THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 7 (2)



Vio membuka matanya perlahan. Mata biru laut itu telah sepenuhnya menjadi merah ruby dengan simbol aneh berwarna emas bersinar.


Gadis itu menoleh ke sekelilingnya untuk


mencari tau dimana dia berada.


“VIO!!!” panggil tiga orang bersamaan.


Tikara, Nea dan Lizza segera menghampirinya begitu Vio sudah membuka matanya. Mereka terlihat panik dan lega disaat yang bersamaan.


“Walaupun cuma Living Doll, tapi mereka juga bisa dibilang Nea dan Lizza karena aku sama sekali tidak mengontrol mereka,” pikir Vio begitu dia melihat dua sahabatnya.


“Vio! Apa kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi dengan matamu? Apa saat ini kamu sedang menjadi Litt?”


Vio dihujani pertanyaan begitu dia bangun. Vio hanya tersenyum dan berkata, “Sudah tidak ada lagi Litt dan Vio yang berbeda. Sekarang aku sudah tidak berkepribadian ganda lagi, kami sudah menjadi satu orang yang sama,” kata Vio menjelaskan.


“Dia benar... auranya sudah menyatu jadi ungu terang,” ucap Nea dalam hati.


“Aku tidak mengerti tapi syukurlah kamu baik-baik saja,” ucap Lizza terharu.


Nea juga terlihat sedikit menitikkan air mata karena bersyukur Vio bisa bangun. Vio berusaha membangunkan dirinya agar duduk, namun seluruh tubuhnya kesakitan karena perarungan yang dilakukan dengan Hazella sebelumnya.


“Kamu tidak perlu memaksakan diri. Tiduran saja ya...” ujar Tikara dengan wajah memelas.


Melihat itu Vio sama sekali tidak bisa menolak dan membiarkan tubuhnya terbaring. Vio melihat ada orang lain di kasur sebelahnya, itu adalah mayat Hazella. Dalam sekali lihat saja Vio sudah tau kalau tubuh disampingnya sudah mati.


“Jadi begitu... melihat bahwa Hazella sudah mati artinya kalian sudah mendengar beberapa hal ya,” ucap Vio agak dingin.


“Sampai sejauh mana kalian mendengarnya?” tanya Vio pada mereka bertiga.


Tikara, Nea dan Lizza menjelaskan semua yang mereka dengar tanpa terlewat satu hal-pun. Vio menyimak dengan baik dengan raut wajah tenang.


“Begitu ceritanya,” kata Nea mengakhiri penjelasannya.


Mereka bertiga menunggu respon Vio. Vio tetap berwajah tenang dan sibuk memikirkan sesuatu. “Sebenarnya siapa profersor yang mengendalikan Hazella?” tanya Lizza entah pada siapa.


Tikara enggan meninggalkan adiknya itu. Dia merasa bahwa Vio merencanakan sesuatu yang berbahaya dan tidak ingin melibatkannya.


Di satu sisi dia ingin memaksa Vio untuk mengandalkannya namun disisi lain dia juga ingin percaya dan tidak bisa menolak permohonan Vio.


“Ukh... baiklah. Tapi jangan melakukan hal berbahaya jika aku tidak ada, oke?”


“Baik!” jawab Vio bohong.


Tikara lalu pergi meninggalkan ruangan dan menuju ke tempat murid-muridnya yang lain berkumpul. Di saat yang sama Vio menatap Lizza dan Nea dengan serius. Dia menjelaskan bahwa ingatannya saat kejadian 10 tahun yang lalu sudah kembali dan Vio juga menjelaskan kemampuan asli Nea dan Lizza.


“... itu adalah kemampuan asli Nea. Untuk Lizza, kemampuanmu yang sebenarnya adalah Memory Manipulation,” jelas Vio.


“Memory Manipulation?”


“Iya, Lizza tidak hanya bisa menghapus ingatan saja. Namun kamu bisa memanipulai ingatan semaumu. Banyak variasi penggunaan kemampuan ini. Sejauh yang kutahu adalah menghapus ingatan, melihat ingatan dan yang paling berbahaya adalah merubah ingatan. Kamu bisa melakukan semua itu semaumu, tentu saja ada batasannya juga.”


“Aku tidak menyangka Lizza punya kemampuan sehebat itu,” kaget Nea.


“Aku juga tidak nyangka kalau bisa lihat aura sebelumnya. Sekarang ditambah bisa melakukan semua itu,” balas Lizza. “Kenapa kamu tidak melihat kemampuan kami lewat matamu, bukannya kamu bisa melakukannya?” lanjutnya.


“Benar juga, aku akan mencobanya.” Nea segera meningkatkan fokusnya saat menatap aura kuning terang Lizza dan biru laut Vio. Setelah dia lebih fokus, Nea memang bisa melihat beberapa detai kemampuan seseorang.


“Aku belum pernah bertemu Livvy sebelumnya, jadi tidak tau kalau mataku bisa digunakan seperti ini,” ucapnya terkejut.


“Karena kalian sudah tau kemampuan asli kalian. Maka langsung saja, daripada aku repot-repot cerita. Lebih baik Lizza... gunakan kemampuanmu untuk membuka ingatan kalian berdua secara utuh,” kata Vio serius.


“Mungkin kalian akan menyesal karena mengingat kembali kenangan buruk itu, tapi kalau kalian tidak ingat akan sulit melawan Prof Carla,” sambung Vio.


“Oke! Aku mengerti!” jawab Lizza cepat.


Lizza langsung bisa mengeluarkan kabut putih seperti yang dia lakukan dulu. Mungkin karena tubuhnya ingat cara melakukannya, itu tidak sulit dilakukan lagi. Kabut putih itu punya efek yang berkebalikan dengan yang dia keluarkan 10 tahun lalu. Kali ini kabut ini berfungsi untuk meregenerasi ingatan orang yang menghirupnya. Seperti dulu, Lizza dan Nea pingsan begitu menghirupnya. Tapi begitu bangun nanti, mereka akan kembali dengan ingatan yang utuh, seperti yang terjadi pada Vio.