
"Ayo jujur" ucap Edward
"Daddy" jawab Aileen
"Ehh? Daddy?" tanya Edward sambil menunjuk dirinya sendiri dengan bingung
"Iya. Vanka takut kalau nanti daddy kayak sahabat ayah" ucap Aileen dengan wajah polos dan nada lirih diakhir kalimat
Edward tertegun mendengar perkataan Aileen. Ia merasakan semua emosinya bercampur. Ia bahkan tidak tahu bagaimana mengekspresikannya.
Terharu karena anaknya mengkhawatirkan dirinya.
Bahagia karena anaknya ternyata juga sayang padanya.
Sedih karena melihat anaknya menangis.
Marah anaknya menangis karena dirinya.
"Baby, daddy minta maaf karena membuatmu khawatir. Daddy janji kalau daddy tidak akan mengulanginya" janji Edward sambil mengangkat jari kelingking nya
"Daddy sudah janji. Jadi, harus di tepati" kata Aileen sambil menautkan kelingking miliknya dengan Edward
"Iya. Mana senyumnya baby girl, hm?" kata Edward
"Ini" kata Aileen sambil tersenyum manis
Edward yang melihat senyum manis itu memerah. Dia tidak menyangka kalau senyum anaknya sangatlah manis dan menggemaskan.
Ia ingin hanya dia pribadi yang bisa melihat senyum itu. Jadi, ia selalu membuat wajah datar dan dingin didepan umum,
Karena ia tahu, kalau seorang anak pasti akan mengikuti apa yang orang tuanya ajarkan. Maka dari itu, ia juga selalu menyuruh Aileen untuk tidak menampilkan sifat lainnya selain dingin, datar, kejam, sadis, dan irit bicara.
Edward merasa itu adalah yang terbaik untuk putri kecilnya.
Back to story
Akhirnya Edward dan Aileen bertemu dengan orang tua Edward.
Awalnya orang tua Edward shock, tapi saat melihat sifat Aileen yang mirip dengan Edward, mereka tidak mempermasalahkannya.
Edward juga menyuruh Aileen untuk pergi bersama Jeremi dan beberapa bodyguard, karena Edward ingin menjelaskan kepada orang tuanya pasal kebenaran tentang Aileen.
Orang tua Edward sangat terkejut dengan apa yang Edward lakukan.
Mereka tidak masalah kalau Edward membunuh orang, tapi lain lagi kalau sudah berurusan dengan Aileen.
Edward meminta orang tuanya untuk merahasiakan hal ini dari Aileen.
Ia tidak mau kehilangan cahaya harapannya untuk bertahan.
Asalkan, ia memiliki seseorang yang bisa dipercaya untuk menjadi pewaris dari keluarga Bram.
Setelah perbincangan itu, Edward langsung undur diri karena ingin cepat pulang.
Ia menyuruh Jeremi untuk menjemputnya ke rastauran.
Saat sudah sampai, ia langsung masuk kedalam mobil dan melihat anaknya yang sudah tertidur.
Ia lalu tersenyum dan menggendong anaknya, dan membiarkannya tertidur dipangkuannya.
Saat sampai di mansion, ia langsung membawa kekamar miliknya, dan membaringkan tubuhnya beserta anaknya dan akhirnya tertidur dengan pakaian itu tanpa diganti.
Skip
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.
Kini, Aileen sudah berumur empat belas tahun.
Hari ini adalah hari kelulusannya dan hari ini pula, ia akan menyandang gelar S3.
Ia hanya ikut home schooling. Tapi, karena kejeniusannya, ia biasanya mengikuti kelas akselerasi setelah diberi semua pelajaran.
Kalau kuliah, ia hanya dari rumah, dan diawasi oleh seorang dosen.
Back to story
Saat ini, kamar Edward seperti kandang. Banyak barang berserakan. Dan sang pembuat onar, sekarang tengah membangunkan pemilik kamar tersebut.
Sudah satu jam lebih ia mencoba membangunkan pemilik kamar, akan tetapi usahanya selalu gagal.
"Daddy, bangun. Hari ini kita ada acara penting" rengek Aileen sambil menindih tubuh Edward dan sesekali mencubit pipi dan hidung ayahnya.
Tapi hal itu tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Daddy" rengek Aileen karena jujur ia sudah lelah membangunkan sang ayah
Bukannya bangun, ayahnya malah membawanya kedekapan hangat sang ayah. Nyaman.
Itulah yang dirasakan Aileen. Tapi, tetap saja ia masih kesal dengan ayahnya.
Ayahnya sekarang menjadikan dirinya guling dan malah memakan pipi chubby nya.
Maap banget kalau update nya sering telat
Jangan lupa like, coment, dan vote
See you