The Leader Of The Last Adventure

The Leader Of The Last Adventure
09. Masa lalu 9



1 tahun kemudian


"Daddy, Vanka mau sekolah" ucap Aileen pada sang ayah


Pernyataan tersebut mengalihkan perhatian Edward dari laptop ke arah putri semata wayangnya.


Saat ini mereka berdua sedang berada di ruang kerja milik Edward. Edward yang sedang mengerjakan beberapa berkas, dan Aileen yang berada disofa dengan laptop dipangkuannya.


"Sekolah?" tanya Edward


"Iya" jawab Aileen


"Baiklah. Tapi, home schooling (maaf kalau salah dalam pengejaan) dan daddy tidak menerima penolakan" kata Edward tegas


"Baiklah. Thank you daddy" kata Aileen sambil tersenyum.


"Sama-sama sayang. Sini sama daddy" Edward memanggil Aileen untuk duduk dipangkuannya.


Dengan senang hati Aileen duduk dipangkuan sang ayah. Edward memeluk tubuh mungil Aileen dengan erat dan tidak mau melepaskannya.


Jadi, Edward mengerjakan berkas pentingnya dikursi kebesarannya sambil memangku Aileen.


Sekitar tiga puluh menit Edward mengerjakan berkas-berkas itu.


Saat melihat Aileen, ternyata ia sudah tertidur. Karena merasa gemas dengan pipi putrinya yang seperti bakpau, akhirnya ia menguyelnya sampai merah.


Bukannya terbangun, Aileen malah memutar posisi kepalanya yang semula menghadap kanan menjadi kekiri.


Melihat itu, Edward hanya terkekeh. Putrinya ini sangat lucu dan menggemaskan.


Ia berdiri sambil menggendong Aileen dan membawanya kekamar Aileen. Ia membaringkan Aileen dan akhirnya ikut berbaring disampingnya karena sudah sangat lelah.


Mereka tertidur sampai pagi. Aileen adalah yang pertama bangun. Saat ia mencoba bangun, ia merasa bahwa pinggangnya sedikit berat.


Ia tidak bisa bangun. Saat menunduk, ia melihat ayahnya yang tertidur sambil memeluk pinggangnya dan menyembunyikan kepalanya diperut Aileen. Itu adalah kebiasaan Edward jika tidur dengan Aileen.


Saat Aileen menanyakan apa alasanya, ia menjawab 'rasanya hangat' hanya itu.


Karena merasa tidak tega membangunkan sang ayah, Aileen hanya meraih ipad yang ada dinakas dan bermain game dengan tenang agar tidak membangunkan sang ayah.


Sekitar setengah jam kemudian, ia merasakan pergerakan diperutnya. Ia melihat ayahnya yang sedang mengucek matanya, lalu ia kembali melanjutkan permainannya.


Ia lantas mensejajarkan kepalanya dengan sang anak dan mencium kening anaknya dan dibalas Aileen dengan mengecup bibir ayahnya singkat.


Edward hanya tersenyum.


"Morning baby girl" ucap Edward dengan suara serak khas orang yang baru bangun


"Morning too daddy" jawab Aileen sambil menatap sekilas Edward dan tersenyum, dan kembali melanjutkan gamenya.


Edward yang melihat itu malah cemburu karena anaknya lebih asik bermain game dari pada melihatnya. Ia merasa diacuhkan.


Ia merasa bahwa sekarang ia memiliki saingan. Yaitu ipad.


Karena kesal ia mengambil ipad itu dan menaruhnya dinakas belakangnya.


Aileen hanya diam. Dia bingung, kenapa ayahnya mengambil ipadnya.


"Daddy, kenapa ipadnya diambil?" tanya Aileen bingung


Edward mendekatkan kepalanya dan menyatukan dahi mereka. Sekarang mereka saling menatap.


"Daddy merasa tersaingi" ucap Edward dengan cemberut


"Hah?" Aileen diam.


Ia merasa ini aneh. Kenapa ayahnya malah kekanakan. Dan lagi, tersaingi? Dengan siapa? Dan hubungan dengan dirinya apa?, itulah sekarang yang Aileen pikirkan.


"Daddy merasa kau lebih asik dengan ipadmu dan malah mengacuhkan daddy" ucap Edward kesal


Aileen tidak tahu apakah ia harus menangis atau tertawa. Lalu, yang hampir setiap hari bersama dan menempel terus padanya, dianggap apa oleh ayahnya?


Demi apa, Aileen benar-benar bingung dengan cara berpikir ayahnya. Apa yang terjadi pada ayahnya ini?


Bodo amat. Itulah yang sekarang dipikirkan oleh Aileen.


Jangan lupa like, coment, dan vote


See you 😊