
HARI KE-5
Ini sudah 5 hari sejak kami diculik. Kalau dalam waktu ini polisi belum menemukan kami, maka tempat ini pasti sangat tersembunyi. Selama 5 hari ini, Vio bukannya tidak melakukan apa-apa. Vio mengamati paman dan bibi berjas dan juga anak-anak bagian lain saat jam makan di kafetaria. Berkat itu, Vio jadi tau beberapa fakta.
Banyak dari anak-anak yang culik merupakan putra dan putri dari orang terkenal, dengan mereka semua pasti polisi dan agen lain harus ekstra berusaha untuk mencari kami.
Sepertinya tempat ini berada di tengah hutan.
Paman dan bibi ini merupakan orang-orang dari negara yang berbeda.
Bahasa yang mereka gunakan bukan bahasa dari negri manapun, namun bahasa ciptaan sendiri. Tapi Vio sudah paham dan fasih dengan bahasa mereka, pintarkan!!
Organisasi ini disebut Novichock. Dalam bahasa Rusia, Novichock artinya adalah pendatang baru. Vio tidak tau kenapa mereka bernama itu.
Pemimpin mereka disebut Prof. Carla. Vio belum pernah melihatnya, tapi sepertinya dia orang hebat.
Vio dan anak lain tidak dikekang, selain tidak boleh keluar kamar sejujurnya kami cukup bebas. Didalam kamar juga disediakan berbagai mainan dan buku.
Tapi... ada satu fakta yang paling mengganggu Vio. Itu adalah fakta kalau semakin hari, jumlah anak-anak yang makan di kafetaria semakin sedikit. Awalnya ada sekitar 90 anak yang ada, namun di hari kedua turun jadi 87, hari ketiga jadi 82, hari keempat jadi 76 dan sekarang tinggal 70 anak.
Selama ini, Vio selalu mendiskusikan segala sesuatu dengan Nea dan Lizza. Mereka adalah anak-anak yang sangat cerdas. Vio belum pernah merasa senyambung ini bicara dengan anak lain sebelumnya. “Pasti ada hubungannya dengan obat yang kita minum. Anak dari Lab A dan B tidak minum obat itukan?” sambung Lizza.
Seperti yang dibilang Lizza. Fakta terakhir yang Vio tau adalah hanya anak-anak dari Lab C yang disuruh minum obat tertentu sebelum tidur. Anak yang tidak minum akan di pukul oleh paman profesor jadi semua anak minum itu. Vio tidak tau itu obat apa dan apa efeknya. Tapi setiap kali minum obat itu, rasanya ada sesuatu yang aneh menggerayangi tubuh Vio.
“Aku tidak tau apa yang terjadi pada anak dari lab lain. Anak dari Lab A yang dipanggil paman profesor tidak pernah kembali lagi. Sedangkan anak dari Lab B, setelah dipanggil ada dari mereka yang tidak kembali dan ada dari mereka yang jadi aneh,” timpal Vio.
“Kita harus menyelidiki ini... mungkin karena kita adalah anak-anak kecil yang masih berumur 5-10 tahun, mereka tidak menjaga kita dengan ketat. Kita harus memanfaatkan itu untuk mencari tau apa yang mereka lakukan pada kita. Malam ini ayo kita memata-matai mereka!” ucap Nea panjang.
Aku tau Nea itu anak dari keluarga kepolisian, makanya Nea lebih dewasa dan tenang dari anak lain. Tapi tetap saja, Nea masih anak-anak. Seorang anak kecil dengan pikiran naif dan rasa keadilan besar. Dia bisa saja terbunuh kalau itu terus berlanjut. Vio tau, anak-anak yang menghilang itu pasti sudah mati. Tidak ada alasan untuk menyembunyikan mereka, meski para profesor bilang kalau anak yang hilang itu dikembalikan kerumah mereka karena sudah tidak perlu di obati.
“Para profersor itu bilang kalau mereka dokter dan kami ini pasien yang terkena wabah. Jadi meski harus memakai kekerasan, mereka akan mengobati kami sampai sembuh. Huh, omong kosong yang menggelikan.”
“Yang kamu katakan benar Nea, tapi jangan gegabah atau kamu bisa jadi anak yang menghilang juga loh,” ucapku. “Aku tau! Tapi....”
“Tenang... tenang, Vio punya rencana yang lebih baik daripada itu. Tapi untuk itu, kita harus sabar dan menunggu saat yang tepat oke? Untuk sekarang, yang bisa kita lakukan adalah tetap tenang dan kumpulkan informasi sebanyak mungkin dari mengamati mereka,” balas Vio. “Kalau kamu bilang begitu... baiklah.”
Sepertinya Nea sudah menyerah dengan ide gilanya, baguslah. Vio melambaikan tangan untuk memanggil Lizza dan Nea agar lebih mendekat dengan Vio, lalu Vio mulai membisikkan rencana Vio pada mereka.