THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 4 (4)



~Sementara itu, di alam bawah sadar Vio~


"Ahahaha, anak itu mengatakan sesuatu yang tidak berguna. Dia bilang jangan sampai kakak menempatkan dirinya terlalu jauh, itu bagian yang lucu,"


Litt tertawa mendengarnya, tapi bukan tanpa alasan. "Mereka bahkan tidak tau, kalau kak Tika sudah masuk terlalu dalam ke masalah ini. Sampai ke tahap dia tidak bisa kembali lagi. Dia hanya melupakannya saja, dan itu tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat, ingatan kakak tentang pulau ini 5 tahun lalu pasti kembali. Saat itu maka cerita pulau akan menuju bagian klimaks-nya."


Litt lagi-lagi hanya berkomentar sendiri sambil melihat sesuatu seperti layar film. Dia bahkan juga menyiapkan pop corn-nya tak lupa dengan segelas cola.


"Tidak ada yang benar-benar berbahaya sejauh ini. Seperti yang pernah kubilang, Vio pasti bisa mengatasinya. Dan untuk wanita itu, asal Vio bekerja sama dengan yang lain bahkan wanita itu takkan bisa melukainya," lanjutnya.


"Justru yang benar-benar bahaya adalah si jala*g itu, dasar serigala berbulu domba. Hati-hatilah Vio, musuhmu yang sebenarnya sekaligus musuh terbesarmu adalah salah satu dari temanmu itu," kata Litt marah.


Alasan Litt tidak keluar meski dia tau banyak informasi serta hal yang bisa membahayakan Vio dan hanya berkomentar saja, bukan karena dia tidak mau tapi dia tidak bisa. Litt sudah menggunakan terlalu banyak energinya, dan hanya tersisa cukup sedikit. Kalau dia selalu keluar karena masalah sepele, maka energinya akan habis dengan cepat dan dia tidak akan bisa menolong Vio disaat yang benar-benar dibutuhkan.


Litt hanya bisa berkomunikasi dengan Vio di waktu yang singkat saat Vio meminum obatnya, dia tidak perlu menggunakan energinya pada saat itu. Selama ini Litt berusaha menyimpan energinya untuk menghadapi orang yang disebut musuh terbesar Vio.


Sebenarnya tanpa Vio sadari, Litt selalu melindungi dan mendukungnya diam-diam. Dia juga beberapa kali menyelamatkan nyawa Vio dan teman-teman Vio. Namun sayang, Vio sama sekali tak ingat itu.


"Baiklah, karena sekarang mereka bertiga sudah pergi. Bisakah aku menanyakannya, Nea?" tanya Vio. "Tentu."


"Apa alasanmu yang sebenarnya menyuruh mereka pergi adalah karena 'itu'?" tanya Vio dengan tatapan tajam. "Jadi kamu menyadarinya? Seperti yang diharapkan dari Vio," jawab Nea dengan seringainya. Melihat kelakuan dua temannya, Lizza hanya kebingungan saja.


"Apa yang kalian bicarakan sebenarnya?" tanya Lizza bingung.


"Hahh!!! Bukankah ini sudah saatnya kamu melepas topengmu dan jujur saja, wanita asing yang menyamar jadi Lizza," balas Nea sinis.


CTAARRR!!!!!


Bagai petir di pagi buta, Nea mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan. "A... apa yang kamu katakan? Aku asli kok, ya kan Vio?" kaget Lizza.


"Aku juga sadar itu, kau pikir kami bodoh," kesal Vio. Lizza menjadi semakin terpojok, dua anak didepannya menatapnya tajam. Matanya mulai berair, lalu dia menunduk ke bawah. Tak lama sampai mulai terdengar suara.


" Ha... ha... hahahahahha!!!! Hebat sekali! Sepertinya aku terlalu meremehkan kalian. Kapan dan bagaimana kalian sadar kalau aku palsu?" jerit Lizza palsu kegirangan.


"Sudah kuduga, kalau aku tentu sejak awal," jawab Nea santai.


"Bagaimana denganmu, Vio?" tanya Lizza palsu lagi.


Vio diam dan menatapnya dengan tatapan jijik bercampur marah, dia sudah menahan diri untuk tidak meledak segera setelah dia bahwa temannya yang sebenarnya hilang. "Bukankah kamu jadi Lizza palsu sejak kita keluar terowongan," jawabnya ketus.


"Sederhana, karena ada 4 hal. Yang pertama, Lizza tidak akan memanggil kakak dengan sebutan 'Bu Tika' saat hanya ada kami, tapi dia akan memanggil dengan sebutan 'Kak Tika' karena dia sudah kenal dekat denganku sejak kecil. Kedua, Lizza itu suka sekali menggulung lengan bajunya. Tapi begitu keluar terowongan, lengannya tertutup. Itu untuk menutupi lukamu sebelumnya-kan. Ketiga, Lizza tidak banyak bicara hari ini. Meski dia termasuk ke tipe cewe yang cerewet, itu demi mengurangi kesalahan saat kamu jadi Lizza," kata Vio malas.


"Kalau hanya itu bukannya tidak ada alasan yang berdasar?" tanya Lizza palsu lagi.


"Ck, berisik. Bukannya sudah kubilang karena 4 hal. Hal yang terakhir adalah kesalahanmu yang paling fatal. Alasan keempat adalah, HP Lizza. HP-nya tidak mungkin konslet. Karena apa? Karena HP-nya ada di sweater miliknya dan dia meninggalkannya, baru aku ambil. Saat Lizza jatuh, dia tidak memakai sweater. Jadi tidak mungkin HP-nya konslet, aku juga beru memakaikan sweaternya setelah dia ada di pantai," lanjut Vio kesal.


"HP ya?!! Hahaha, karena alasan sederhana itu aku ketahuan. Kamu memang cerdas, meski aku yang menjatuhkan mereka berdua, aku benar-benar lupa tentang sweaternya. Bagus gadis kecil."


Suara tawa Lizza palsu terdengar dengan keras. Setelah cukup lama tertawa, dia menarik napas panjang dan mulai memasang tatapan mengintimidasi. "Aku paham cara Violet menyadari itu. Sekarang, cara yang kamu pakai untuk menyadariku tidak biasa bukan, Jeannea Bluonna?" kata Lizza palsu. "Kemampuan melihat aura memang merepotkan," lanjutnya.


Baik Nea maupun Vio sangat kaget mendengarnya. Selama ini Nea hampir tidak pernah mengatakan kemampuannya pada siapapun. "Kamu! Kenapa kamu bisa tau itu?" curiga Nea.


"Ya itu tentu saja, aku memiliki informasi tentang itu. Menurutmu aku akan menyerang musuh tanpa tau apapun tentangnya?" jawab Lizza palsu santai.


"Hei! Aku sudah lama curiga, tapi... apa kamu benar-benar roh gentayangan dari perempuan yang ada di lukisan? Viqueilan Dangela? Atau kamu hanya menyamar menjadi dia?" tanya Vio. Vio sudah bersiap memikirkan segala kemungkinan yang dia bisa, selama ada petunjuk untuk itu. Mungkin banyak yang lupa, tapi Violet Silvero adalah siswa terpintar di pantarannya.


"Kenapa kamu bisa berpikir kalau aku bukan dia?" tanya Lizza palsu dengan seringainya.


"Pertanyaan lagi? Ini bukan wawancara kerja," kesal Vio dalam hatinya. "Aku sudah sering memikirkannya, kalau orang dengan kemampuan tak biasa seperti Nea itu ada. Pasti ada orang yang serupa dengannya, bisa saja kamu menyamar menjadi Viqueilan Dangela untuk mempermudah aksimu. Karena kamu bisa beralasan bahwa kejadian ini adalah kejadian mistis orang yang sudah mati," jawab Vio.


"Ohh, cerdas. Kamu benar-benar sang jenius penghancur organisasi, huh. Walau kamu mungkin sudah lupa," balas Lizza palsu. Vio dan Nea hanya diam karena tidak mengerti maksud perkataan perempuan didepan mereka.


"Kamu benar, aku bukan Viqueilan Dangela. Dan alasanku menyamar jadinya kurang lebih seperti katamu. Sebagai hadiah untuk tebakan benarmu aku akan menjawab 1 pertanyaanmu sebelum membunuhmu, bagaimana?" tawar Lizza palsu.


"Terimakasih hadiahnya, tapi maaf aku tidak akan mati," jawab Vio ketus. "Satu pertanyaan ya? Kalau begitu..."


"Katakan padaku, apa... orang-orang sepertimu dan Nea ada banyak? Dan apa target yang ingin kau bunuh adalah orang seperti itu? Soalnya kamu tidak membunuh yang lain dan justru menolong kak Tika," lanjut Vio.


"Dari semua kemungkinan pertanyaan, malah yang itu?By the way, itu sudah lebih dari satu loh, ya sudahlah. Ya, ada banyak orang seperti kami. Jumlah pasnya ada 57 orang, walau sekarang tersisa kurang dari sepersepuluhnya. Dan kamu benar lagi, targetku adalah ke-57 orang yang disebut Livvy. Aku tidak akan membunuh orang yang tidak bersangkutan," terang Lizza palsu malas.


"Livvy?"


"Kamu menanyakan itu, apa kamu tidak penasaran tentang keberadaan temanmu yang asli atau identitasku yang sebenarnya?"


"Aku tidak perlu menanyakan keberadaan Lizza asli, soalnya Nea sepertinya sudah tau. Lalu, siapa kamu sebenarnya? Apa masih harus menanyakan itu? Setelah kamu mengatakan kalau kamu bukan Viqeuilan Dangela, maka sudah jelas kamu itu siapa. Karena kamu adalah..."


[ Wah, wah. Cha_nyann ngajak main tebak-tebakkan lagi nih. Ada yang tau gak siapa identitas orang itu sebenarnya? Daripada yang sebelumnya, misteri yang ini lebih mudah ditebak loh. Editor Cha_nyann aja bisa tau siapa dia sebenarnya, pasti kalian juga bisa. Coba tebak di kolom komentar oke ]