The Leader Of The Last Adventure

The Leader Of The Last Adventure
23



Tak terasa ia sudah sehari berada di ruang dimensi yang berarti lima menit didunia nyata.


Ia memutuskan untuk keluar takut ada kalau ketahuan menghilang.


Saat keluar ia menggunakan kembali pakaian yang sama seperti sebelum masuk ruang dimensi.


Di ruang pribadi Edward terlihat seorang gadis yang sedang duduk dikursi kebesaran milik Edward.


Ia terlihat sedang menunggu sesuatu. Sudah hampir tiga puluh menit ia menunggu.


Tapi, tak lama terlihat ia menggumamkan sesuatu. Sudut bibirnya terangkat sedikit memperlihatkan sebuah seringaian.


"3 , 2 , 1


Dor


Dor


Bug


Brak


Dor


Terdengar suara perkelahian dilantai dasar gedung perusahaan itu.


Kekacauan tersebut membuat seluruh atensi terpusat di lantai dasar.


Banyak teriakan ketakutan dilantai bawah. Berbeda dengan di ruangan milik CEO.


Didepan ruang CEO terlihat sedikit gaduh karena para bodyguard yang bertambah banyak di lantai khusus ruangan CEO.


Beda lagi dengan disebuah ruangan yang sedang diadakan meeting.


Diruang meeting terlihat seorang pria tampan yang sedang duduk ditempat khusus untuknya.


Aura yang dikeluarkan olehnya membuat suasana di ruangan itu terasa menegangkan.


Selang beberapa menit kemudian, pintu ruang itu diketuk beberapa kali.


Pria tampan tersebut melambaikan tangannya menyuruh tangan kanannya membuka pintu.


Setelah membuka pintu, seorang bodyguard masuk dan menundukkan kepalanya hormat.


Ia kemudian menyampaikan sesuatu yang membuat suhu diruangan itu yang semulanya tegang, menjadi mencekam dengan aura membunuh yang sangat kental. Bodyguard itu mengatakan,


"T-tuan, ada beberapa orang yang m-membuat kekacauan diloby" ucap bodyguard itu dengan terbata


"Jeremi" suara bagaikan malaikat maut terdengar


Suara dengan nada datar+wajah dingin, mata yang memancarkan kemarahan yang besar, rasanya menusuk sampai ketulang.


"Ruangan anda sudah diberi penjagaan yang ketat, jadi sedikit mustahil di tembus" ucap Jeremi pada tuannya


Siapa lagi tuannya jika bukan Edward Frey Bram.


Edward tiba-tiba bangkit dari duduknya. Jeremi yang paham langsung menyudahi meeting.


Edward berjalan keluar ruangan dengan suasana yang sangat buruk, dan diikuti Jeremi di belakangnya.


Edward menuju lift khusus untuknya dan menekan tombol untuk kelantai khusus CEO.


Kembali kesisi gadis tersebut, terdengar di luar ruangan CEO terjadi kegaduhan.


Tidak sampai lima menit, pintu ruangan itu terbuka dari luar.


Tampak seorang pria tampan menggunakan kacamata dan jas mirip pakaian seorang ilmuwan.


Ia berjalan masuk dan membungkukan badannya kearah gadis itu.


"Nona, tuan El menunggu anda di landasan helicopter di atap" ucap pria tersebut


Sang gadis hanya menganggukan kepala nya seraya berdiri dari singgasana milik Edward.


Ia berjalan kearah lift khusus pegawai dituntun oleh pria yang kita panggil saja tangan kanan El.


Ia menekan tombol lift untuk kelantai paling atas digedung itu.


Saat sampai disana, terlihat sebuah helicopter pribadi bertuliskan A-27.


Ia kemudian naik ke helicopter dan helicopter tersebut segera terbang menuju ketempat tujuan.


Selang beberapa detik, tiba Edward yang terlihat berantakan datang kelandasan helicopter.


Ia mendongkakkan kepalanya melihat kearah mana helicopter itu pergi.


Dia menggertakkan giginya. Dengan cepat ia pergi keruangannya dan memerintah Jeremi untuk men anaknya.


Setelah kepergian Jeremi, Edward menghancurkan ruangannya untuk melampiaskan kemarahannya.


Tidak lama sesudah menghancurkan ruangannya, ia mendapat kabar dari Jeremi kalau ia kehilangan jejak.


Hal itu membuat Edward sangat marah dan frustasi. Ia merasa gagal menjadi seorang ayah.


Tetapi ia tidak berputus asa dan menyerah. Ia memerintahkan Jeremi untuk kembali mencari keberadaan anaknya sampai dapat.


Ia kembali ke mansion tempat ia dan anaknya tinggali sebelum kejadian 'Rahasia' itu terbongkar.


Ia mengurung diri didalam kamar milik anaknya. Ia menangis mengingat kenangan-kenangan indah mereka di kamar itu.


Ia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Aileen.


Ia frustasi mendengar kabar tersebut dari Jeremi, tangan kanan Edward.


Di sisi Aileen, terlihat ia hanya menatap keluar jendela kamarnya di markas Darkness.


Ia hanya duduk termenung di balkon kamarnya sambil menggenggam kalung pemberian ayahnya.


Ia menarik napas dalam dan membuangnya secara perlahan-lahan.


Ia beranjak dari balkon menuju keluar kamarnya. Ia pergi keruangan di sebelah kamarnya.


Ia masuk kedalam ruangan itu dan duduk didepan beberapa layar computer.


Jarinya perlahan menari diatas keyboard. Tak lama kemudian, sebuah pintu muncul di dinding sebelah lemari buku.


Ia pergi kepintu tersebut. Tak lama muncul sebuah kamera kecil dan melakukan pemeriksaan.


Mulai dari bola mata, sidik telapak tangan, suara, dan darah.


Setelah terkonfirmasi, pintu tersebut terbuka dengan sendirinya.


Didepan Aileen kini terlihat sebuah lorong yang panjang dengan lebar dua meter.


Ia mulai menelusuri lorong tersebut, sampai ia tiba di sebuah ruangan gelap.


"Light" ucapnya dingin


Setelah mengucapkan itu, tiba-tiba ruangan tersebut menjadi terang.


Ruangan tersebut adalah sebuah ruangan pribadi Aileen.


Ia duduk di tempat kebesarannya. Ia melihat setumpuk berkas dihadapannya.


Aileen mulai mengerjakan berkas tersebut dengan wajah dingin miliknya.


Hanya butuh beberapa menit, ia sudah menyelesaikan berkas-berkas tersebut.


Setelah selesai, ia duduk dengan bosan. Tidak ada yang bisa dekerjakan olehnya.


Tapi tidak lama kemudian, terlihat sebuah notifikasi di layar computer miliknya.


Itu adalah pesan yang dikirim oleh temannya. Temannya baru saja membuat sebuah apk game baru.


Ia ingin agar yang pertama mencoba ada Aileen, teman atau orang yang sudah membiayai sekolah milik adiknya.


Aileen yang tertarik pun menyetujui nya. Ia mencoba game tersebut dengan sebuah kode yang diberikan.


Ia mulai memainkan game tersebut hingga jam makan malam.


Terdengar suara dering HP milik Aileen. Tertera sebuah nama yang tidak asing bagi Aileen.


'Kak El is calling'


Aileen mengangkat panggilan milik kakaknya yang possessive itu.


"Ya kak" ucap Aileen dengan dingin


"Baby, waktunya makan malam" ucap El dengan nada yang sangat lembut


"Iya" jawab Aileen dengan dingin


Entah kenapa, setelah kejadian di perusahaan ayahnya, ia menjadi sangat dingin dan tidak tesentuh.


Aileen beranjak pergi ke lantai empat. Sampai disana, ia melihat kakaknya sedang duduk menunggu dirinya.


Ia kemudian duduk dihadapan kakaknya. Mereka makan dalam diam.


Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Itu adalah bentuk kesopanan.


Di saat sedang makan, mereka di larang berbicara sedikit pun, karena dianggap tidak sopan.


Mereka makan dengan tenang. El sesekali melirik kearah Aileen.


Sedangkan yang dilirik, hanya acuh. Ia tidak mempermasalahkan hal itu.


Selesai makan, El mengajak adiknya ke ruangan miliknya.


Ruangan El langsung menghadap kearah pantai. Memang markas Darkness berada dipinggiran hutan dan sangat dekat dengan pantai.


Mereka kemudian duduk di balkon yang tepat untuk melihat matahari yang indah, berganti tugas dengan bulan dan bintang.


Mereka duduk diam. Selama lima belas menit tidak ada yang membuka percakapan.


_______________________________


**Kalau ada saran, kritik dan semacamnya, jangan sungkan untuk mengatakannya. Maaf kalo ada typo🙏.


Aku juga gak yakin kalau pasti akan update sabtu atau minggu. Kalau aku gak ada tugas, aku akan usahakan untuk update.


Mohon bersabar ya☺


Jangan lupa like dan comment


See you**