THE LIVVY

THE LIVVY
BAB 7 (5)



Mata hitam gadis itu menatap lurus Vio, perlahan warna gelapnya berubah menjadi biru cyan yang cantik dengan simbol Triquetra didalamnya. Mata itu disebut dengan Eyes of Eternity, hanya pemilik keabadian yang dapat memilikinya.


“Sebelum semuanya dimulai, tolong katakan padaku beberapa hal,” pinta Vio.


“Tentu~ tanyakan apapun,” jawabnya dengan senyum yang khas.


“Kenapa... kenapa kamu harus menjadi salah satu orang yang kupercaya? Apa sosokmu selama ini palsu? JAWAB AKU KAYLA!!!” jerit Vio sambil menatap gadis didepannya dengan tatapan sedih.


Baik Vio maupun Lizza dan Nea sama sekali tidak pernah terpikirkan bahwa salah satu teman sekelas terdekat mereka, Kaylana Novalia adalah orang yang menyeret mereka menuju neraka penderitaan.


Gadis itu terdiam dengan tatapan kosong lalu secara mendadak tertawa dengan keras hingga mengejutkan Trio Viline.


“Ha~ah... kamu mengatakan hal yang menggelikan. Alasanku menjadi temanmu hingga seperti ini sejujurnya di luar rencanaku. Aku memang berencana mengamatimu, tapi aku tidak pernah bermaksud berteman denganmu,” jawabnya ketus.


“Kalau begitu kenapa?!!!”


“Itu semua karena Reva,”


“Kenapa jadi karena Reva? Dari awal apa hubunganmu dengan Reva? Pasti dia bukan saudara kembarmu, kan?” timpal Lizza mendadak.


“Benar... Reva bukan saudara kembarku. Dia itu anak biologisku,” balas Kayla santai.


“ANAK??!!!!” 


“Ya... dia anakku, dari awal umurnya memang sepantaran kalian. Mengurus anak itu merepotkan, jadi aku suruh salah satu ilmuwan di tempatku untuk mengurus adopsinya. Lalu sekalian untuk membuat identitas baru untukku, aku bersamanya sebagai saudara kembar dan mengikuti pertumbuhannya. Kalian pasti sadar bukan kalau aku hanya mengikuti Reva kemana-mana, berteman dengan kalian juga terjadi karena aku mengikuti Reva,” terangnya.


“Itu gila!” seru Nea terkejut.


“Aku tau, tapi itu berjalan dengan baik. Sudah tidak ada lagi-kan?” tanya Kayla sambil menatapi kukunya.


“Apa yang akan kamu lakukan setelah ini? Kalau kamu mati hari ini, apa yang terjadi dengan Reva nantinya?” kesal Vio.


“Hehh... kamu percaya diri sekali bisa mengalahkanku hari ini. Tapi ya, kalau itu terjadi maka ada 2 kemungkinan. Reva akan sangat sedih karena kehilangan saudara kembarnya atau ingatan Reva tentang ‘Kaylana Novalia’ akan hilang dengan kemampuan Lizza lalu dia akan melanjutkan hidup dengan normal,” jawab Kayla.


“Aku tau kalian tidak peduli padaku, tapi kalian pasti peduli pada Reva. Makanya kemungkinan itu sangat tinggi,” balas Kayla dengan PD-nya.


“Ukhh... itu memang benar, meski begitu kamu masih menyebut dirimu itu ibunya??” Batas kesabaran Vio sudah hampir habis. Sekarang Vio sudah tidak menganggap Kayla yang dulu sama dengan Kayla yang ada di hadapannya saat ini.


“Hei, hei, sekarang statusku itu saudara kembarnya. Namun aku tetap melakukan kewajibanku, aku sudah menyiapkan sejumlah uang dalam jumlah besar atas nama Reva sehingga seumur hidup dia tidak akan kekurangan uang,” jawab Kayla datar.


“Kamu taukan maksudku bukan itu? Ha~ah, sudahlah... tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang sudah kehilangan perasaannya sebagai manusia. Ayo kita mulai saja, pertarungan kita yang tertunda!” seru Vio yang dibakar amarah.


“Kehilangan perasaan manusia, huh. Kalau kamu hidup lama tanpa orang disisimu, bagaimana kamu bisa mempertahankan perasaanmu. Tapi ya... toh itu semua akan berakhir hari ini,” gumam Kayla sedikit marah.


Semua orang sudah diposisi masing-masing, angin bertiup kencang sebelum para gadis itu bergerak dari posisi mereka. Bersamaan dengan jatuhnya sebuah daun, gadis-gadis itu mulai bergerak dan saling menyerang satu sama lain.


Dentingan pedang dan pisau terdengar dan di sela-sela itu suara tembakan mengihiasi pemandangan matahari terbenam. Tepat seperti dugaan, Prof Carla memang bisa melakukan teknik beladiri. Justru aneh kalau dia yang sudah hidup lama tidak bisa melakukannya.


Pertarungan ini nampak seimbang, namun kenyataannya ini sangat berat sebelah. Goresan demi goresan tertanam di tubuh mulus Lizza, sementara setiap luka yang diterima Kayla langsung sembuh tanpa meninggalkan bekas. Tidak peduli dimanapun peluru Nea dan Vio mendarat, Kayla tetap bergerak seolah tidak merasakan efek dari luka itu.


“Sial! Aku tau dia abadi, tapi ini benar-benar curang. Apa dia tidak bisa merasakan sakit?!!” kesal Nea sambil mengisi ulang pelurunya.


Lizza sempat melirik sebentar kedua temannya yang tampak kesulitan. Namun dia kembali fokus pada lawan dihadapannya, dia percaya kalau temannya akan menemukan kelemahan Prof Carla dan segera menyelesaikan ini.


Dalam waktu singkat, Lizza melepas semua pemikirannya dan menarik napas panjang. Sebagaimana yang diajarkan masternya padanya dulu, Lizza membiarkan pedangnya memimpin dirinya. Jari-jari gadis itu menguatkan pegangannya, tubuhnya agak menekuk dan mendorong tubuhnya kedepan. 


“Argghhhh!!!!” jeritan keras keluar dari mulutnya, keringat mengalir membasahi lukanya. Rambut pendeknya berkibar seperti nyala api di belakang kepalanya. Pedang katana yang beradu dengan pisau tajam menciptakan gema yang cukup indah. Pepohonan mendesir seolah di pengaruhi oleh sesuatu tak kasat mata.


Gerakannya menjadi semakin dan semakin cepat sampai membuat Kayla kewalahan. Pedang itu terayun cepat hingga salah satu pisau Kayla terlepas dari tangannya. Tanpa membuang kesempatan, pedang Lizza sudah memisahkan tangan kanan Kayla dari tubuhnya. Vio menembak tepat ke pisau yang jatuh itu hingga pisau itu menjauh dari Kayla dan Lizza.


Seolah tidak merasakan sakit sama sekali. Kayla memutar tubuhnya dengan cepat dan menendang rusuk Lizza hingga membuatnya terpaksa mundur sejenak. Sementara Lizza terduduk kesakitan, Kayla bergerak dengan cepat ke arah tangan kanannya dan memasang tangan itu pada tubuhnya seperti potongan lego.


Karena tulangnya tidak patah, Lizza bangkit melawan kesakitannya dan segera memulai kuda-kuda lagi. Namun belum sempat dia membentuk kuda-kudanya, Kayla sudah berlari kearahnya dan melompat tinggi lalu mengayunkan pisaunya ke arah Lizza. Lizza yang belum siap segera menangkis pisau itu. Tak hanya diam, sebelum mendarat ke tanah kaki Kayla menendang Lizza tepat di kepalanya sehingga Lizza terlempar jauh ke samping.


“Lizza!!!” jerit Vio dan Nea.