
“Hahahaha!!!! Ayo pilih! Ayo pilih! Ayo pilih!” kata Prof Carla tersenyum mengerikan.
“TIDAKK!!!! AKU TIDAK MAU!! TOLONG AKU! AYAH! BUNDA! KAKAK!!” jerit Vio putus asa.
“Ah, begitu. Kalau maumu begitu ya sudahlah,” ucap Prof Carla malas. “Alpha! Beta! Bawakan itu!”
Begitu aba-aba dari Prof Carla keluar, bawahannya dengan code name alpha membawa sebuah pedang tajam dan menyerahkannya pada Prof Carla. Lalu Beta menekan beberapa tombol sehingga dinding tempat Vio terikat bergerak maju dan rantai tangannya diarahkan kedepan.
Setelah itu Prof Carla memasangkan pedang itu dicelah-celah kedua tangan Vio kecil. Begitu pedang terpasang, tembok bergerak maju dengan cepat sehingga pedang menebas kepala dua anak kecil itu hingga kepala mereka terpisah dari tubuh mereka.
“Ahh... ARGHHHHHHH!!!!!!!!!!!” jerit Vio yang mentalnya teguncang hebat.
“Wuahahahahah!!! Aduh duh... coba lihat! Kamu menolak menyelamatkan mereka bukan? Dan sekarang kamu membunuh mereka dengan kedua tanganmu sendiri. Hebat!” Tawa keras Prof Carla memenuhi satu ruangan. Beberapa ilmuwan mengalihkan pandangannya akan hal tak berprikemanusiaan yang ada di dihadapan mereka.
Vio bergetar hebat karena terguncang dengan fakta bahwa kedua sahabatnya mati ditangannya. Meski bukan Vio yang membunuh mereka, tapi tetap saja dalam pandangan Vio, dialah orang yang bertanggung jawab akan kematian kedua sahabatnya.
“Ahh... maafkan aku, aku minta maaf, tolong maafkan aku, aku akan lakukan apapun...” tangis Vio pada dua sahabatnya.
Melihat anak kecil itu terluka secara mental di hadapannya menjadi hiburan tersendiri bagi Prof Carla. Yang dia lakukan hanya memanas-manasi Vio agar semakin shock dengan kematian kedua sahabatnya.
Beberapa detik berlalu... Vio diam dan menunduk kebawah. Jeritan dan tangisannya telah berhenti terdengar. Kesedihan dalam dirinya berganti menjadi kemarahan pada orang yang mendorongnya dalam situasi ini.
Aura biru langit Vio yang tenang membesar dan membesar membentuk rupa iblis. Aura itu menggelap dan warnanya berubah menjadi merah gelap hingga orang biasa juga bisa melihat aura itu.
Semua orang selain Prof Carla ketakutan melihat anak itu. Perlahan namun pasti, rambut pirang cantik Vio mulai memutih seperti cahaya bulan. Kepala Vio yang tertunduk mendadak terangkat dan menatap Prof Carla dan semua ilmuwan yang ada di belakangnya dengan niat membunuh.
Matanya menatap tajam mereka, mata merah dengan simbol aneh yang terbasahi air mata itu seolah berkata bahwa dia akan membunuh semua orang yang ada disini.
Doll Manipulation’ itu adalah kemampuan Violet Silvero yang sebenarnya. Vio mengatakan bahwa kemampuannya hanya mengendalikan binatang kecil seperti kucing dan kelinci selama max 20 menit. Namun itu sama sekali tidak benar.
Doll Manipulation adalah kemampuan yang sangat berbahaya. Pemilik kemampuan itu dapat mengendalikan benda mati dan bahkan makhluk hidup selayaknya boneka. ‘Benda’ yang sudah di cap sebagai ‘Doll’ oleh kemampuan ini akan secara mutlak menuruti keinginan penggunanya. Bahkan jika penggunanya menyuruh Doll untuk mati atau membunuh orang, Doll sama sekali tidak bisa menolak.
Tentu saja ada kelemahan untuk kemampuan ini. Pengguna tidak bisa mengendalikan lebih dari 50 Doll. Dan semakin banyak Doll yang dikendalikan, waktu pengendalian akan semakin singkat dan beban yang ditanggung tubuh juga semakin berat. Meski begitu, mengendalikan Doll hanyalah 1 dari banyak variasi penggunaan Doll Manipulation. Contoh lain dari variasinya adalah Vio dapat merasuki tubuh Dollnya selama beberapa waktu.
Begitu Vio mengucapkan perintah mutlak pertamanya pada para Doll. Secara mendadak suara keras terdengar, benda-benda berat berjatuhan dan suara berisik yang mirip saat bulldozer mengancurkan gedung terpancar kemana-mana.
Semua Livvy yang ada di Lab Novichock telah menjadi Doll Vio dan menuruti keinginannya. Mereka mengamuk dan mengancurkan apapun yang ada di hadapan mereka dan membunuh semua ilmuwan yang mereka lihat. Para Ilmuwan dari Lab tempat Vio berada kabur dan tersebar kemana-mana, meninggalkan Prof Carla seorang diri.
Namun Prof Carla hanya tersenyum santai. “Sepertinya waktu bersenang-senang sudah selesai. Kalau begitu aku pergi dulu ya,” ucapnya.
“JANGAN COBA-COBA KABUR!!! HADAPI AKU KALAU BERANI!!!!!” jerit Vio marah besar pada Prof Carla.
“Tenanglah... aku tidak akan pernah kabur. Aku hanya akan pergi sebentar, aku akan tetap mengawasimu dari jauh ataupun dekat. Lalu jika waktunya sudah tiba dan kamu cukup dewasa maka saat itulah penentuan akhir kita yang sebenarnya dimulai. Apa aku yang akan mengambil segalanya darimu atau kamu yang akan mengambil segalanya dariku? Fufufu, aku tidak sabar menunggu saat itu tiba,” kata Prof Carla sebelum menghilang dari mata Vio.