The Leader Of The Last Adventure

The Leader Of The Last Adventure
14. Masa lalu 14



"Hei, kemarin aku melihat tetanggaku bertengkar dengan anaknya" karyawan A


"Mereka bertengkar karena apa? Dan tetanggamu pria atau wanita?" karyawan B


"Tetanggaku pria, ia memiliki seorang anak perempuan. Yang kudengar, ia ternyata adalah orang yang menghancurkan keluarga dari anaknya" jawab karyawan A


"Maksudnya, anak perempuannya baru tahu kalau pria itu adalah ayah angkatnya atau ia memang sudah tahu?" tanya karyawan C


"Dia sudah tahu, ia diadopsi saat berumur lima tahun. Dan ia ternyata mencari tahu tentang kehancuran keluarganya.


Tapi, saat tahu ternyata orang yang dia cari adalah ayah angkatnya sendiri" kata karyawan A


"Lalu, apa yang terjadi?" tanya karyawan B


"Apa lagi, anak itu sangat kecewa dan dia langsung pergi walau ayahnya itu memohon-mohon, tapi mau bagaimana lagi" kata karyawan A sambil melanjutkan makannya


Edward yang mendengar itu semua menegang ditempat. Ia mengeluarkan keringat dingin. Ia merasa sangat ketakutan sekarang.


Ia takut kalau anaknya akan seperti itu jika ia mengetahui kebenaranya. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Biarlah itu menjadi rahasia. Ia tidak ingin kehilangan cahayanya.


Tidak peduli kalau orang bilang ia egois. Tapi ini demi kebaikan. Itulah yang dia pikirkan.


Jadi, ia akan menutup mulut tentang hal itu.


Back to story


"Tuan, sudah saatnya" ucap Jeremi


"Baiklah" Edward sedikit kaget tapi berhasil disembunyikan


Edward keluar dari ruang bawah tanahnya dan pergi ke ruang gaming.


Saat sampai didepan pintu gaming, ia langsung membukannya.


Aileen yang sedang fokus dengan gamenya, tidak menyadari kalau ayahnya berada dibelakangnya.


Aileen sesekali ia tertawa melihat kekonyolan orang-orang random yang bermain di game yang sama dengannya.


Edward hanya bersender di pintu dan tersenyum melihat tawa anaknya yang bisa membuatnya merasa bahagia.


Ia sangat menyayangi anaknya. Ia akan melakukan apapun agar anaknya selalu tersenyum bahagia. Kalaupun harus menyerahkan nyawanya, ia rela. Sangat rela.


Sebagai orang tua, pasti mereka akan melakukan apapun demi kebahagiaan anak mereka.


Dan sekarang itulah yang dirasakan olehnya. Ia tak menyangka kalau ia, akan merasakan apa yang dirasakan oleh kedua orang tuanya.


Ia mendekat kearah Aileen dan memeluknya dari belakang dan mengecup pucuk kepala Aileen.


Aileen sedikit terkejut, tapi tidak menolak pelukan hangat itu. Ia tahu bahwa itu adalah ayahnya. Siapa lagi yang berani memeluknya kalau bukan sang ayah.


"Oh iya, daddy berkas-berkasnya sudah Vanka masukkan ke filenya masing-masing. Daddy masih tidak enak badan? Kenapa tidak istirahat saja" ucap Aileen menatap ayahnya khawatir


"Daddy baik baik saja, baby. Apa kau sudah siap bertemu dengan opa dan oma?" tanya Edward diakhir kalimat


"Sudah, tunggu sebentar daddy. Daddy sudah sarapan?" tanya Aileen


"Belum. Kalau Vanka?" tanya Edward


"Sudah. Daddy kan sakit, kenapa tidak sarapan?" tanya Aileen khawatir dengan sang ayah. Matanya sudah berkaca-kaca, dan berhasil meloloskan setetes. Dan mulai bertambah banyak


Edward yang melihat itu langsung saja memeluk anaknya dan mencoba menenangkannya. Ia juga hampir menangis melihat anaknya yang sudah menumpahkan air matanya.


"Baby, dengarkan daddy. Kenapa baby menangis, hm? Apa baby sakit? Atau dad-" tanya Edward dan disela oleh Aileen


"Dad hiks.. hiks Vanka hiks.. takut hiks.. hiks" ucap Aileen sambil menangis dipelukan ayahnya


"Takut kenapa? Ada yang salah? Siapa yang sudah berani mengganggu anak daddy, hm? Katakan pada daddy. Biar daddy beri pelajaran" ucap Edward


Rahangnya mengeras. Matanya tertutup rapat. Mulutnya sekarang terkatup rapat. Ia benar-benar marah sekarang.


Ia mencoba menahan amarahnya agar anaknya tidak melihatnya. Ia tidak terima jika anaknya menangis. Ia pasti akan membalas orang itu.


Maap baru update, otak aku rada blank+lupa kalau penulis😁


Jangan lupa like, coment, dan vote


See you