THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 3 (5)



"Seperti kata Kayla, ada tiga petunjuk. Untuk nama Viqueilan Dangela, dilihat dari segi manapun adalah nama dari benua Eropa. Itu adalah jawaban petunjuk pertama. Sedangkan sandi morse itu berguna untuk menunjukan negara di Eropa itu. 19 atau 91 bukan?" terang Reva diikuti anggukan Trio Viline.


"Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengakui ada 44 negara yang berada di Eropa. Jadi perpaduan angka yang benar adalah 19 dan bukan 91. Jika diurutkan sesuai abjad, negara ke-19 di benua Eropa adalah Italia," lanjut Kayla.


"Tapi tidak mungkin kalau tempat yang dituju itu Italia, karena jarak pulau ini ke Italia terlalu jauh. Jadi Italia itu bukanlah tempat, sedangkan yang benar adalah... Bahasa!" kata Reva.


"Sekarang kita masuk ke bagian kode. 658GLI(23) benar? Kalau dibaca dalam bahasa Italia kode itu menjadi... Sei(6), Cinque(5), Otto(8),G,L,I, [Due Tre](23). Setelah ini kita ambil masing-masing huruf depan dari setiap angka. S- C- O- G- L- I. angka 2 dan 3 dikurung, artinya mereka tidak diambil huruf depanya. Tapi tidak mungkin juga memakai huruf tengah, karena jadi tidak muncul artinya," terang Kayla detail.


"Kalau begitu bagaimana dengan dua angka terakhir? Gampang, untuk mereka kita ambil huruf belakangnya. Tapi sebelum itu, disana tidak ada angka satu, itu penting. Gunanya sebagai penanda. Angka dua hanya diambil satu huruf belakang, sedangkan angka tiga memakai dua huruf belakang, ngerti?" tanya Reva pada Trio Viline.


"ENGGAK," jawab mereka serempak.


"Huft, ya udahlah. Ku lanjutkan, hasilnya (23) itu menjadi due dan tre. E- R- E begitu, kalau yang sebelumnya digabung dengan yang ini. Maka hasilnya adalah... Scogliere. Dalam bahasa Italia, scogliere artinya adalah Tebing. Di pulau ini hanya tempat ini satu-satunya tebing. Jadi pasti disini," ujar Reva mengakhiri penjelasannya.


Trio Viline bertepuk tangat dengan kencang. Kode yang sangat rumit itu dipecahkan dengan mudah oleh si kembar, jadi mereka merasa sangat kagum. Di puji-puji seperti itu membuat Reva sedikit salah tingkah dan menunduk malu. Tingkah langka Reva itu membuat mereka berempat tertawa kecil.


"Kalian berbakat memecahkan kode sulit, kenapa kalian tidak jadi *Cryptologist saja?" tanya Nea pada Si kembar. Criptologist adalah seorang ahli dalam pemecah kode rahasia yang biasannya digunakan di kepolisian dan pemerintahan, juga bisa sebagai Agen SPY.


"Criptologist ya... bagus juga. Bagaimana Kayla?" ucap Reva. "Kedengarannya menyenangkan, kita jadi bisa memecahkan kode rahasia begitu. Apalagi di lembar karir bagian cita-cita, kita belum mengisinya. Ayo kita jadi itu," balas Kayla diikuti anggukan Reva.


"Baiklah, aku sudah paham garis besarnya. Sekarang sebuah pertanyaan yang berbeda muncul, ada apa dengan tebing?" ucap Nea menyadarkan keempat temannya.


"Pasti ada sesuatu dengan tebing ini. Perempuan yang dilihat Lizza juga bernyanyi di tebing ini bukan?" tanya Vio dibalas anggukan Lizza. Mereka memutuskan untuk mencoba menyari sesuatu yang ada di sekitar situ. Tentu mereka tidak berpisah terlalu jauh untuk memastikan keselamatan yang lainnya.


Namun meski sudah mencari sekitar dua jam, mereka sama sekali tidak menemukan apapun. Dan karena terlalu lelah, mereka beristirahat sebentar sambil bertukan informasi.


"Apa ada yang menemukan sesuatu?" tanya Vio.


Mereka tampak berpikir keras, tapi tetap saja tidak ada yang merasa ada yang aneh. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Villa dulu dan mengecek kondisi teman sekelas mereka, mengingat bahwa hari sudah mulai terang.


"AHH!!! Aku baru ingat! Aku belum menceritakan apa yang kulihat tadi ke Nea dan kembar ya?" seru Vio mengaggetkan Nea dan yang lain. Lalu sembari berjalan kembali ke Villa, Vio menceritakan tentang bekas geretan dan bercak darah yang masuk ke dalam lukisan itu.


"Kenapa kamu tidak mengatakan hal sepenting itu dari tadi bodoh..." marah Nea sambil mencubit pipi Vio dengan kedua tangannya. "Mwaaf... Kwan awu bwawu ingwat ( Maaf, kan aku baru ingat)" kata Vio.


Nea menghela napas panjang, sepertinya dari cerita Vio sudah membuat Nea berhasil memperoleh suatu kesimpulan. "Aku yakin, sesuatu yang ada di tebing adalah kunci untuk membuka pintu rahasia yang Vio temukan," kata Nea.


Kembar tampak berpikir lagi lalu saling memandang satu sama lain. Reva memberi isyarat pada Kayla dan Kayla menganggukan kepalanya. Tidak ada yang tau apa yang dibicarakan si kembar itu melalu isyarat mereka.


"Kalian pergi saja ke Villa dan mencari tau apa yang terjadi disana, biar aku dan Kayla yang mencari apapun itu di tebing," ujar Reva dengan senyum lebarnya.


"Tunggu? Apa itu tidak apa-apa? Maksudku... bukankah itu berbahaya?" tanya Vio khawatir. "Tenanglah, kami tidak apa-apa. Disaat seperti ini kita harus membagi tugas bukan?" jawab Kayla lembut.


"Tapi..."


"Biarkan saja mereka Vio, percuma kalau mau menghentikan si kembar. Lebih baik kita fokus saja dalam melakukan bagian masing-masing, oke?" ucap Lizza menenangkan Vio.


"Baiklah... tapi ingat! Jangan sampai terluka! Ini perintah ketua kelas!" tegas Vio. Reva dan Kayla tersenyum lebar dan mengankat tangan mereka tanda hormat, "SIAP KETUA!!" ucap mereka serentak sebelum pergi meninggalkan trio Viline.


"Kalau begitu, kita juga akan mengurus bagian kita," kata Nea sedikit datar.


"Oke"