The Cuttie Kitty Is A Vampire

The Cuttie Kitty Is A Vampire
Santapan Lezat



-- Potongan Episode yang lalu--


Ariel mengingat kembali kejadian sebelumnya. Saat Taera hampir kehilangan nyawanya ketika menyelamatkan Ariel.


Ditengah kobaran Api berwarna biru, mata Taera yang berwarna hijau pun terlihat kuning keemasan.


...🥀🥀🥀...


"Mayang, gimana jadi ga ikut makan bareng?" Tanya Mira pada Mayang. Ia terlihat sangat bersemangat untuk mengajak Mayang ke acara makan-makan bersama rekan kerjanya.


"Hmm. Gimana yah. Aku harus memberi kucing ku makan." Mayang berpikir sejenak mengingat Taera Kucing yang ada kemungkinan lapar di rumahnya.


"Kucing yang dipungut waktu itu? Gapapa lah ga nyampe seharian juga kita keluarnya. Kucing ga gampang lapar ko."


Mayang melihat ragu pada mira yang antusias membujuknya untuk ikut. Menghela nafas, Mayang pun mengangguk menyetujui ajakan temannya itu.


Di acara makan-makan, semua rekan terlihat menikmati obrolan mereka. Mayang hanya tersenyum lesu memikirkan Taera yang ada di rumah sendiri.


"Nih minum. Mumpung di traktir, puas-puasin aja mau makan-minum apa juga." Laerry memberikan segelas minuman pada Mayang dengan senyuman perfect nya.


"Oke thanks."


Mayang memang senang dengan yang gratisan. Tapi, Ia kembali menghela nafas saat pikirannya menuju pada Taera.


"Ada apa?" Tanya Laerry penasaran.


"Ga ada apa-apa. Cuma kepikiran kucing di rumah."


Laerry berpikir untuk mencari tahu hal yang membuat Mayang terlihat tak fokus akhir-akhir ini.


"Ah. Jangan-jangan kemaren lu pulang cepat juga karena kepikiran sama kucing peliharaan itu?"


Wajah Laerry berubah menjadi seumeringah, berharap yang Ia duga benar dan perkataan teman-temannya yang mengatakan Mayang sudah memiliki pacar itu salah.


Mayang melihat Laerry yang memasang ekspresi senang itu dengan bingung.


"Iya." Jawab Mayang singkat.


"Yees!"


Tanpa sadar, Laerry bangun dari duduknya dan terlihat sangat bersemangat.


"Eh?"


Mayang dan teman nya yang lain memandangi Laerry terheran-heran.


"Haha. Gue tiba-tiba keinget nanti malam ada tontonan yang udah lama ditunggu."


Laerry merasa malu dengan tindakan spontan nya. Teman terdekatnya, Tony hanya menggeleng-geleng sambil berucap pelan.


"Bhe-guk." (Plesetan dari kata stupid)


Mayang pun memalingkan pandangannya dari Laerry.


Melihat Mayang melakukan itu, Laerry pun minum dalam sekali tegukan.


"Jadi nanti pulangnya mau diantar makanan kucing ke rumah ga?" Tanya Laerry lagi.


"Makanan kucing? Dia ga suka itu."


"Oh berarti kucing lu lebih suka ikan dan tulang-tulang gituh?"


Mayang bingung menjelaskan detail kucing yang ada dirumahnya. Karena meskipun kucing, tapi sebenarnya dia bukan sepenuhnya kucing. Hanya Mayang yang menganggap nya seperti itu.


"Hmm. Yah kurang lebih begitulah." Jawab Mayang ambigu.


Mira dan Tony yang menguping pembicaraan Mayang-Laerry dari kejauhan, mendecakkan lidahnya, menatap Laerry dengan kecewa.


"Kenapa dia malah nanya tentang kucing aja?" Tanya Tony memijat keningnya.


"Aneh aku juga, beib. Kasian banget ngeliat Laerry tuh. Ga ada kemajuan banget dia. Padahal kita udah berusaha bantu dia." Mira hanya melirik sambil menghabiskan minumnya.


(*Sekilas info: mira dan tony adalah sepasang kekasih)


"Ga heran. Walaupun cakep, tapi Laerry tetep ngejomblo." Tambah Mira.


Mendengar itu, Tony agak terusik.


"Tapi masih cakepan aku kan beib?" Tony tersenyum menantikan jawaban yang Ia harapkan dari Mira.


"Uhm.... Ngomong jujurnya atau yang penting kamu senang, beib?" Ucap Mira menatap Tony dengan usil.


"Ko aku jadi jealous yah?" Tony agak kesal meskipun Ia tahu jika berbicara standar wajah antara Laerry dengan dirinya itu terpaut sangat jauh.


Mira tertawa senang melihat ekspresi Tony yang melirik Laerry dengan jealous.


Laerry merasa ada lirikan dari belakang tubuhnya, yang membuatnya menoleh.


"Ah ngga. Ko kayaknya tadi aku dilihatin. Hehe." Laerry menggarukkan kepalanya.


Mayang tersenyum tipis. Sudah lama Ia tak melewatkan kumpul-kumpul bersama teman-temannya. Suasana sangat ramai berbeda dengan kesendirian selama ini.


"Maaf yah Taera. Kayaknya hari ini kamu makan telat." Bathin Mayang berucap sambil tersenyum lirih.


...🥀🥀🥀...


...----kruyuuukkk-----...


Taera memegang perut nya yang berbunyi.


"Udah jam segini, kemana aja si cewek itu?"


Taera membuka isi kulkas dan lemari. Semuanya kosong, tak ada satu makanan pun tersisa.


"Terlalu sekali cewek ini. Ninggalin orang dengan kulkas kosong."


Taera menatap isi kulkas itu dengan kecewa.


"Ho. Apa aku ikutin aja yah dari baunya?"


Taera kemudian berpikir kembali. Lalu merebahkan badannya pada sofa empuk yang menjadi tempat favoritnya.


"Mager ah. Ga jadi." Ucap Taera menggeliatkan badannya.


Tak beberapa lama, suara ketukan pintu berbunyi. Taera bergegas menghampiri pintu itu.


Ia bermaksud untuk merajuk ketika Mayang pulang.


"Lama banget si. Kemana aja?" Ucap Taera sembari membuka pintu.


"Yah Tuan Muda? Saya hanya disini dari kejauhan memperhatikan Tuan Muda." Ucap Ahjussi butler yang terakhir kali ditemui di kamar Mayang.


Melihat dugaannya salah sasaran, Taera menatap kecewa.


"Lah. Paman ternyata." Taera menghela nafas.


"Jadi akhirnya sekarang bisa ngetuk pintu yah?" Taera langsung duduk kembali disofanya dan menopang dagunya sambil melirik butler yang berdiri dihadapannya.


"Maaf tuan Muda atas ketidaknyamanan yang Saya perbuat terakhir kali. Nona Ariel sudah menegur Saya atas itu."


Sang butler berbicara dengan sangat sopan seraya menunduk.


Taera hanya memandangi butlernya itu dengan rasa sedikit penasaran.


"Ada apa paman kesini?" Tanya Taera.


"Oh.. itu.."


Tak banyak kata, Butler itu dengan gerakannya yang cepat, membuka tas besar yang dibawanya. Seketika meja berisi makanan yang banyak dan terlihat enak pun terbentuk.


"Woaah.." mata Taera menatap dengan terkesima melihat makanan yang ada dihadapannya itu.


Meskipun sudah biasa, Taera tetap takjub dengan salah satu keahlian butler nya ini.


"Darimana kau bisa tau aku sedang menunggu ada keajaiban seperti ini, Paman?" Taera bertanya dengan antusias.


Masih menunduk sopan, sang butler berucap kembali.


"Karena Saya mengamati Tuan Muda dari kejauhan. Nampaknya Nona Mayang pulang lebih lambat dari hari biasanya, jadi Saya berinisiatif untuk membuatkan Makanan bagi Tuan Muda yang mungkin dalam posisi lapar."


"Yah yah. Sip deh.Terserah lah.. Thanks paman."


Tak ingin mendengarkan penjelasan Butlernya yang panjang lebar, Taera langsung menyantap hidangan butlernya yang sekelas master chef itu dengan khidmat.


"Dalam posisi lapar, semua makanan jadi terasa sangat enak." Ucap Taera bersyukur.


Ditempat kumpul-kumpul Mayang, Mayang baru menyadari bahwa malam sudah begitu larut. Ia dengan panik bergegas pulang. Namun, Laerry menarik tangan Mayang yang membuat Mayang agak terhentak.


"Udah malam banget, gue antar pulang yah?" Tanya Laerry yang berisi suara ajakan.


Tak mau berlama-lama, Mayang pun menyetujuinya.


Mira dan Tony masih menatap Laerry dan Mayang dari kejauhan.


"Naik 10 persen. Ngga. 15 persen?" Tanya Mira.


"Ga nyangka. Tapi kayaknya kemajuannya lumayan. Semoga." Ucap Tony tak yakin.


Diperjalanan, Laerry melirik Mayang yang ada disebelahnya.


"Cantik." Laerry berpikir dalam bathinnya. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Ia hanya mampu memandangi wanita disebelahnya ini dalam perasaan tak berbalas.