The Leader Of The Last Adventure

The Leader Of The Last Adventure
24



Tidak lama kemudian, suasana hening tersebut lenyap karena suara El.


"Vanka, semua persiapan sudah siap. Tinggal menunggu sentuhan terakhir darimu. Kapan kau akan melakukannya?" ucap El yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan


"Entahlah" jawab Aileen dingin dan terkesan tidak peduli


El hanya bisa menarik napas dan membuangnya. Ia tidak tahu harus apa sekarang.


"Vanka, kakak memperingatkan dirimu. Bukan sebagai atasan dan bawahan.


Melainkan sebagai kakak dan adik. Jangan sekali-kali kau berbuat hal aneh atau nekat.


Kakak tidak akan mengurung dirimu agar di melukai atau membahayakan keselamatanmu. Ingat itu" nasihat El dengan nada yang sangat tegas


Seolah mengatakan kalau ia tidak bisa dibantah sedikit pun.


Aileen melirik sekilas dan hanya menjawab dengan deheman.


"Hm" dehemnya


Aileen berdiri dari tempatnya dan menuju ke suatu tempat, diikuti El.


Kini, Aileen tiba disebuah pintu yang dijaga dengan ketat, entah dari bodyguard, anggota mafia, bahkan sistem teknologi yang sangat canggih ciptaannya.


Ia langsung masuk kedalam ruangan tersebut bersama El.


Di ruangan tersebut terlihat banyak orang memakai jas berwarna putih sampai paha layaknya seorang dokter.


Tetapi bukan dokter. Mereka adalah ilmuwan dan peneliti terkenal dari berbagai belahan dunia.


Mereka semua direkrut oleh Aileen dan diseleksi secara pribadi untuk memastikan mereka tidak akan membocorkan rahasia ini ataupun berkhianat kepada dirinya, dengan jaminan keselamatan keluarga.


Para ilmuwan dan peneliti itu terlihat bekerja keras, mereka mondar mandir melakukan tugasnya masing-masing.


Aileen menuju kesebuah meja dan mengaktifkan sebuah sistem.




Ia mulai menambahkan hal-hal yang kurang.


Tanpa sepengetahuan siapa pun, ia menyetel sesuatu di sistem itu.


Tapi yang tidak ia sadari, gerak geriknya di lihat oleh El yang mengawasinya.


El yang melihat tersebut menyeringai, ia tahu apa yang sedang dilakukan oleh gadis yang dianggap sebagai adiknya.


Ternyata benar dugaan El, pasti ada hal lain yang membuat Aileen meneruskan pembuatan alat itu.


Pembuatan alat itu sebenarnya sempat terhenti selama kurang lebih sebelas bulan.


Entah hal apa yang membuat Aileen menghentikan pembuatan alat tersebut.


Tapi, tidak lama kemudian ia kembali melanjutkan pembuatan alat itu setelah sekian bulan.


Tentu saja hal itu membuat sebuah kecurigaan dari El.


Dan terbukti saat ini. Aileen pasti melakukan hal-hal yang aneh pada sistem itu.


Back to story


Aileen sudah menyelesaikan pembuatan alat tersebut. Ia kemudian menekan tombol berwarna merah.


Tiba-tiba muncul sesuatu yang mirip dengan sebuah portal besar.


Para ilmuwan dan peneliti hanya bisa menatap melongo, kagum, dan tidak percaya.


Mereka dengan serempak menatap Aileen dengan pandangan kagum.


Aileen membalikkan badan mengahadap semua orang yang berada disitu.


"Jangan sampai kabar alat ini tersebar luas" ucap Aileen dengan nada sangat dingin dan aura membunuh yang kental


Ia kembali menatap ke depan. Ia berjalan mendekat ke arah portal.


Saat lima langkah lagi, tangannya tiba-tiba ditarik hingga badannya membentur dada bidang orang itu.


Ia mendongak ke atas dan melihat El tersenyum lembut.


"Apa yang akan kau lakukan, hm?" tanya El dengan lembut


"Aku ingin melihatnya dari dekat. Itu saja" ucap Aileen dengat dingin


El kemudian melepaskan pelukannya dari Aileen.


Aileen lantas kembali berjalan hingga tinggal satu langkah lagi untuk masuk keportal.


Ia membalikkan badannya dan menatap El dan tersenyum lebar.


Ia kemudian melompat kebelakang dan masuk kedalam portal.


Semua orang kaget melihat hal itu. Tetapi tidak dengan El.


Selang tiga detik, El berteriak lantang.


"SHADOW" teriaknya


Setelah itu terlihat beberapa bayangan hitam yang langsung ikut masuk kedalam portal.


El melepaskan gas lupa ingatan diruang itu dan membuat semua orang pingsan dan melupakan tentang alat itu.


Hanya ia saja yang boleh mengetahuinya. Jika tidak, akan ada masalah besar dikemudian hari.


Ia kemudian mematikan alat tersebut dan memerintah beberapa bodyguard untuk mengembalikan para ilmuwan dan peneliti ke asal mereka.


Disisi Aileen


Aileen saat ini untuk pertama kalinya membuka mata di tempat barunya.


Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit sebuah kamar yang terlihat sederhana.


Ia mencoba bangun dari tidurnya. Tapi, ia rasanya sulit menggerakkan tubuhnya.


Bahkan mengangkat tangannya saja ia merasa sangat sulit.


Ia mengerutkan keningnya tampak berpikir, apakah ia cacat? atau ia tidak bisa mengendalikan tubuh barunya?


Aileen mencoba untuk berteriak meminta tolong pada siapapun. Tapi...


"Uwa wa" teriaknya


Aileen terdiam cukup lama, pikirannya sudah berkeliaran kemana-mana karena memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk.


Tapi, apa mau dikata. Ia hanya bisa menerima nasib menjadi seorang bayi.


Tapi lamunannya terhenti kala mendapati seorang pria muda dan tampan masuk dan duduk disamping tempat tidurnya.


Wajah pria itu terlihat dingin, akan tetapi matanya memancarkan kelembutan dan kesedihan mendalam saat menatapnya.


Pria itu tertegun, ketika menyadari bayi yang ditatapnya menampilkan raut wajah sedingin es.


Ia membawa bayi tersebut kegendongannya, dan mengerutkan keningnya melihat bayi yang baru lahir tersebut tidak menangis seperti bayi lainnya.


Dirinya menjadi panik dan berteriak memanggil seseorang.


Tidak lama muncul seorang pria berpakaian hitam dan berlutut pada pria tampan itu.


"LI!!" teriak pria itu


"Ya tuan" kata Li


Aileen yang mendengar itu rasanya ingin membunuh pria yang menggendongnya itu.


Sedangkan pria bernama Li tersebut menatap dengan intens ke bayi yang digendong oleh tuannya.


Aileen membalas tatapan itu dengan tatapan dinginnya.


Li yang melihat tatapan dingin itu bergetar ketakutan.


Ia tidak menyangka bayi yang belum genap seminggu memiliki tatapan seperti itu. Entah bagaimana jika saat dewasa.


"Biar saya lihat, tuan" ucap Li yang mencoba mendekat untuk menggendong Aileen


Akan tetapi, belum sempat ia menyentuh Aileen, bayi tersebut disembunyikan oleh pria yang di panggil tuan di belakangnya.


Aileen yang melihat itu hanya menampilkan wajah datar 'posesif' itulah yang menjadi kesan pertama Aileen kepada pria yang di sebut AYAH dari tubuh barunya.


Sedangkan Li hanya menghela napas. Ia tidak menyangka jika tuannya ternyata posesif.


"Nona muda baik-baik saja, tuan" ucap Li


"Keluar" ucap pria itu


Li hanya bisa menuruti perintah dari tuannya itu.


Setelah kepergian Li, pria itu duduk bersilah di tempat tidur dan menggendong Aileen dan menatap dengan seksama bayi yang mirip dengannya, dalam versi perempuan.


"Panggil aku Ayah. A.Y.A.H." ucap pria itu pada anaknya


Sedangkan Aileen hanya menatapnya dengan datar, tanpa ekspresi.


Aileen tidak mau melakukan apa yang disuruh ayah barunya itu.


"Ayah. Panggil aku ayah" ucap pria itu lagi dengan wajah memelas yang dianggap menggelikan oleh Aileen


Aileen hanya terus diam. Sedangkan pria tersebut yang mulai kesal menggigit gemas pipi gembul anaknya.


Aileen yang digigit hanya bisa merasakan awan mendung dihatinya.


Demi apapun, ia tidak suka jika pipinya dicubit atau digigit oleh orang tidak dikenal.


Aileen tidak membiarkan siapapun menyentuhnya kecuali orang yang masuk daftar orang tersayangnya.


Dan juga entah kenapa, Aileen merasa De javu dengan kondisi dirinya saat ini.


Tapi, Aileen tidak memikirkannya. Yang terpenting adalah cara melepaskan gigitan dipipinya.


Aileen berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat tangannya.


Saat berhasil, ia menggenggam rambut hitam panjang milik ayahnya, kemudian menariknya sekuat tenaga walaupun tidak akan terasa, tapi setidaknya berhasil.


Pria itu melepaskan gigitannya. Terlihat bekas berwarnah merah dipipi Aileen.


Pria tersebut menatap tangan Aileen yang menggenggam beberapa helaian rambutnya.


Tangan kirinya digunakan untuk menopang tubuh Aileen, sedang tangan kanannya melepaskan dengan lembut tangan anaknya dari rambutnya.


Ia mengganti dengan jari telunjuknya. Sekarang anaknya menggenggam jarinya.


Ia kemudian meneteskan air matanya, tidak kuasa menahannya sejak tadi.


Ia baru saja merasa bahagia, tetapi harus merasa sedih setelah bahagia.


Sembilan bulan yang lalu, dirinya mendapat kabar bahagia dari istrinya tercinta.


Kalau istrinya hamil anak pertama mereka. Tetapi, baru dua hari yang lalu, istrinya meninggal dunia setelah persalinan anak pertamanya.


Ia sangat putus asa, tetapi ia mengingat pesan terakhir orang yang dicintainya.


"Jaga putri kecil kita. Sayangi dan lindungi dia. Jangan sampai ia terluka sedikit pun. Jangan lupa, jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu, XIAO CHEN YU"


Itulah pesan terakhir istrinya sebelum menghembuskan napas terkahirnya.


Mulai dari itu, ia bertekad akan melakukan apapun demi putri tunggalnya.


Back to story


Aileen yang melihat air mata ayahnya, mengusap air matanya, kemudian memberikan senyum tulus dan manisnya.


Sedangkan Xiao Chen yang merasakan usapan lembut dan melihat senyuman manis itu, mendekap erat anaknya itu.


Ia menangis mengeluarkan semua kesedihan dirinya.


"Ya yah" panggil Aileen, ia berusaha menghibur


Tetapi yang keluar hanya itu, ia tidak bisa berbicara seperti dulu.


Sedang Xiao Chen, setelah melepaskan dekapannya, ia melihat putri kecilnya yang baru saja memanggil dirinya ayah, merasa sangat senang.


"Namaku, Xiao Chen Yu. Aku putra kedua dari kaisar Chen dan permaisuri.Umurku dua puluh tiga tahun. Dan nama ibumu adalah Feng Yilan.


Ia adalah anak pertama dari jendral dari kekaisaran Chen. Anak pertama jendral Feng dan istri sahnya. Umurnya dua puluh tahun.


Dan namamu adalah Xiao Chen Yue. Sekian perkenalan kita, Yue'er" ucap Xiao Chen dan tersenyum


Aileen merasa hangat dihatinya. Ia sangat nyaman dengan rasa hangat itu.


(Karena ia sudah ditempat lain, ia akan pakai nama Xiao Chen Yue)


Xiao Yue menganggukkan kepalanya. Xiao Chen melongo.


"Apa kau mengerti perkataan ayah?" tanya Xiao Chen tidak percaya


Xiao Yue menganggukan kembali kepalanya. Xiao Chen hanya bisa menampilakan wajah bodohnya.


"Yue'er harus menjelaskan nanti pada ayah, ya?" kata Xiao Chen


Ia tidak peduli apakah yang ada digendongannya ini adalah anaknya atau bukan, yang pasti ini adalah buah hatinya bersama sang cinta.


Sedangkan Aileen tidak peduli, kalaupun dia di usir, ia tidak masalah.


Yang pasti ia akan jujur pada orang yang mulai sekarang adalah ayahnya.


"Yue'er, waktunya untuk makan. LI!!!" ucapnya diakhiri dengan sebuah teriakan


"Ya tuan" jawab Li


"Siapkan makanan bayi" ucap Xiao Chen dingin


"Baik tuan" jawab Li


Li kemudian menghilang dan muncul kembali dengan sebuah botol susu.


(Aku gak tahu bentuk botol susu zaman dulu, maaf)


Ia kemudian membantu Xiao Yue untuk meminumnya.


 


\_


 


Kalau ada kritik atau saran, jangan sungkan untuk memberitahu☺


**Jangan lupa like dan comment


See you**