The Leader Of The Last Adventure

The Leader Of The Last Adventure
08. Masa lalu 8



"Ya sudah~, Vanka tidur aja ya?" ucap Edward lembut sambil mengelus surai perak Aileen dengan sayang dan sesekali mencium pucuk kepala putrinya itu.


Para sahabatnya yang melihat itu menatap horor Edward. Mereka awalnya tidak percaya melihat berita di media sosial itu.


Tapi setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, sekarang mereka percaya seratus persen.


Aileen menyenderkan kepalanya di dada bidang sang daddy dan mulai menutup matanya.


Angin sepoi-sepoi meniup surai perak Aileen dengan lembut, membuat sang pemilik merasa nyaman dan tenang.


Setelah merasa anaknya tertidur, Edward lalu mengeratkan pelukannya pada pinggang Aileen hingga tidak ada jarak sedikitpun diantara mereka berdua.


Edward menumpukan dagunya di kepala Aileen. Ia sesekali akan mencium sayang pucuk kepala Aileen.


Dia merasa telah gagal menjadi seorang ayah. Dengan membunuh keluarga yang sudah menjaga gadis yang sekarang sudah menjadi putrinya.


Walaupun belum memiliki surat asuh Aileen, tapi ia bisa membuatnya nanti.


Ia merasa takut jika suatu saat nanti, Aileen akan meninggalkan dirinya sendiri, setelah tahu siapa yang sudah membunuh keluarga angakatnya yang sudah menjaga dan mengasuhnya sejak bayi.


Edward sangat takut hal itu terjadi. Jadi sudah dia putuskan bahwa ia akan menutup rahasia ini rapat-rapat, agar Aileen tidak tahu.


Ia juga akan memperketat penjagaan Aileen agar dia tidak akan melarikan diri nanti.


"Ed, apa dia anak kandungmu?" tanya salah seorang sahabatnya dengan hati-hati karena takut menyinggung Edward


"Bukan" jawab Edward singkat


"Lalu?" tanya seorang lagi


"Anak angkatku" jawabnya lagi


Semua yang disitu kaget dengan penjelasan Edward. Karena jika bukan anak kandung, lalu bagaimana ciri-ciri mereka sangat persis?.


Itulah yang sedang mereka pikirkan. Edward menatap mereka sekilas.


"Lalu, apa orang tuamu tahu tentang ini?" tanya pria yang memakai kacamata. Namanya ada William Jark.


Edward hanya membalas dengan gelengan singkat. Ia juga tidak tahu kalau orang tuanya tahu tentang ini, dan ia juga tidak peduli jika orang tuanya tahu tentang ini.


Apapun yang terjadi, ia tidak akan melepaskan putri kecilnya. Karena putrinya, ia masih bisa memiliki tujuan untuk hidup. Dan tujuannya adalah untuk menjaga, melindungi, merawat, dan menjadi orang tua yang baik untuk putrinya.


Bertahun-tahun lamanya ia hidup dalam kehampaan. Tapi dengan datangnya Aileen, hidupnya perlahan-lahan mulai berubah.


Back to story


Keheningan melanda mereka semua. Sampai salah seorang dari mereka membuka suara.


"Hm" gumaman Edward yang menjawab mereka


Mereka berenam akhirnya pergi. Meninggalkan sepasang ayah dan anak ditempat itu.


Yang terdengar hanyalah suara deru napas pelan sang gadis yang tertidur dengan nyenyak. Sang ayah hanya bisa memandang putrinya yang tertidur dengan damai.


"Sayang, daddy sangat menyayangimu. Jangan tinggalkan daddy sendiri ya, daddy tidak bisa hidup tanpamu" Edward berbisik di telinga Aileen dengan pelan


Walau ia tahu bahwa anaknya sedang tertidur, tapi ia hanya ingin mengungkapkan apa yang ia rasakan.


Sudah satu jam Aileen tertidur. Akhirnya ia bangun, dan yang pertama kali dirasakan olehnya adalah kepalanya sedikit berat.


Saat ia sedikit mengangkat kepalanya, yang ia lihat adalah leher seseorang. Ia tahu leher siapa itu. Siapa lagi jika bukan ayahnya.


"Daddy" panggil Aileen dengan suara lembut


" Ah, kau sudah bangun rupanya. Ayo masuk" ajak Edward


"Baiklah. Tapi daddy, Vanka jalan sendiri saja ya~" rengek Aileen


"Iya iya. Baiklah" Edward tersenyum


Edward menurunkan Aileen dari pangkuannya. Ia menggenggam tangan kecil Aileen dan mereka berjalan masuk bersama.


Mereka berjalan sambil mengobrol. Di pertengahan, Aileen mengatakan bahwa ia ingin keruangan gaming.


Setelah mendapat ijin dari Edward ia langsung saja pergi memulai permainannya. Meretas beberapa situs bukan hal yang buruk, itulah yang dipikirkan Aileen.


Edward juga sudah membuat sebuah kamar disebelah kamarnya. Dan kamar itu di desain(maaf kalau salah pengejaan) sesuai dengan permintaan dari Aileen.


Kamarnya di dominasi warna hitam, putih, dan merah darah. Dan juga walk in closet mereka juga terhubung dan hanya terhalang sebuah pintu.


Aileen sangat suka warna hitam dan putih. Bahkan warna kamar dirumahnya yang dulu adalah hitam dan putih.


Kamar Aileen juga terdapat ruang gaming rahasia. Dan yang tahu itu cuman Edward, Aileen, dan para tukang.


Back to story


Edward juga pergi keruang kerjanya yang berada di sebelah ruangan gaming yang sekarang menjadi wilayah milik Aileen.


Jangan lupa like, coment, dan vote


See you😊