
LIZZA POV
"Ukh... kepalaku sakit," keluhku.
"Tempat apa ini? Aku tidak bisa melihat apa-apa. Sebentar, bukannya tadi aku sama Vio dan Nea. Dimana mereka?"
Di tempat yang sangat gelap tanpa pencahayaan ini, aku tidak bisa melihat apapun. Ingatan terakhirku adalah aku memasuki lukisan bersama Vio, Nea dan si kembar. Setelahnya... Sakit! Ah iya, aku ditusuk sesuatu yang kecil di lenganku. Apa itu semacam suntik?
Memikirkannya sekarang tidak berguna, sekarang yang harus kulakukan adalah mencari cara menemukan Vio dan Nea lagi. Kulangkahkan kakiku ke sembarang tempat untuk pergi dari sini secepatnya.
NYUUUTT
"Hmm? Apa aku baru saja menginjak sesuatu yang empuk?"
"Eh!!!? Apa ini? Apa yang aku injak barusan?"
Walau sedikit takut, aku mencoba menyentuh benda yang kuinjak barusan. Tekstur ini... mirip seperti kulit. Tunggu? Kulit? Aku nginjak orang? Gawat!!!
"Aku benar-benar minta maaf!!!"
"...."
"Hmm? Tidak ada jawaban? Jangan bilang? MAYAT?!!!" Seluruh tubuhku merinding saat membayangkan aku menginjak mayat. Habisnya, kan gak lucu kalau aku menginjak sesuatu seperti mayat.
"Tidak... belum tentu juga, ayo pastikan dulu Lizza," kataku.
Setelah menyentuhnya lagi, aku benar-benar yakin kalau yang kuinjak bukan mayat. Orang ini masih hidup, dia hangat. Karena disini tidak bisa melihat apapun, jadi kalau aku merabanya untuk memastikan dia siapa tidak masalahkan.
Setelah cukup lama merabanya, aku bisa tau beberapa hal seperti orang ini adalah perempuan, rambutnya pendek, badannya pas-pasan, dsb. Apa dia pingsan? Aku akan membangunkannya dan menanyai apa yang sebenarnya terjadi.
"Hei! Kamu! Bangun! Ini bukan saatnya untuk tidur! Hei!!!!! BANGUN!!!!!" jeritku sambil menggoyangkan tubuhnya.
"Ukhh... berisik... Siapa sih?" jawab gadis itu.
Ohhh, syukurlah dia bisa bangun. "Siapa kamu? Apa kamu murid Bu Tika? Kalau iya, aku Lizza," ucapku.
"Apa? Wakil ketua?" kaget gadis itu. "Eh? Kita ada dimana wakil ketua? Aku tidak bisa melihat apapun?" lanjutnya.
Jadi dia benar teman sekelasku, dia tidak tau apa yang terjadi padanya? Hmm... menjelaskan situasi yang sebenarnya akan merepotkan, mereka tidak boleh terlalu banyak tau demi keselamatan mereka sendiri. Walau aku ingin segera pergi ke tempat Vio dan Nea, tapi aku tidak bisa meninggalkan gadis ini begitu saja.
"Dari suaramu... kamu Aliya-kan? Teman masa kecil Vio?" tanyaku padanya.
"Ah, benar,"
"Apa yang terakhir kamu ingat Aliya?"
"Ingatan terakhir? Anu... itu... kalau tidak salah... saat kebakaran terjadi, aku dan Aini melarikan diri keluar. Disana sudah banyak murid yang juga berhasil keluar, salah satunya si kembar Novalia. Lalu... seorang anak mulai bernyanyi."
"Bernyanyi?"
Apa maksudnya itu? Apa itu saat yang tepat untuk melakukannya?
"Iya, dia bernyayi sangat merdu... namun... entah kenapa mengiris hati. Setelah itu kepalaku mendadak pusing dan... kesadaranku hilang. Mungkin aku pingsan saat itu, aku tidak ingat apa yang terjadi setelahnya," lanjut Aliya.
Nyanyian merdu namun mengiris hati, entah kenapa mengingatkanku dengan wanita yang ada di lorong jurang waktu itu. Apa mereka orang yang sama? Tapi ada yang aneh... saat itu, kenapa dia mencoba membunuh aku dan Nea?
"Baik, wakil ketua."
Kami mulai meraba sekeliling dan tepat seperti dugaanku, ada banyak murid lainnya disini. Murid pertama yang kami temukan adalah teman dekat Aliya, Aini. Apa yang dia katakan kurang lebih sama dengan yang dikatakan Aliya. Dan tidak hanya dia, setelah kami menanyai semua murid yang ada disini, jawaban mereka semua hampir sama.
"Tidak salah lagi, pasti ini ulah wanita itu," gumamku pelan.
"Apa kamu mengatakan sesuatu wakil ketua?" tanya Aliya.
"Tidak... tidak ada, aku hanya memikirkan cara kita keluar dari sini," jawabku bohong. "APA ADA DARI KALIAN YANG MENEMUKAN SAKLAR??!!" jeritku.
Mereka dengan kompak menjawab tidak. Ck.. tidak ada yang membawa HP saat ini. Kita pasti sudah digeledah saat datang kesini. Hpku... ketinggalan di lantai 1 Villa, ya. Saat ini menunggu Vio dan Nea menyelamatkan kami mungkin pilihan teraman. Tapi aku tidak bisa diam saja, bisa jadi mereka sedang menghadapi sesuatu yang berbahaya dan justru lebih butuh pertolongan.
Kalau memang begitu, aku harus segera keluar dari sini dan menyelamatkan mereka. Tidak ada banyak waktu, aku bahkan tidak tau sekarang jam berapa. Bisa jadi sudah malam hari lagi, mengingat bahwa aku tidak mengantuk sama sekali bahkan saat aku tidak tidur kemarin malam.
"Lizza!!! Kesini aku menemukan sesuatu!!" jerit anak bernama Aini.
"Apa yang kamu temukan? Aku datang!"
Apa yang dia temukan? Itu akan sangat berguna kalau itu adalah sebuah pintu. Tapi kebetulan macam apa itu.
"Jadi, apa itu?" tanyaku.
"Coba sentuh ini!!" Aini menarik tanganku dan mengarahkannya pada hal yang ditemukannya. Ini sebuah... tongkat panjang? Tidak bukan, sebuah sarung pedang!!! Dilihat dari panjangnya, sebuah katana ya... fiuhh, untung waktu SMP aku pernah belajar kendo. Jadi aku bisa memakainya walau tidak begitu mahir.
"Wakil ketua!!! Aku juga menemukan sesuatu!! Ini sebuah pintu kayu," jerit anak lainnya.
Sebilah katana dan pintu kayu?? Oi, oi, oi... apa-apaan kebetulan ini? Apa dewi keberuntungan berpihak pada kita? Orang macam apa yang memasukkan kita kesini? Dia sama saja bilang, "Silahkan saja keluar dari sini, kalian bisa menggunakan pedang itu untuk membelah pintu kayu rapuh ini," Begitu?! Apa dia bodoh?? Yah, itu bagus sih.
"Berikan pedangnya padaku! Kalian semua menjauh dariku sedikit, aku akan membuka paksa pintu ini."
Terdengar suara langkah kaki menjauh dariku, sepertinya mereka sudah cukup jauh. Baiklah, aku mulai mengambil kuda-kuda dan bersiap untuk menebas pintunya. Pedang ini terayun dengan mudah, dan tepat sebelum mengenai pintu...
CKLIKKK
Sebuah suara menghentikanku seketika. Itu adalah suara kunci terbuka, tak lama setelah suara itu terlihat pintu mulai terbuka dan kami bisa melihat cahaya lagi. Tiga perempuan nampak didepan pintu dengan wajah khawatir.
"Bu... Tika? Dan kembar? Apa yang kalian lakukan disini?" tanyaku spontan.
"Oh, syukurlah bu guru. Kita bisa menemukan teman sekelas yang hilang," kata Reva.
"Reva!! Bukankah tadi... Lizza ada bersama Vio dan Nea di kuil? Kenapa bisa ada disini?" tanya Kayla sedikit takut, Reva dan Bu Tika ikut kaget mendengarnya.
"Apa??? Aku tadi bersama Vio dan Nea di kuil? Tapi daritadi aku disini dengan yang lain," kagetku.
Oiii, jangan bilang... wanita penyamar itu... menyamar jadi aku? Kalau begitu gawat!!! Vio dan Nea dalam bahaya, aku harus pergi menolong mereka.
Tanpa mikirkan apapun, aku langsung berlari secepat yang kubisa. Suara teriakan panik terdengar dari arah ruangan tadi. Mereka pasti mencemaskanku... tapi aku tidak bisa tetap disini lebih lama. Aku membawa katana-nya denganku, untuk berjaga-jaga.
Entah kenapa, walau aku tidak tau dimana ini tapi aku merasa bahwa aku ingat jalan keluar dari sini. Kenapa ya? Misterius sekali. Tapi abaikan saja itu sekarang, ada yang lebih penting dari memikirkan itu.
"Vio... Nea... tolong jangan sampai terluka. Bertahanlah! Aku datang!"