THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 4 (2)



"Maaf, maaf. Jadi apa kalian menemukan sesuatu," tanya Vio dengan cengirang lebar.


Lizza menggeleng malas, si kembar memegang subuah kotak yang kotor dengan tanah dengan senyum lebar diwajah mereka. Sedangkan Nea sibuk berpikir di dunianya sendiri.


"Aku menemukan sesuatu yang gak kalah bagus dari si kembar loh," ucap Vio senang.


"Hmm? Apa yang kamu temukan?" tanya Nea sadar.


"Fufufu, jeng jeng jeng!!!!" seru Vio sambil mengangkat tinggi-tinggi apa yang dipegangnya. Nea dan yang lain cukup terkejut bahwa Vio berhasil menemukan sesuatu yang memberi mereka petunjuk.


"Penemuan yang bagus, setidaknya kita jadi tau beberapa hal seperti wajah mereka berempat dan fakta bahwa si Viqi ini cukup menyukai mereka," ujar Lizza.


"Justru karena itu aku merasa ada yang aneh, kalau Viqi itu cukup akrab dengan mereka harusnya tidak akan terjadi masalah apa-apa. Tapi kecelakaan Viqi yang mencurigakan dan si hantu itu malah muncul, pasti ada yang salah disini," kata Vio.


"Kamu benar, dan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, kita bisa melihat penemuan si kembar," balas Lizza dibalas anggukan semua orang.


Lizza memberi isyarat agar si kembar membuka kotak yang mereka temukan. Dan benar saja disana terdapat sebuah kartu kunci dan sebuah kotak lain yang berukuran lebih kecil. Kotak itu terbuat dari besi dan untuk membukanya mereka harus memasukin 5 digit pin ke dalamnya, seperti cara kerja koper lama.


"Kalau kuncinya berupa kartu, pasti ada tempat untuk menggeseknya. Sementara ini, kita fokus pada itu dulu. Untuk kotak itu bisa disimpan dulu, benda itu pasti berguna," ucap Vio.


"Yeah, lagipula kita tidak tau sandinya. Mari kita serahkan itu pada si kembar, kalau dalam perjalanan nanti kalian menemukan sesuatu untuk membuka kotak ini pastikan memberi tahu kami," timpal Nea.


"Ok bos!"


Mereka menyudahi obrolan mereka dan mulai mencari tempat untuk memasukkan atau menggesek kartu itu. Butuh waktu cukup lama untuk menemukannya, karena lokasinya ada di figura lukisan yang menghadap bawah. Setelah Vio menggesekan kartu itu ke dalamnya, lukisanya tiba-tiba bergetar hebat dan mengeluarkan bunyi yang sedikit menakutkan.


Setelah lukisan itu berhenti bergetar dan mencuat sedikit keluar, Lizza menarik lukisan itu sebisanya dan berhasil terbuka. Apa yang ada dibalik lukisan sangat tak terduga, sebuah tangga turun muncul tepat ke hadapan mereka. Yang menanti mereka hanyalah sebuah terowongan gelap gulita dan bercak darah dibawah. Siapa yang tidak merinding saat melihatnya?


Tanpa rasa takut sedikitpun, Nea melangkah duluan dan menuruni tangga itu. Sementara Vio, Lizza, Reva, dan Kayla hanya diam membeku.


"Kenapa? Kalau tidak cepat bisa gawat loh, cepatlah! Atau aku tinggal aja," kesal Nea.


Vio dan yang lainnya mengumpulkan keberanian mereka dan mulai menuruni tangga itu. Tapi tak lama setelah mereka masuk, pintu lukisan itu tertutup lagi. Sekarang mereka benar-benar tidak memiliki penerangan sedikitpun.


"HP-ku konslet karena jatuh ke air," jawab Lizza sedih. "Punyaku dan Kayla ada di tas kami di kamar," balas Reva diikuti anggukan Kayla.


"Aku tidak punya HP," kata Nea singkat.


"HAH?! Anak jaman sekarang gak punya HP? Mana mungkin!!" pikir mereka berempat.


"Bersyukurlah, karena sepertinya ini hanya ada satu jalur. Jadi kita tidak mungkin tersesat," lanjut Nea.


Kelima anak ini terus berjalan berdampingan dan menunggu ujung dari terowongan itu, semakin lama jalannya semakin menanjak. Hingga akhirnya mereka merasakan serpuan angin dingin yang segar pertanda didekat sana ada ventilasi. Cahaya mulai tampak, dan akhirnya mereka sampai di ujung terowongan.


Sebuah pintu kayu yang sudah tua terlihat. Pintu itu tidak terkunci, dan saat mereka membukanya mereka dikejutkan oleh hal lain. Ujung dari terowongan bawah tanah itu adalah sebuah kuil lama di tengah hutan, dan pintu itu terletak di dalam kuil. Bercak darah yang mereka lihat sebelumnya mengarah ke luar kuil.


Mereka saling memandang satu sama lain, memastikan tidak ada yang ketinggalan atau hilang. "Hmm? Lengan sweater Lizza turun? Apa tadi melorot ya?" pikir Vio. "Yaudahlah."


Setelah yakin bahwa mereka lengkap, mereka berjalan keluar kuil dan melihat sesuatu yang tidak biasa.


"Kakak!!!" jerit Vio kaget saat melihat Tikara tertidur di teras kuil.


Vio mengguncang tubuh Tikara dengan kencang agar Tikara bangun. Penampilan Tikara saat itu tidak terlalu baik, wajahnya kotor karena asap kebakaran dan bajunya rusak. Tapi dia tidak terluka sama sekali. Perlahan Tikara membuka matanya dan melihat adik kecilnya hampir menangis di depannya bersama 4 muridnya yang lain.


"Eh? Ada apa ini?" tanya Tikara linglung.


"Jangan malah tanya ada apa!!! Justru aku yang harus tanya gitukan, kemana aja kakak saat kebakaran Villa terjadi? Kenapa malah bisa ada disini?" tanya Vio dengan nada tinggi.


"Te... tenang dulu, kayak bukan kamu aja," balas Tikara menenangkan adiknya.


Nea mengajak si kembar untuk mengobservasi kuil lama itu dan meninggalkan Vio dan Lizza bersama Tikara. Setelah Vio cukup tenang, giliran Lizza menanyakan pertanyaannya pada gurunya itu.


"Bu Tika, apa kamu tau sesuatu kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Lizza serius.


"Sekarang kamu mengatakannya, aku jadi ingat... malam itu..."