THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 6 (5)



Normal POV


“Hebat juga kalian bisa sampai disini. Aku sudah menduga dari awal kalau kamu anak yang menarik dan bisa menghiburku, Violet Silvero,” ujar seorang gadis sambil duduk di kursi.


Di hadapan gadis itu terbaring banyak tubuh anak kecil dari berbagai usia. Hanya tiga anak saja yang masih bisa berdiri setelah berhadapan dengannya. Gadis kecil berambut pirang menggertakkan giginya karena sangat marah.


“Apa dari awal mempermainkan kami itu seru, ***** ??!!!!” jerit Vio marah.


“Entah apa yang dilakukan nenek sihir itu, mendadak semuanya pingsan begitu saja. Tubuhku juga rasanya berat dan sangat mengantuk, apa yang terjadi?” pikir Vio.


“Vio... aura kita... mulai meredup, mungkin... ini racun,” bisik Nea terputus-putus.


“Racun?!”


“HAHAHAHA!!!!! Seru katamu? Ya! Seru! Sangat seru! Setelah hidup begitu lama dan terus-terusan merasa bosan... aku akhirnya memperoleh tontonan dan mainan yang bagus. Tentu saja itu seru!!” tawa gadis itu.


“Dasar nenek lampir! Kamu pasti gila karena berpikir mempermainkan hidup orang itu seru!” marah Vio.


“Yahh... seumur hidupku belum pernah aku melihat anak umur 6 tahun secerdas dirimu. Apa kamu benar-benar masih berumur 6 tahun? Sebenarnya bagaimana caranya otak kecilmu itu merancang srategi seperti ini?” tanyanya.


“Tentu saja aku masih 6 tahun! Dilihat dari segi manapun aku masih anak kecil. Strategi mudah begini juga pasti bisa dipikirkan siapapun. Padahal kami hampir berhasil, sialan!” kata Vio berusaha mengulur waktu.


“Aku harus mengulur waktu, mungkin dia sudah tau rencana kami. Tapi aku masih punya kartu AS kemampuan asli kami. Sedikit saja... sebentar lagi kami bisa membalik situasi,”


“Jangan coba-coba berpikir kemampuan asli yang kalian sembunyikan akan berguna di saat seperti ini. Aku memang tidak tau kemampuan asli kalian itu apa. Tapi itu percuma saja,” ucap Prof Carla ( wujud fisik gadis 5 tahun ) dengan seringai di wajahnya.


“Apa?!!” kaget Vio.


Dalam beberapa detik setelah Vio mengatakan itu, tubuhnya ambruk dan sama sekali tidak bisa digerakkan. Hal yang sama juga terjadi pada Nea dan Lizza. “Obat yang kuberikan pada kalian punya dosis yang lebih tinggi dan berbahaya dari anak lainnya. Memang waktu bereaksinya lebih lambat tapi setelah itu bekerja, kalian tidak akan bisa melawanku.”


Sekarang sudah tidak ada anak yang masih sadar dan bisa bergerak. Prof Carla turun dari kursinya dan berjalan pelan ke arah Vio terbaring. Dia berjongkok dan mengangkat kepala Vio agar bisa dilihatnya dengan jelas.


“Anak ini... dia pasti bisa jadi penggantiku. Yang dibutuhkannya sekarang adalah kerusakan mental yang sama dengan yang diberikan para baj*ngan itu dulu padaku.”


Setelah mengatakan itu, Prof Carla kembali berjalan menuruni tangga dari atap. Dia memanggil bawahannya dan memerintahkan mereka untuk mengurung dan menyiksa anak-anak yang berani melarikan diri darinya itu. Kecuali, trio viline yang akan ditempatkan di ruangan yang berbeda.


...***...


“Ukhh...”


Vio akhirnya membuka matanya. Begitu dia sadar sepenuhnya, dia benar-benar terkejut karena sekarang dia berada di tempat awal dia saat diculik. Satu-satunya perbedaan adalah Vio terikat dengan kuat. Rantai mengikat kedua tangannya keatas dan kedua kakinya kebawah.


Tubuhnya juga diikat oleh beberapa kain ketat seperti dilakban. Mulutnya ditutup rapat oleh kain yang sama dan matanya dipasangkan kacamata aneh yang mirip kacamata lab.


Demi berjaga-jaga atas apapun kemampuan asli Vio, Prof Carla sudah memastikan untuk mengunci segala pergerakan Vio. Lizza dan Nea diperlakukan sama dan berdiri di hadapan Vio.


“Hmmf! Hff! Hmm!!” jerit Vio berusaha melepaskan dirinya dan membangunkan dua sahabatnya. Lizza dan Nea sadar tak lama kemudian dan bereaksi berbeda, Nea meronta-ronta seakan siap mengamuk sedangkan Lizza mulai menangis karena ketakutan. Perlu diingat bahwa ketiga anak ini masihlah anak kecil berumur 6 tahun, tidak peduli seberapa cerdas mereka.


“Hmmfff!!!!” jerit Vio marah.


“Aku paham... rasanya pasti kesal, takut, marah, tak berdaya bergabung menjadi satu bukan? Fufufu... melihatmu sekarang benar-benar mengingatkanku dengan diriku yang dulu,” kata Prof Carla sambil menaikkan dagu Vio.


“Hahh~ Sayang sekali... padahal kedua temanmu punya kemampuan yang pasti luar biasa juga. Tapi yang namanya pengorbanan selalu dibutuhkan bukan?” lanjutnya.


“Hngggff hmmmff!!! Grmmff Mmm ffmfm nggnn!!( Apa maksudmu?!! Apa yang mau kau lakukan pada mereka?!!!)” ucap Vio tidak jelas.


“Baiklah... cukup basa basinya. Violet Silvero! Mana dari dua temanmu ini yang ingin kau selamatkan? Aku bisa membantumu menyelamatkan hanya satu nyawa saja. Saaa... pilihlah! Nyawa kedua temanmu berada di tanganmu!” ujar Prof Carla dengan wajah tersenyum mesum.


“Mfffmm hmmff hmmrr mnggf hwemmff!!! ( Mana mungkin aku bisa memilih!!!)” jerit Vio marah.


“Hmm... aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Hei! Kamu! Lepaskan penutup mulut Vio!!” suruh Prof Carla pada bawahannya.


“Tapi Nyonya... kalau kemampuan Nona Violet berhubungan dengan suara, itu akan berbahaya,” jawab bawahan Prof Carla.


“Lancang! Perintah tuanmu adalah mutlak. Lakukan atau mati!” marah Prof Carla.


Bawahan itu langsung bergerak cepat untuk membuka penutup mulur Vio. Lalu segera pergi dan kembali mengamati dari balik jendela bersama beberapa ilmuwan dan bawahan lain.


“AKU TIDAK SUDI MENGIKUTI KATA-KATAMU!!!” jerit Vio begitu penutup mulutnya dilepas. Prof Carla tersenyum melihatnya dan mengangkat tangan kanannya tinggi lalu meluncurkannya ke bawah. Bersamaan dengan itu...


“MFFRRRR!!!!!” jerit Nea dan Lizza kesakitan.


Tangan kanan mereka terputus dari tubuh mereka dan darah mencuar dengan deras kemana-mana. Mereka menjerit sangat kencang dan banjir air mata.


Vio sangat kaget hingga matanya melotot. “HENTIKAN!!!!!”


“Hahahahah!!! Kamu masih mau bilang tidak sudi ikut? Atau masih mau bilang kalau kamu tidak bisa memilih? Kalau begitu hal ini akan terus-terusan terjadi,” tawa Prof Carla.


“Kumohon padamu... hentikan itu!! Tolong obati mereka! Kalau terus begini mereka bisa mati kekurangan darah,” pinta Vio sambil menangis.


“Bukannya aku sudah bilang? Aku hanya bisa menyelamatkan satu nyawa, jadi pilihlah siapa yang ingin kamu selamatkan!” ucapnya sinis.


Wajah Vio memucat, dia sama sekali tidak bisa memilih hanya satu orang saja. Tubuhnya bergetar ketakutan, di dalam hatinya dia sudah memanggil keluarganya berkali-kali. Perutnya mual, Vio sama sekali belum pernah melihat darah sebelumnya. Meski dia sok-sokan tegar mendengar kematian, tapi justru Violah yang paling takut dalam hatinya.


Prof Carla hanya menatap Vio tanpa rasa kasihan. “Lama!” ucapnya, mendengar itu seorang ilmuwan menekan tombol di ruang kontrol balik jendela dan membuat tangan kiri Lizza dan Nea terputus seperti tangan kanannya.


“HMMRRGGHH!!!!” jeritan keras menyadarkan Vio kembali ke kenyataan. Lizza dan Nea sudah di ambang batas mereka. Kesakitan yang bahkan tidak akan bisa ditahan oleh orang dewasa menyiksa tubuh dan pikiran anak-anak berumur 6 tahun itu.


“Cukup... hentikan... aku mohon... bunuh saja aku...”


Vio menggelengkan kepalanya sambil menggigil ketakutan. Matanya yang sudah banjir menatap dua sahabatnya yang dalam keadaan mengerikan. Mata Nea sudah seperti ikan mati dan tidak kuat untuk melanjutkan hidup. Lizza pingsan setelah tangan kirinya putus dan kulitnya mulai membiru.


“Hahahaha!!!! Ayo pilih! Ayo pilih! Ayo pilih!” kata Prof Carla tersenyum mengerikan.