THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 1 (2)



VIO POV


"Langit-lagit yang tidak kukenali," gumamku.


Aku selalu ingin mengucapkan kata-kata itu setidaknya sekali dalam hidupku. Sepertinya tadi aku sempat pingsan dan dibawa ke tempat ini oleh seseorang. Disekitar kasur tempatku bangun ada sebuah tas yang sepertinya adalah milik kakakku. Ah, tempat ini pasti kamar kakak di kapal.


Sial, kepalaku masih berdenyut. Dasar Litt itu, dia terlalu berlebihan. Tapi... kalau Litt sampai segitunya ingin keluar artinya ada sesuatu yang berbahaya didekat sinikan? Ini buruk. Padahal ini adalah piknik yang sudah kami nantikan, kenapa malah ada hal berbahaya gitu.


TOK TOK TOK


Di tengah lamunanku terdengar sebuah suara pintu diketuk, beberapa saat setelah itu pintu terbuka menampakkan dua gadis yang membawa segelas teh. "Kamu sudah bangun? Ini minum dulu," kata Lizza sambil menyerahkan tehnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Tiba-tiba ambruk gitu, mabuk laut tidak akan membuatmu sampai segitunya," tanya Nea sedikit ketus. "Aku tidak apa-apa, hanya mendadak sakit kepala saja," jawabku singkat.


"Itu tidak mungkin, kalau cuma pusing saja mana mungkin kamu jadi demam tinggi begitu," marah Lizza cemas. Ekspresi marahnya itu mengingatkanku dengan ibuku. Dia benar-benar mencemaskanku rupanya.


"Lupakan soal itu, aku ingin menanyakan sesuatu padamu Vio. Bisa luangkan waktumu untukku sebentar?" tanya Nea serius. "Apa maksudmu?! Vio baru saja sembuh. Biarkan dia istirahat dulu," bentak Lizza.


"Tidak apa-apa Lizz. Tentu, tanyakan saja apa yang kau mau?"


Apa yang ingin ditanyakan Nea ya? Dia kelihatan sangat serius, dan hal berbahaya yang di bilang Litt tadi juga mengangguku. Firasatku bilang kalau Nea akan sangat berhubungan dengan kata-kata Litt tadi.


"Sebelum itu... bisakah kamu keluar dulu Lizz. Maaf tapi aku hanya ingin berdua dengan Vio saja," pinta Nea disusul marahnya Lizza. Butuh waktu untuk meyakinkan Lizza agar dia mau keluar. Tetapi Nea berhasih meyakinkan Lizza sebelum akhirnya memulai pembicaraan serius denganku.


"Aku akan langsung ke intinya. Kamu ini sebenarnya siapa? Kenapa auramu terpecah dua sama rata, hitam dan putih?" tanya Nea.


Aura? Lagi-lagi dia mengatakan itu. "Sebenarnya apa aura itu? Aku tidak mengerti pertanyaanmu," kataku.


"Haah, dari sana ya. Baiklah, aura adalah hawa yang keluar dari tubuh seseorang. Aura dapat berwujud kabut dengan warna. Atau setidaknya itulah yang kulihat. Aura seseorang tergantung dari sifat sejati orang tersebut. Contoh saja, aura milik Lizza adalah kuning terang. Artinya sifatnya yang sebenarnya itu ceria dan hangat. Sedangkan Bu Tika itu biru langit, artinya dia sangat cerdas dan berpengetahuan luas," jelasnya.


"Aku sudah banyak melihat aura milik orang-orang, tapi aku belum pernah melihat yang sepertimu. Hitam dan putih, bahkan seorang pembunuhpun tidak akan mempunyai aura yang begitu hitam dan seorang pendeta, uztads, ataupun saint-pun tidak akan benar-benar putih. Tapi apa-apaan kamu itu?! Tidak hanya hitam pekat tapi juga putih tanpa noda, siapa kamu sebenarnya?" tanya Nea sekali lagi, kali ini dengan nada yang tidak ramah.


"Kenapa malah melamun? Jawab pertanyaanku," suruh Nea. Yah, karena dia sudah tau sebayak itu kubocorkan sedikit mungkin tidak masalah.


"Wah, wah, santai. Aku tidak paham maksudmu sih, tapi sepertinya aku tau alasan warna itu terbagi dua," jawabku. "Beneran? Kenapa?" tanyanya lagi.


"Ini rahasia jadi aku ingin kamu merahasiakannya ya, sebenarnya didalam tubuhku ada kepribadian lain. Aku ini kepribadian ganda. Aku tidak tau kenapa warna yang terlihat itu hitam dan putih, mungkin saja karena hitam dan putih itu adalah warna yang sangat berkebalikan seperti sifatku dan dia. Dengar, tidak seperti hitam dan putih, warna lain masih bisa menyatukan?" jawabku.


Nea sepertinya puas dengan jawabanku, dia mengangguk paham dan berjanji akan merahasiakannya tanpa bertanya lebih lanjut lagi. Sebagai tambahan aku juga bilang saat Litt ingin keluar, kepalaku mendadak pusing jadi itu alasanku pingsan. Nea juga sempat menyinggung kalau dia melihat saat aku hampir pingsan aura hitamnya membesar.


"Jadi karena itu auramu bisa begitu, saat ini aura hitammu sangat kecil dan hampir tak terlihat. Itu tandanya dia tidur ya, aku paham. Makasih sudah menceritakanku rahasiamu, maaf karena aku memaksamu memberitahunya. Habisnya auramu benar-benar membuat salah paham," kata Nea sedikit menyesal.


Aku tidak bisa menyalahkannya, lagipula yang kuberitahu tidak semuanya. Kesalah pahaman Nea memang benar kalau Litt sangat berbahaya jadi auranya terlihat hitam begitu. Tapi ini akan kubiarkan tetap jadi rahasia saja. Aku akan berusaha agar Litt tidak keluar dan rahasia ini tidak terbongkar. Firasatku mengatakan akan terjadi hal buruk kalau Nea sampai tau. Dan sayangnya firasat burukku tidak pernah meleset.


"Tidak apa-apa, lagipula kamu juga memberitauku rahasiamu. Jadi kita impas," jawabku.


Introgasi itu berakhir disitu. Kami saling tau rahasia masing-masing dan jadi cukup akrab karenanya. Beberapa saat setelah kami mengobrol lagi, Lizza membuka pintu dengan bersemangat dan mengatakan kalau kapal sudah sampai dipulau. Kak Tika menyuruhku berkemas dan bersiap-siap turun. Dia juga tak lupa memastikan demamku sudah turun atau belum. Setelah semua siap, kelas kami menuruni kapal dan absen lagi sebelum berangkat ke villa yang letaknya tak jauh dari sana.


Setelah mendaki sedikit di hutan kecil dalam pulau, kami menemukan sebuah villa tua dan bersiap memasukinya. Tidak seperti anak lain yang bersemangat memasuki villa atau ingin cepat-cepat bermain air di pantai, aku dan Nea hanya berdiri mematung didepan villa sambil memandanginya.


"Nea, apa cuma aku saja atau hawa villa ini benar-benar tidak enak?" kataku meringis.


"Kamu gak salah Vio, aura yang keluar dari villa ini... benar-benar hitam pekat, seperti akan menelan apapun yang memasukinya," jawab Nea sambil tertawa kecil.


"Yeah, mungkin saja,"


"Apa yang kalian berdua lakukan? Ayo cepat masuk!!" ajak Lizza dari depan pintu villa.


Sepertinya ini tidak akan berakhir dengan baik. Apa kami akan baik-baik saja ya?!