."


"Sudah kuduga, jadi Vio juga Livvy," pikir Nea.


"Bukan hanya mereka, kalian berdua juga ada di sana. Aku baru menyadarinya karena saat itu aku belum pernah melihat kalian," balas Tikara.


"Kami juga??!!!!! Aku tau Nea punya dan aku sempat kaget karenanya, sekarang aku kaget karena Vio dan aku juga?" jerit Lizza lagi.


"Tenanglah, akan kulanjutkan. Di foto itu tertulis jelas kemampuan dan kelemahan yang dimiliki setiap Livvy, juga biodata mereka... Kami merasa bahwa kami melihat sesuatu yang tidak seharusnya boleh kami lihat. Jadi kami pergi ke tempat Hazella untuk menanyakannya tentang foto dan keterangan itu. Dulu kami tidak tau kalau maksud foto itu adalah target pembersihan sisa-sisa percobaan."


"Pembersihan? Percobaan?"


"Kami pergi ke tempat ketiga anak itu tertidur karena mabuk, tapi kami hanya melihat Yurio dan Akasia serta sebuah surat bertulisakan 'Datanglah ke tebing!' Dari surat itu kami tau kalau penulisnya adalah Hazella dan tanpa curiga kami mengikutinya. Disana sudah ada Hazella yang bernyanyi sendiri. Aku sudah tau dari dulu kalau suaranya sangat indah, tapi entah kenapa kali itu ada perasaan berbeda padaku. Hazella berhenti bernyanyi setelah menyadari kami datang. Tanpa basa basi aku menanyakan apa yang arti foto itu sebenarnya."


Tikara diam menunduk sebentar dan melanjutkan ceritanya.


"Dia menjawab tanpa ragu kalau misinya adalah untuk membunuh semua orang yang ada di dalam album itu. Seketika aku menjadi marah dan menamparnya lalu meneriakinya dengan kata-kata kasar tanpa mendengarkan penjelasannya, karena di album itu ada foto adikku sendiri. Hazella diam mendengar semua perkataanku sedangkan Viqi mencoba menenangkanku. Setelah aku tenang, kami menanyakan alasan mengapa mereka harus dibunuh." Lanjut Tikara.


"Kenapa... kenapa kamu melakukan hal sekejam itu!? Apa salah para Livvy terhadapmu? 5 tahun lalu, kebanyakan dari mereka masih anak-anak bukan?!!" marah Nea.


Hazella menatap Nea dengan tenang, lalu bergantian menatap Tikara.


"Hei, bisa aku ambil alih ceritanya?" tanya Hazella santai. Tikara mengizinkannya.


"Akan kulanjutkan. Btw, pertanyaanmu mirip dengan Tika saat itu. Kau tau, saat itu Viqi adalah target ketigaku. Dengan kata lain aku 5 tahun lalu hanyalah gadis biasa yang dipaksa melakukan pembunuhan meski tak punya pengalaman."


"Dipaksa?!"