
Saat sampai di kamarnya, Xiao Yue mengganti pakaiannya dengan piyama tidur orang modern.
Setelah selesai, ia duduk di dekat jendela, memandangi indahnya langit malam.
Langit yang gelap, bintang bertaburan ditempat gelap itu. Bulan bersinar, menerangi gelapnya malam.
Angin malam yang berhembus pelan terasa sejuk dan nyaman.
Xiao Yue duduk dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang kearah lain.
Mengingat kenangannya di dunia modern, entah baik atau buruk.
Ia merindukan orang-orang terdekatnya, ayahnya, pengasuhnya, kakaknya. Semuanya.
Apa daddy baik-baik saja? Apa ia hidup bahagia?Apa daddy tidak mengamuk seperti dulu? Apa paman Brandon menjaga dirinya? Apa kak El tidak marah padaku?
Itulah pertanyaan yang mengisi otak Xiao Yue. Jujur, masih banyak lagi yang ia pikirkan.
Ia merindukan pelukan hangat daddy nya. Pelukan yang selalu membuatnya bisa merasa aman dan nyaman.
Sekarang, sudah tidak bisa ia rasakan, ia berharap daddy nya hidup dengan baik, walaupun tanpa dirinya.
Xiao Yue terus merenung selama semalam, ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan itu.
_________-_________
Di sisi lain, lebih tepatnya disebuah mansion besar yang berada ditengah hutan, memiliki bau amis darah.
Banyak darah yang menggenang disekitar mansion itu.
Disebuah kamar, terlihat seorang pria yang memiliki aura mengerikan sedang duduk disebuah kasur berukuran king size.
Entah apa yang dipikirkannya, tapi yang pasti, suasana hatinya sedang sangat buruk.
Wajah tampannya, yang dulu sering dipuja, terlihat sedikit tirus. Matanya terlihat bengkak karena menangis terlalu lama.
Keseharian nya hampa karena cahaya harapannya menghilang bagai ditelan bumi.
Ia sudah berusaha mencari, tapi tetap tidak menemukan hasil sedikit pun.
Tapi, ia tidak akan menyerah begitu saja, demi cahayanya apapun akan ia lakukan.
Dia adalah Edward. Ia bagaikan mayat hidup. Semua pekerjaan ditangani oleh tangan kanannya, Jeremi.
Ia masih belum bisa menangani semuanya, jika bukan Jeremi, ia akan meminta bantuan Brandon.
Tok
Tok
Kriet
Terdengar ketukan pintu. Tanpa menunggu jawaban, pintu itu terbuka.
Terlihat pria tampan berpakaian formal memasuki kamar bernuansa hitam, putih, dan merah.
Pria tersebut mengamati setiap sudut kamar itu, sampai netranya berhenti pada seorang pria yang sedang duduk menatap sebuah foto besar yang terpajang didepannya.
Ia berjalan mendekat dan duduk disamping Edward. Ia juga menatap foto besar itu dengan pandangan sendu.
"Apa ada perkembangan?" sebuah pertanyaan dengan nada datar keluar dari mulut Edward
"Belum. Tapi aku yakin, usaha tidak akan menghianati hasil. Aku rasa, ada yang sengaja menutupi keberadaan Aileen" ucap pria itu
"Cari sampai ketemu, Brandon" ucap Edward dengan nada sendu
Pria yang sedang berbicara dengan Edward adalah Brandon, pengasuh Aileen, dan sahabat Edward.
Edward hanya bisa tertunduk menyesal. Memang benar tentang pepatah 'penyesalan selalu datang diakhir'.
Brandon berbaring di kasur king size dan menutup matanya dengan sebelah tangannya.
Keheningan melanda mereka berdua. Tapi, keheningan itu hilang dengan bangkitnya Brandon secara tiba-tiba.
Brandon menatap Edward dengan pandangan rumit. Ia kemudian membuka suara.
"Ed, kau ingat dengan salah satu professor yang dekat dengan Aileen?" tanya Brandon dengan nafas memburu
Edward terdiam cukup lama, sampai ia membolakan matanya.
Ia ingat, anaknya dekat dengan seorang professor muda yang sangat terkenal.
Professor muda itu bernama El. Tidak ada yang tahu nama panjangnya.
Edward mendongakkan wajahnya menatap Brandon. Ia bangkit dan pergi ke meja yang berada dibawah foto besar yang memperlihatkan seorang gadis kecil yang cantik dan imut.
Tapi, tempat disekitarnya membuatnya terlihat bagai malaikat maut berwujud gadis kecil yang baik.
Gadis itu terlihat berdiri diatas tumpukan mayat yang tubuhnya tidak utuh.
Ia memegang sebuah sabit berwarna hitam di tangan kanannya sedang tangan kirinya memegang sebuah pedang.
Dibelakangnya terlihat bulan bersinar dengan terang ditengah kejadian mengerikan itu.
Gadis itu terlihat tersenyum bahagia hingga menampilkan lesung pipinya.
Sangat imut, tapi menakutkan. Gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah Aileen Freya Jovanka.
Back to story
Edward terlihat mencari sesuatu dari dalam lemari kecil itu.
Melihat barang yang dinginkan nya ditemukan, Edward dengan segera mengambil Handphone miliknya.
Ia terlihat menghubungi seseorang, dan tidak lama kemudian, terdengar suara seseorang di seberang.
"Halo?" seseorang
"Dimana putriku" sebuah pertanyaan, yang lebih mirip pernyataan terlontar dari mulut Edward dengan dingin
Edward menggertakkan giginya menahan amarah. Ia sudah frustasi.
"T-tolong, katakan dimana putriku hiks.. hiks" ucap Edward dan berakhir dengan tangisan yang sudah tidak bisa di bendung lagi
Ia rela memohon asalkan putrinya kembali kepelukannya.
Sedangkan disisi El, ia ragu untuk mengatakan posisi Aileen.
Ia takut Aileen akan marah padanya, tapi ia juga tidak tega dengan ayahnya Aileen.
Ia terdiam, keheningan di isi dengan tangisan Edward. Karena sudah tidak tega, ia dengan segera mengambil keputusan.
"Baiklah, dua hari lagi. Kita bertemu di kedai coffee *******" ucap El
Sedangkan Edward yang mendengar itu merasa sangat senang.
"Baiklah" tanpa berpikir ia langsung mengiyakan
El mematikan sambungan telephone mereka. Edward langsung menatap Brandon dan mengangguk.
Brandon merasa ada kupu-kupu yang terbang didalam perutnya.
Edward berjanji, ia akan memperbaiki hubungannya dengan putrinya.
Setelah itu, ia berjanji akan mengikat dan mengurung putrinya, agar ia tidak akan bisa lari dari sisinya.
Ia menyeringai dengan pemikirannya sendiri.
Jiwaa psikopat Edward sudah tidak bisa di ganggu gugat.
Ia akan melakukan segala cara untuk mengikat putrinya.
Apapun itu.
___________-___________
Kembali kesisi shadows, kini mereka sedang berada di dalam sebuah hutan yang gelap.
Mereka duduk melingkar dan terlihat sedang mendiskusikan sesuatu yang sepertinya penting.
Hal itu terlihat dari pelindung yang menggunakan sihir. Di dunia ini, penyihir sangat langka.
"Aku yakin, nona muda berada di benua ini. Hanya saja, letak tepatnya kita tidak tahu" ucap seorang pria berambut biru dengan nada lesu
Salah satu dari mereka terlihat sedang berpikir dengan keras. Setelah lama berpikir, ia kemudian bertanya pada temannya yang lain.
"Hei! Apa kalian sudah memeriksa hutan bagian timur dan kekaisaran Chen?" tanya pria yang berpikir keras tadi
"Eh!? Sepertinya belum. Kau memang jenius Dion" ucap pria berambut biru
"Yosi bodoh" ucap pria bernama Dion ke pria berambut biru
"Hei!! Aku tidak bodoh!!!" teriak Yosi ke Dion
"Kenyataan" ucap ketuanya
"Ketua Choi, kau sangat kejam" ucap Yosi dramatis
"Naj*s" ucap serempak kelimanya(-Yosi)
Yosi hanya bisa meratapi nasibnya bisa satu kelompok dengan orang-orang seperti mereka.Tapi mau bagaimana lagi.
"Baiklah, sebaiknya kita cepat mencari nona muda dan memberi informasi kepada tuan El" ucap Doni, kembaran Dion
"Em, apa sebaiknya kita bagi kelompok? kelompok pertama mencari keberadaan nona muda, dan sisanya mencari tubuh nona muda" ucap Jill
"Maksudmu?" tanya Joshua
"Begini, kita akan kesulitan menemukan nona muda dengan raga barunya, maka dari itu, kita akan memancingnya menggunakan raga aslinya.
Walau begitu, kita akan mencarinya terlebih dahulu. Jika kita tetap tidak menemukannya, barulah kita menggunakan tubuhnya. Bagaimana?" usul Jill
Semuanya mengangguk-anggukkan kepala dengan ide dari ahli strategi kelompok mereka.
Mereka membagi dua kelompok. Kelompok pertama beranggotakan, Choi, Yosi, dan Dion. Kelompok kedua, Doni, Jill, dan Joshua.
Mereka berpencar untuk melaksanakan tugas kelompok masing-masing.
___________-___________
Disisi Xiao Yue, terduduk di tempat tidurnya. Ia belum membuka matanya.
Menunggu beberapa menit, ia membuka matanya. Tapi, entah kenapa, warna netranya merah. Dan ia tidak menyadarinya.
Dan terlihat hanya sekilas. Saat ia mengedipkan mata, warnanya kembali normal.
Pagi menjelang siang. Xiao Yue dan rombongannya kembali ke kediaman ayahnya.
Si kembar hanya terus mengikuti, mereka tidak bertanya ataupun protes akan dibawah kemana mereka.
Saat sampai di kediaman ayahnya, Xiao Yue langsung memasuki paviliun miliknya dan melarang siapapun untuk memasuki paviliunnya.
Saat di kamar, dia berbaring di peraduannya. Ia memasukkan kesadaranya kedalam ruang dimensi.
Ia memantau perkembangan perusahaannya yang berada dibumi.
____________________________________________________________
Hai:) maaf ya lama up nya lama🙏 aku sibuk dengan kehidupan nyata. Semoga masih suka dengan cerita ini.
Maaf kalau banyak kesalahan dalam ceritanya.
Jangan lupa like dan comment
See you☺