
"Nona, setelah alat ini selesai, apa yang akan anda lakukan? Apakah alat ini akan diumumkan kepublik, atau bagaimana?" tanya seorang pria yang yang menggunakan jas berwarna putih
"Tidak, Profesor El. Kita harus merahasiakan semua ini. Akan sangat berbahaya kalau ada yang ingin menyalah gunakannya" kata seorang gadis yang sangat cantik dengan nada dingin
"Baiklah. Non-"
"Kakak, tidak perlu formal. Hanya ada kita berdua disini" ucap Aileen
"Baiklah. Aileen, apa yang akan kau lakukan jika alat ini telah selesai dibuat? Kau tidak akan macam-macamkan, Aileen?" tanya Profesor El dengan curiga
"Tidak kok kak, berpikir positif lah. Aku hanya akan melihat kalau alat itu berfungsi atau tidak. Juga, ini bisa disebut pencapaian gila yang akan ada didalam hidupku" kata Aileen dengan santai nya
"Baiklah, anggap saja kakak percaya pada ucapanmu, Aileen. Kakak tetap akan mengawasimu, sayang" ucap El
"Terserah kakak saja. Ya sudah, aku pergi dulu, aku ada meeting di perusahaan. Bye kakak" ucap Aileen
Cup
Aileen mendaratkan kecupan dipipi El begitu juga dengan El.
"Baiklah. Hati hati dijalan" ucap El
Aileen hanya mengangguk dan pergi ke apartemennya dan berdandan seperti seorang pria.
Saat ia keluar dari apartemen, ia tiba tiba saja dibekap dan akhirnya pingsan karena ternyata kain yang digunakan untuk membekap nya sudah diberi obat bius.
(Mungkin ada yang bingung kenapa Aileen tidak merasakan kehadiran mereka atau kenapa tidak melawan padahal ia adalah ketua mafia dan bahkan memiliki sebuah kekuatan. Jawabannya adalah karena Aileen menyegel kekuatannya dengan ratusan segel kuno yang didapatkannya diruang dimensi ditambah dengan segel yang dibuat oleh dirinya sendiri. Karena ia ingin menjadi layaknya manusia normal. Gitu)
Back to story
Terlihat di sebuah ruangan mewah, seorang gadis sedang terbaring dengan piyama tidur bergambar bunga mawar hitam.
Tak lama kemudian, gadis itu membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit ruangan yang berwarna coklat emas.
Ia kemudian duduk bersandar di kepala ranjang.
Ia masih mencerna apa yang terjadi padanya. Pertama, ia diculik oleh orang yang tidak dikenal. Kedua dia tidak tahu masalah atau motif dari sang penculik. Dan ketiga, ia kenapa berada disebuah kamar mewah.
Sungguh dia bingung. Tapi, ia tidak menyesal karena menyegel kekuatannya. Justru sekarang ia merasa kalau ia bisa menjadi manusia normal.
Saat sedang melamun, tiba tiba pintu kamar tersebut terbuka dan tampak seorang pria masuk dengan sebuah nampan yang berisi mangkok, gelas dan obat.
Saat Aileen melihat wajah pria itu, ia langsung mengubah ekspresinya menjadi sangat dingin.
Ia langsung beralih menatap kearah balkon kamar tersebut.
"Baby, kau sudah sadar, ayo makan dulu" ucap pria itu dengan lembut dan duduk disamping Aileen
Ia kemudian mengambil mangkok yang berisi bubur dan akan menyuapi Aileen, akan tetapi Aileen tidak merespon ucapannya.
Aileen masih saja menatap ke balkon.
"Pulang" ucap Aileen pelan
"Baby, kau sudah dirumah. Kenapa meminta pulang" ucap pria itu dengan geram dan mengeraskan rahangnya
"Tidak. Ini bukan rumahku" ucap Aileen lirih kemudian menundukan kepalanya karena takut dengan nada pria disebalahnya
"Tidak. Ini rumahmu. Kau tidak akan pergi kemanapun" ucap pria itu dengan lembut melihat Aileen yang menundukan kepalanya karena takut dengan dirinya
Pria itu kemudian memeluk Aileen yang menunduk. Ia mengelus surai perak Aileen dengan sayang dan sesekali mengecup pucuk kepala Aileen.
Aileen yang dipeluk, tanpa sadar membalas pelukan pria itu. Nyaman.
Itulah yang dirasakan oleh Aileen saat ini. Jujur, ia sangat merindukan pelukan hangat dan penuh kasih sayang itu.
Tetapi, karena emosi yang tidak stabil, membuatnya tidak bisa merasakan pelukan itu selama kurang lebih satu tahun.
Karena merasa nyaman, akhirnya Aileen tertidur dipelukan pria itu.
Pria tersebut yang merasakan napas teratur didada bidangnya tahu bahwa Aileen tertidur.
Maka dari itu ia membaringkan tubuh Aileen dan ikut berbaring disamping Aileen dan akhirnya mereka tertidur dengan saling berpelukan hingga siang.
Pria itu adalah yang pertama kali bangun dari tidurnya. Tetapi bukannya beranjak, ia malah memperhatikan wajah cantik dan imut Aileen.
Sesekali juga, ia dengan jahil mencium, mencubit, dan berakhir dengan menggigit gemas pipi chubby milik Aileen, saking gemas melihat wajah Imutnya.
Aileen yang merasa terganggu pada akhirnya memilih untuk bangun dari tidurnya. Saat membuka mata, ia melihat wajah seorang pria didepannya.
Wajah pria itu sedikit mirip dengan wajahnya. Memiliki rambut berwarna perak, hidung mancung, mata berwarna biru, bibir yang tipis. Sempurna.
Ia langsung beranjak dari tempat tidur, tapi tidak sampai dua langkah, tangannya dicekal pria tadi.
"Baby, kamu boleh marah, benci, atau apapun itu. Tapi tolong, jangan diam saja. Lakukan semaumu! Tapi jangan pergi dan menjauh, tolong berbicalah
Mungkin yang aku lakukan itu salah, sungguh aku tidak berniat melakukan hal itu, percayalah. Saat itu aku sedang dikuasai emosi. Pukul aku, kalaupun kamu mau, kamu bisa membunuhku.
Tetapi, kumohon jangan meninggalkanku. Maaf, sungguh maafkan kesalahanku. Maafkan daddy" lirih pria itu berlutut sambil masih memegang tangan Aileen
Siapa lagi kalau bukan Edward Frey Bram. Ia adalah seorang pria yang hebat dan sempurna bagi orang lain.
Tapi sehebat dan sekejam apapun dirinya, ia hanyalah sesosok ayah yang hebat dan lemah lembut bagi Aileen.
Aileen sangat menyayangi ayahnya. Ia tidak bisa marah dan benci terlalu lama pada orang yang sudah bertahun tahun merawatnya,
walaupun orang itu jahat. Aileen juga masih tahu bagaimana cara berterima kasih atau balas budi.
Back to story
Aileen kemudian berbalik dan langsung memeluk ayahnya yang berlutut. Ia menyayangi ayahnya, hanya saja ia masih kecewa dengan yang dilakukan ayahnya.
"Vanka sayang daddy, hanya saja.. Vanka kecewa dengan apa yang daddy lakukan. Justru dengan daddy melakukan itu, itu malah memperburuk keadaan.
Vanka tahu kalau daddy menyayangi Vanka, tapi cara daddy yang salah. Sudahlah, lupakan saja. Masa lalu biarlah berlalu.
Uhm, daddy Vanka lapar. Apa daddy tidak lapar? Ini sudah siang" ucap Aileen sambil melepaskan pelukannya
Ia kemudian membantu ayahnya berdiri lalu menggandeng tangan ayahnya.
Saat keluar dari pintu kamar, ia tiba-tiba berhenti.
Edward bingung dengan Aileen yang tiba tiba berhenti.
"Kenapa berhenti, baby?" tanya Edward dengan bahagia
Jangan ditanya kenapa ia sampai sebahagia ini. Hal ini karena ia merasa bahwa Aileen sudah memaafkan dirinya.
"Em, daddy. Vanka tidak tahu letak ruang makannya" ucap Vanka dengan wajah polos yang sangat menggemaskan
Karena ia merasa asing dengan tempatnya. Ia tahu ini bukan mansion yang dia tinggali dulu.
Sedangkan Edward hanya bisa menggigit pipi dalamnya melihat wajah anaknya yang sangat menggemaskan.
Ia menenangkan dirinya agar tidak memakan pipi chubby yang seperti bakpau itu.
Pada akhirnya ia menggendong Aileen seperti koala dan berjalan kearah ruang makan terbuka yang langsung menghadap kearah pantai.
Disana terdapat sebuah meja bulat dan tiga buah kursi yang melingkari meja tersebut.
Edward kemudian mendudukan Aileen ke kursi yang langsung menghadap kearah pantai dan duduk disebelah kanannya Aileen.
Ia tahu Aileen tidak mau di pangku kalau sudah bangun sepenuhnya, nanti jika ia mengantuk atau dalam mode manja, barulah ia akan selalu meminta digendong oleh Edward ataupun Brandon.
Back to story
"Daddy, kursi satu lagi untuk siapa?" tanya Aileen yang sedikit bingung
"Apa kau tidak merindukanku, nona cantik?" tanya seorang pria sambil menutup kedua mata Aileen dengan tangan besarnya
"Tunggu.. suara ini! Paman Brandon" ucap Aileen dan segera membalikan tubuhnya menghadap pria yang dipanggil Brandon
Dan benar saja, itu adalah Brandon, pengasuh Aileen.
Aileen langsung memeluk Brandon. Ia sangat merindukan Brandon.
Edward yang melihat itu tersenyum lembut dan mengelus kepala Aileen.
Tapi lama-kelamaan ia malah kesal dan cemburu melihat Aileen dan Brandon masih belum melepaskan pelukan mereka.
Hingga pada akhirnya ia sendiri yang melepaskannya dan memeluk Aileen dari belakang.
Aileen hanya menatap polos. Sedangkan Brandon malah menatap datar Edward. Ia pikir sifat cemburu Edward sudah hilang, ternyata masih ada dan malah bertambah posesif.
Melihat keadaan menjadi seperti itu, Aileen langsung menengahi mereka dan makan bersama setelahnya menghabiskan waktu untuk mereka bermain.
Jangan lupa like dan coment
See you