The Cuttie Kitty Is A Vampire

The Cuttie Kitty Is A Vampire
Teman atau Lawan




...--- kreekk kreeekkk ----...


Di ruangan yang terlihat seperti laboratorium, seorang laki-laki yang berada di atas meja operasi sedang di lakukan sebuah pembedahan. Dokter yang menangani nya Tampak berkeringat dan kesusahan.


...---kreeekk kreeekk---...


Suara denyit dari meja operasi yang sejak tadi terdengar menambah kesan suram di jalannya operasi.


"Dok. Ini..."


Sang perawat memperlihatkan hasil pemeriksaan nya. Tampak ada keanehan. Belum lama para dokter dan perawat memperhatikannya, Tubuh Pasien laki-laki itu semakin bergetar dengan getaran yang tak biasa. Dengan gerakan kaku dan tak karuan, badannya menunjukkan reaksi kejang, matanya membolak-balik ke arah kanan dan kiri. Dengan darah yang mengucur dari bekas operasi nya, si pria bangkit dari tidurnya.


Semua orang yang berada di ruangan berlari menjauh. Namun, pria itu dapat menangkap mereka dengan mudah. Melahap nya tanpa sisa.


"Tuhan..."


Satu perawat yang tersisa itu bersembunyi dibawah meja operasi dengan ketakutan. Hanya berdoa yang bisa dilakukannya saat ini. Dengan putus-asa, perawat itu memejamkan mata, berharap bahwa semua yang terjadi saat ini hanyalah mimpi.


Suara teriakkan yang sebelumnya ada, sudah tak terdengar olehnya. Di rasanya aman, perawat itu membuka matanya kembali.


"Sreeet...."


Pria itu yang sekarang tampak seperti monster menarik rambut perawat itu, mengangkat nya tinggi-tinggi dan menyeringai lebar. Giginya yang tajam membuat perawat itu berada dalam ketakutan yang baru ini dirasakannya.


Perawat itu sudah pasrah dan berpikir tak ada lagi harapan. Namun, ditengah keputus-asaannya, secercah sinar yang terang terlihat menembus jantung sang monster dengan mudahnya. Dengan mata yang basah akibat tangis, perawat itu menatap sang penyelamatnya.


"Apa kamu malaikat?" Tanya perawat itu.


Penyelamat yang berambut keemasan itu hanya tersenyum, kemudian berbisik.


"Tidurlah. Ini hanya mimpi."


Wanita itu langsung tertidur dalam belaian yang lembut.


...🥀🥀🥀...


Di tengah kota yang ramai, Mayang merasa orang-orang dijalan beramai-ramai melirik ke arahnya.


Bukan.


Sebenarnya yang mereka lihat itu laki-laki yang berada di sampingnya, Taera. Ini pertama kalinya Taera pergi bersama Mayang dengan wujud manusianya.


Memakai topi dan kacamata, Taera tetap terlihat seperti model yang sedang dalam pemotretan.


"Bagaimana bisa dia menarik perhatian orang sampai seperti ini?"


Mayang bertanya pada bathinnya. Ia merasa agak risih dengan tatapan orang-orang yang menuju ke arahnya sehabis melirik Taera.


"Lama amat jalannya."


Taera yang sedari tadi berada sedikit di depan Mayang memutar badannya ke belakang dan menarik lengan Mayang.


...*Yah, lebih tepatnya agak menyeretnya untuk ikut dengan lebih cepat ke tempat yang diinginkannya....


"Tunggu Taera! Hei! Aku bisa jalan sendiri. Jangan tarik-tarik gituh dong "


Mayang mendumel protes, menyembunyikan wajahnya yang agak memerah karena malu.


"Lagi lama banget. Kita kan masih banyak yang harus dituju. Belum beli ini-itu."


Taera ikutan mendumel. Mayang menggelengkan kepalanya.


"Ngga. Ngga mungkin Aku suka dengan orang yang seperti anak kecil manja gini." Bathin Mayang, kemudian melihat ke arah Taera.


Mayang menepuk tangannya setelah yakin bahwa itu bukanlah perasaan suka pada lawan jenis.


"Oh iyah pasti perasaan suka ini hanya karena aku merindukan sosok manis adikku" tambah Mayang di bathinnya.


Taera melihat Mayang dengan geli.


"Cewek aneh." Ucap Taera dengan gamblang.


"Siapa yang aneh?"


Taera mengabaikan Mayang yang bersiap untuk protes kembali. Dan terus berjalan membawa keranjang belanjanya.


Mayang mengikuti Taera dari samping sambil mengawasi barang apa saja yang dimasukkan ke keranjang nya.


Memasuki kawasan belanja berikutnya, Taera tiba-tiba berhenti.


"Ada apa?" Tanya Mayang bingung.


"Kayaknya gue melihat orang yang tak asing. Tapi sudahlah. Biarkan saja." Ucap Taera acuh.


"Tega banget beneran."


Suara yang ringan dan enak di dengar tiba-tiba terdengar di tengah-tengah mereka. Spontan Mayang langsung menoleh terperanjat. Sedangkan Taera yang sudah mengiranya hanya melirik dengan pandangan agak malas.


"Lhoo? Kamu kan..?" Mayang menyuarakan kebingungannya.


"Hehe"


...-plaak-...


Taera menepis tangan pria yang mencoba mendekati Mayang itu dengan sekali gerakan. Pria itu merasa agak kesal.


"Oi TaeTae. Gue hanya ingin menjabat tangannya dan berkenalan. Pelit amat si." Ucap Pria itu protes.


Taera mengabaikan ucapannya, tampak ekspresi jengkel di wajah Taera yang tak biasanya.


"Bau darah. Bagaimana bisa gue biarin lu yang pekat bau darah ini buat deketin cewek ini?"


Mata Taera berubah tajam, mencoba menginterogasi pria yang berada didepannya ini.


"Iyah deh sorry. Gue abis kerja nih soalnya. Karena stok di rumah habis, jadi terpaksa langsung kesini."


Taera menyilangkan tangannya, masih melihat tajam.


"Beneran deh. Ga bohong."


Pria itu hanya tersenyum polos membalas tatapan kasar dari Taera.


Mayang menatap keduanya dengan bimbang.


Pria itu menatap sambil tersenyum.


"Kenalkan Namaku Allen. Aku temannya Taera sejak dulu sekali."


Dengan bingung, Mayang bertanya sembari menunjuk pria itu.


"Kamu orang yang muncul diberandaku itu kan?"


"Iyah. Kita pernah ketemu yah. Hehe."


Pria itu menampilkan kesan ramah di nada ucapannya dan ekspresinya. Wajahnya yang manis dan rambutnya yang berwarna keemasan masih membuatnya terlihat seperti malaikat yang turun ke bumi.


"Ngapain lu ke rumah mayang?" Suara Taera terdengar bergemuruh, suasanya seperti langit yang sedang mendung.


Merasa tersudut oleh mata Taera yang semakin tajam seakan menusuk tubuhnya, Pria itu melambaikan tangannya ke arah Mayang


"Nanti kapan-kapan kalo jodoh, kita ketemu lagi. Byebye." Ucap Allen.


Setelah mengatakan salam perpisahan, Allen pergi dan menghilang dengan cepat dari hadapan Mayang dan Taera.


"Kebiasaan. Huh."


Taera masih terlihat jengkel memperhatikan kepergian Allen.


"Dia temanmu?" Tanya Mayang penasaran. .


"Bukan." Jawab singkat Taera.


Taera kembali ke tujuannya berbelanja. Yang utama di carinya adalah bahan-bahan makanan untuk mengisi kulkas Mayang yang kosong.


Mayang mengamati Taera yang memasukkan belanjaannya dengan suka cita.


"Jadi tuan Muda ini hanya memakan daging-dagingan dan tidak suka sayur-sayuran?" Tanya Mayang dari belakangnya.


Kuduk Taera bergetar ketika mendengar suara Mayang yang mengatakan itu dari belakangnya.


"Eh.. kadang Sayuran gue makan ko. Dikit. Kalo lagi mau."


"Dikit? Ga baik lho pilih-pilih makanan."


"Dikit juga udah syukur."


Taera tampak meringis mengingat dia pernah merasakan rasa dari sayuran yang di makannya.


"Oke. Ini juga dimasukkin."


Mayang memasukkan beberapa jenis sayuran ke keranjang belanja Taera.


"Eeeh???"


Taera melihat ke arah Mayang yang tampak terhibur.


"Tenang aja. Nanti ku tumiskan sayur Kangkung yang enak khusus buat Taera."


Taera amat terbebani melihat sayur-sayur yang telah menumpuk dikeranjangnya. Namun melihat Mayang yang tertawa senang, Ia pun mengikhlaskannya.


Saat sedang membayar belanjaannya, sebuah berita di tv mencuat keluar.


"Berita hari ini. Dini hari, di rumah sakit XY beberapa dokter, perawat, dan bahkan Pasien menghilang secara misterius saat sedang dilakukannya operasi. Satu-satunya saksi Nn. A, perawat yang berada dalam penanganan kasus yang sama menyatakan dirinya tak masuk kerja hari itu sehingga tak tau apa yang terjadi. Rekaman cctv yang menangkap kejadian pun tak ditemukan keanehan. Sampai sekarang, penyelidikan masih berlangsung."


...🥀🥀🥀...


_C.A.S.T


Allendro