The Leader Of The Last Adventure

The Leader Of The Last Adventure
26



Pagi yang cerah menyambut hari yang baru. Sejuknya udara dihutan terasa menenangkan.


Xiao Yue sepertinya tidak bisa lepas dari kata bosan. Menjadi bayi tidak selamanya menyenangkan.


Apalagi kau memiliki jiwa dan mental orang dewasa, orang yang sudah mengenal dunia.


Xiao Yue hanya bisa duduk dan bersandar di dada bidang ayahnya yang sedang mengerjakan tugasnya sebagai penatua kelima dari Sekte Bulan Darah.


Xiao Yue tahu karena secara tidak sengaja, ia membaca sebuah surat yang ditujukan untuk penatua kelima Sekte Bulan Darah.


Ingin rasanya Xiao Yue keluar untuk berjalan-jalan, tapi ayahnya tidak mungkin mengijinkannya.


Kalaupun boleh, ia harus ditemani ayahnya. Dan yang membuat perasaan dongkol adalah ia tidak akan diperbolehkan untuk melakukan ini dan itu.


Lebih baik duduk diam dipangkuan ayahnya yang nyaman itu.


Karena terlalu bosan, Xiao Yue menguap karena sudah mulai mengantuk.


Xiao Chen yang melihat itu mengambil bantal dan meletakkan nya dipangkuannya.


Ia duduk bersilah dan meletakkan Xiao Yue diatas bantal sebagai alas.


Ia membelai wajah imut yang sudah terlihat menutup matanya.


Sesekali Xiao Chen mencium pipi gembul milik anaknya yang menggemaskan itu.


Hidupnya terasa menyenangkan karena bayi sembilan bulan itu.


Bayi ini adalah orang kedua yang bisa membuat dirinya menampilkan sifat aslinya setelah istrinya.


Dua orang yang entah menggunakan sihir apa hingga membuat hatinya porak poranda.


Ia berjanji pada Feng Yilan, istrinya. Agar ia selalu membuat buah hati mereka tersenyum.


Xiao Chen tersenyum saat menatap putrinya, dan setelah itu kembali menampilkan wajah dinginnya saat mengangkat wajahnya.


_________0_________


"Tuan, kami tidak bisa menemukan keberadaan nona muda. Maafkan kami" ucap seorang pria berpakaian hitam ala agent


"*Carilah orang yang memiliki tato bunga mawar di dahi sebelah kanan, hanya kalian yang bisa melihatnya.


Dia tidak menggunakan raganya, tapi raga orang lain, temukan raganya*, shadows" balas seorang pria


"Baik, tuan El" ucap agent tersebut


Sambungan diputuskan sepihak oleh pria diseberang. Siapa lagi kalau bukan professor El.


"Bagaimana?" tanya seorang pria yang menggunakan pakaian yang sama


"Cari orang yang memiliki tato bunga mawar di dahi sebelah kanan" ucap pria yang tadi memberi informasi


"Baik ketua" ucap lima lainnya


Mereka adalah shadows yang bekerja dibawah perintah El.


Mereka di latih berkultivasi oleh El dan juga mereka berlatih sihir.


(Nanti akan ada penjelasan khusus untuk dunia barunya Aileen)


Shadows berlari menggunakan qinggong mereka. Mereka terus menelusuri benua Lanxi.


__________0__________


Kesadaran Xiao Yue memasuki ruang dimensinya. Tubuhnya dari luar terlihat tidur, tapi tidak dengan kesadarannya. (Maaf gaje😅)


Xiao Yue menelusuri sebuah danau dengan berjalan. Entah kenapa, ia merasa ada yang janggal.


Xiao Yue menatap ke tengah danau. Di tengah danau itu berdiri tujuh pilar yang tinggih dan megah.


Tapi bukan itu titik fokusnya. Ia melihat sebuah altar yang diatasnya mengambang sebuah kristal.


Tetapi, kristal tersebut redup. Tidak bersinar. Xiao Yue yang melihat tersebut, menampilkan wajah blank nya.


(Saat kesadarannya masuk ruang dimensi, ia akan berwujud tubuh aslinya)


Ia melebarkan matanya dan bahkan mulutnya menganga lebar.


Tersadar, ia menjadi panik. Ia mondar mandir hingga pusing kemudian duduk di pinggir danau menatap kearah kristal itu.


Ia mengangkat sebelah tangannya, dan tiba tiba, keluar cahaya kecil berbentuk bola dengan berbagai warna element. (Aku malas jelasin semuanya, nanti ada part khususnya)


Xiao Yue akhirnya menghela napas pasrah.


Kristal tersebut adalah kristal penyegelan. Seluruh kekuatan yang dimilikinya disegel di kristal itu.


Dan entah kenapa, kristal itu redup yang berarti kekuatan Xiao Yue (Aileen) sudah lepas dari segelnya.


Tapi, ya mau bagaimana lagi. Terima keadaan saja. Harus selalu bersyukur.


Xiao Yue kembali kedalam tubuhnya. Saat ia membuka mata, ia melihat ayahnya yang masih berada ditempat yang sama.


Ia menggerakkan sedikit tubuhnya untuk mencari posisi yang nyaman.


Xiao Chen yang merasakan pergerakan dibawahnya menoleh, ia mendapati anaknya yang bergerak.


Ia tersenyum hangat dan mencubit pipi gembul anaknya.


Entah kenapa ia sangat suka usil terhadap anaknya sendiri jika sedang tidur.


Xiao Chen berpindah tempat dengan aray teleportasi.


Ia muncul dibawah sebuah pohon yang rindang masih dengan posisi yang sama.


Angin berhembus dengan lembut menerbangkan beberapa helai rambut mereka berdua.


Terpaan angin itu membuat Xiao Yue nyaman dan kembali tertidur dengan damai.


Xiao Chen juga ikut tertidur setelah memasang pelindung di area sekitar mereka.


Pemandangan yang sulit untuk dijelaskan. Dua orang yang memiliki wajah bagai pahatan sempurna itu, tertidur dengan nyenyak nya.


Pagi berganti siang, sebentar lagi adalah waktu makan siang.


Xiao Yue terbangun dan melihat ke atasnya. Ia melihat ayahnya yang tertidur dengan nyaman sambil memangku dirinya.


Saat melihat ke sekeliling, wajahnya terlihat dingin. Tapi matanya berbinar, tidak bisa berbohong kalau sebenarnya ia senang berada di luar dari tempatnya yang biasa.


Xiao Yue mencoba untuk bangun untuk berjalan. Tapi Xiao Chen malah terbangun karena pergerakan dari Xiao Yue.


Ia membuka mata dan melihat anaknya yang sudah terduduk dan mencoba berdiri.


Ia hanya membiarkan saja dan melihat. Saat Xiao Yue sudah berdiri, ia melangkahkan kaki kanannya.


Tapi karena tidak rata, ia hampir terjatuh. Tapi untungnya, ayahnya dengan sigap menahannya.


Mereka saling tatap dan tersenyum. Xiao Chen membantu anaknya untuk berjalan.


"Yue'er, pelan pelan. Tanah ini tidak rata, kau bisa terjatuh. Biar ayah bantu" ucap Xiao Chen dan mengecup pucuk kepala Xiao Yue


Ia menuntun Xiao Yue dengan perlahan. Mereka berjalan dengan menikmati suasana tenang itu.


Lima belas menit berjalan, Xiao Yue sudah lelah. Xiao Chen kemudian menggendong Xiao Yue dan bersiap membuka aray teleportasi, tapi dihentikan oleh Xiao Yue.


"Yah ya. An an" ucap Xiao Yue sambil menggeleng ribut dan menarik beberapa helaian rambut ayahnya


Xiao Chen yang melihat itu hampir tertawa. Anaknya sangat menggemaskan.


Ia menghentikan pembukaan aray teleportasi. Ia kemudian menatap anaknya.


"Kenapa? Sudah hampir waktu makan siang, kita harus kembali" ucap Xiao Chen mencoba menggoda anaknya


Xiao Yue menggeleng dengan ribut, entah mungkin karena masih bayi, emosinya sangat mudah terpancing.


Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Xiao Chen menjadi gelagapan sendiri.


"E-eh, iya kita disini. J-jangan menangis ya sayang, ayah hanya bercanda. Sh, sh" ucap Xiao Chen mencoba menenangkan


Xiao Yue menghapus air matanya dengan menggosokkan wajahnya di pakaian ayahnya.


Xiao Chen tersenyum, ia berlari menggunakan qinggong untuk mencari tempat yang cocok untuk piknik.


Ia berhenti di dekat air terjun. Tempat yang strategis karena dekat dengan sungai.


Saat sudah mempersiapkan semuanya, ia meletakkan anaknya diatas bantal.


Xiao Chen mengambil botol susu dan memberikannya pada anaknya.


Xiao Yue mengambil botol susu itu kemudian berbaring diatas bantal dan meminumnya.


Sedang sang ayah hanya duduk dan memainkan jari-jari kaki yang mungil milik anaknya.


Xiao Chen adalah seorang kultivator, ia sudah tidak butuh makan lagi.


Kalaupun ia makan, ia hanya memperlihatkan didepan orang saja, agar mereka berpikir kalau ia orang biasa yang perlu makan.


Xiao Chen sibuk memperhatikan anaknya. Sedang Xiao Yue sibuk dengan susunya.


__________________________________________________


Jangan lupa like dan coment


See you😊