THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 3 (2)



BEBERAPA SAAT YANG LALU~


"Nea tadi pergi kemana ya? Sudah hilang aja," gumam Lizza.


Lizza menolehkan kepalanya ke segala arah untuk mencari Nea, tanpa menyadari kalau Vio tidak mengikutinya.


"Menurutmu Nea kemana, Vio?" tanya Lizza. Tidak ada suara yang menjawabnya, Lizza berbalik untuk mengecek Vio tapi dia tidak melihat Vio sepanjang matanya.


"Vio? Jangan bilang Vio ketinggalan," cicit Lizza.


Disaat Lizza ingin kembali ke Vio, dia menghentikan langkahnya karena mendengar sebuah senandung yang merdu.


"Ini... Lagu?" tanya Lizza pada dirinya sendiri. Sebelum mengikuti asal suara itu, Lizza meninggalkan sweaternya didekat pohon agar Vio atau Nea tau dia pernah kesini dan menunggunya kembali.


Lalu Lizza mengikuti asal suara itu. Semakin dia berjalan masuk ke hutan, senandung itu semakin jelas. Setelah menyibak semak didekatnya, Lizza melihat seorang wanita cantik berambut pirang sedang duduk diatas batu yang cukup besar didekat tebing yang dibawahnya ada laut.


Wanita itu tidak memperhatikan Lizza karena dia terlalu menghayati lagunya sambil memandang bulan purnama. "Cantik, seperti peri saja," pikir Lizza. Suara wanita itu berhenti terdengar, dia berdiri dan berjalan ke ujung tebing dan berlutut memandang laut. Suara tangisan mulai terdengar.


"Kenapa dia menangis?" pikir Lizza khawatir.


Dalam beberapa detik hanya suara tangisan yang terdengar, sebelum wanita itu mulai menyanyi kembali.



Suara wanita itu sangat merdu dan menusuk hati, tanpa Lizza sadari air mata mulai mengalir begitu dia mendengar lagunya.


"Eh? Kenapa ini?" gumam Lizza sambil menyeka air matanya.


Sebuah tangan menyentuh pundak Lizza dan mengejutkannya. Spontan Lizza teriak kaget dan berbalik. Lizza mengenali pemilik tangan itu, dia adalah Nea. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Nea.


"Nea, lihat! Pantulan Bulan di Laut sangat indah ya," seru Lizza ke arah bawah tebing.


Nea berjalan pelan ke Lizza dan melihat ke bawah juga. "Iya memang indah, tapi agak menakutkan. Dibawah ada batu-batu tajam yang mencuat ke atas, kalau jatuh bisa bahaya," katanya. Lizza hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Mereka terlalu fokus melihat ke bawah tanpa sadar kalau dibelakang mereka ada seorang wanita yang menyeringai lebar. Wanita itu mengulurkan tangannya mendorong Lizza dan Nea ke bawah.


BYUUUURRR


Mereka beruntung karena mereka terjatuh ke laut bukan ke bebatuan disebelahnya. Lizza mulai berenang ke atas untuk melihat siapa yang mendorong mereka. Sayangnya tidak terlihat apapun dari bawah.


"Sakit, sepertinya kakiku terkilir," Lizza menahan rasa sakit dikakinya dan berenang ke arah bebatuan itu. Setelah dia duduk dan menjulurkan kakinya, dia memandang ke laut mencari sahabatnya. Rasa takut mulai menjelajahinya, sudah cukup lama namun Nea tak kunjung keluar dari air. Tanpa pikir panjang, Lizza melompat ke laut dan mencari Nea.


Setelah menemukan Nea yang semakin tenggelam, Lizza menarik Nea ke permukaan air. Dengan kondisi kakinya saat ini, sulit untuk Lizza berenang ke bebatuan itu lagi. Kakinya semakin terasa sakit dan tubuhnya kedinginan. Perlahan namun pasti, dia berenang mendekat bebatuan itu.


Sebuah ombak besar menariknya semakin jauh dari bebatuan hingga akhirnya Lizza tidak lagi bisa mempertahankan kesadarannya. Tubuh Lizza dan Nea terombang ambing di laut hingga terdampar di pesisir pantai.


"Begitulah ceritanya," kata Lizza.


Vio sangat terkejut mendengar cerita Lizza, dia langsung melirik ke kaki Lizza. Kakinya membengkak dan sedikit berwarna ungu. Wajah khawatir Vio sangat terlihat, namun Lizza hanya tersenyum dan berkata kalau dia baik-baik saja.


"MANA MUNGKIN BAIK-BAIK SAJA, DASAR BODOH!!!!" marah Vio.


Vio merobek sedikit kain di lengan bajunya dan mengambil ranting kayu didekat sana lalu memberi pertolongan pertama pada kaki Lizza. Sementara Vio mengobati kakinya, Lizza memperhatikan kepala Vio yang berdarah.


"Tunggu! Kepalamu kenapa?" tanya Lizza panik begitu melihat darah mengalir dari kepala sahabatnya. "Ah, ini..." Vio memegang kepalanya, dia baru sadar kalau kepalanya berdarah. "Memang sakit sih, tapi aku nggak nyangka kalau berdarah," pikir Vio.