
Keesokan harinya, Aileen hanya berdiam diri diruang gaming yang disediakan khusus untuk dirinya.
Ia tidak bermain game melainkan memeriksa file-file data perusahaannya yang sudah menumpuk.
Setelah selesai, ia keluar dari ruang gaming dan pergi keruang kerja ayahnya.
Saat sampai didepan pintu, ia mengetuk pintu dan setelah terdengar sahutan dari dalam, barulah ia masuk.
Saat Edward melihat anaknya, ia langsung beridiri dan duduk disofa dan menepuk pahanya dua kali.
Aileen hanya menurutinya, dan duduk menghadap dipangkuan Edward.
Edward tersenyum dan memeluk Aileen, sedangkan Aileen hanya bersandar didada bidang ayahnya.
"Ada apa sayang?" tanya Edward dengan lembut
"Dad, boleh tidak, kalau Vanka ke Lab?" tanya Aileen hati-hati
"Kalau tidak boleh juga tidak apa" lanjut Aileen
Edward awalnya marah, tapi ia tidak boleh untuk terlalu egois saat ini.
Jadi dengan sabar, ia menenangkan amarahnya. Dirasa sudah tenang, ia menjawab Aileen
"Boleh, tapi harus ada yang menemanimu. Iya atau tidak sama sekali" jawab Edward tegas
Aileen hanya bisa menyetujuinya, dari pada tidak sama sekali. Batin Aileen
Setelah itu mereka bersiap. Setelah bersiap, mereka pergi ke landasan khusus helikopter.
Sesaat setelah duduk, tiba tiba Aileen menjadi mengantuk. Dan sesaat sebelum tertidur, ia ingat kalau ia meminum sesuatu dari botol minum ayahnya.
Sudah pasti ayahnya mencampurkan sesuatu agar saat Aileen merasa haus, ia akan memberikan botol yang sudah dicampurkan sesuatu.
Ia lupa kalau ayahnya adalah seorang mafia. Sudah pasti ayahnya tahu kalau ia akan mencari jalan keluar dari pulau itu.
Sudah dipastikan ia akan mengetahui trik-trik seperti itu.
Aileen hanya bisa pasrah. Dan berakhir tertidur dipundak ayahnya.
Edward yang melihat itu hanya bisa tersenyum kecil.
Edward mengelus surai perak Aileen kemudian menyenderkan kepalanya ke kepala Aileen.
Dan ikut tidur bersama anaknya.
~dua jam kemudian~
Edward lebih dahulu terbangun. Ia melihat anaknya yang masih tertidur hanya tersenyum jahil.
Ia lalu melepas Aileen dari tempat duduknya dengan hati-hati dan memindahkan kepangkuannya.
Setelah itu menyatukan dahi mereka dan tangannya menahan kedua pundak anaknya.
Ia memulai dengan mencium kedua pipi anaknya. Merasa puas, ia menyandarkan kepala anaknya di dadanya dan mencubit gemas pipi chubby kesayangannya.
Sedangkan sang empu tidak merasa terganggu sama sekali. Ia saat ini sedang bermimpi indah.
Ia bermimpi sedang menyiksa korbannya dengan sadis sambil sesekali menghisap darah korbannya dengan hanya menyentuhnya.
Mendengar teriakan 'mainannya' sungguh seperti mendengar lagu favoritmu.
Benar-benar mimpi yang sangat indah.
Edward yang melihat kalau sebentar lagi akan sampai, tetap membiarkan anaknya tertidur.
Ia akan membangunkan anaknya kalau sudah sampai dimobil.
Ia masih betah dengan kegiatannya saat ini. Jadi, ia tidak mau merusak moment kesukaannya.
Skip
Kini, Edward turun dari helikopter dengan menggendong anaknya.
Ia disambut oleh tangan kanannya, Jeremi. Dan kemudian ia masuk kemobil.
Saat diperjalanan, Edward membangunkan anaknya dari tidurnya.
Ia mengecup seluruh wajah anaknya sampai ia merasa terganggu dan terbangun.
Pipi di gembungkan dengan bibir yang mengerucut dengan mata terpejam. Sangat menggemaskan menurut Edward.
Ia hanya terkekeh dengan keimutan anaknya. Ia tahu anaknya masih mengumpulkan nyawanya.
Atau bisa dibilang masih loading. Dan itu membutuhkan waktu beberapa menit untuk Aileen.
Saat merasa bahwa nyawanya terkumpul, Aileen langsung membuka matanya yang berwarna biru itu.
Tapi, entah bagaimana warna matanya memiliki campuran warna lain.
Edward yang melihat itu merasa heran. Ia memutuskan untuk bertanya nanti saja.
Karena saat ini, ia tidak sedang berdua dengan anaknya itu.
Bahkan sang pemilik mata saja tidak sadar akan perubahan itu.
"Vanka, lapar tidak?" tanya Edward dengan lembut
Aileen hanya menganggukan kepalanya lucu. Jujur ia sudah sangat lapar.
Jika dilihat dari waktunya juga sudah waktunya makan siang.
"Sayang, makan diperusahaan saja, ya?" tanya Edward
"Iya, daddy" jawabnya dan menyenderkan kepalanya di pundak Edward
Kalau boleh jujur, ia masih sedikit mengantuk. Obatnya masih sedikit berpengaruh padanya.
Tapi, jika ia tidak makan, sudah dipastikan ayahnya akan marah besar, jadi ia lebih memilih menurut.
Toh ia juga lapar.
Saat sampai didepan perusahaan, Edward menyuruh Aileen untuk menggunakan tudung hoodie miliknya.
Aileen hanya menurut saja, dan diam dipangkuan ayahnya. Saat jeremi membuka pintu, Edward keluar dari mobil dengan menggendong anaknya ala koala.
Sebelum berangkat tadi, ia sudah mengecek jadwalnya hari ini.
Maka dari itu, ia sudah menggunakan jas kantor lebih dulu.
Dan setelah makan siang, ia ada meeting dengan klien nya.
Back to story
Edward berjalan masuk ke perusahaannya dengan aura yang sangat dingin.
Para karyawan membungkuk saat sang CEO lewat didepan mereka.
Mereka juga terkejut melihat sang pemilik perusahaan menggendong seorang gadis.
Mereka tahu bahwa yang digendong oleh Edward adalah seorang gadis karena melihat postur tubuh Aileen.
Ada banyak wanita yang merasa iri dan benci melihat kearah gendongan Edward.
Mereka bahkan mulai bergosip.
*Hey, lihat CEO menggendong seorang gadis
Iya, beruntung sekali gadis itu
Huh, pasti ia adalah j*l*ng yang menggoda calon pacarku*
Mendengar perkataan terkahir itu, Edward benar benar sangat murka.
Wajahnya memerah, rahangnya mengeras. Ia sangat marah saat ini.
Hawa disitu tiba-tiba turun dengan drastis. Suasana disitu sengat menyeramkan.
"Kau.. Bilang apa tadi?" tanya Edward dengan penuh penekanan
Karyawan itu benar-benar sangat ketakutan sekarang. Ia sudah terduduk lemas dilantai.
Maaf kalau pendek, otakku rada macet😁
Jangan lupa like dan coment
See you