
Kean bermimpi. Bermain bersama-sama Sari dan adik laki-lakinya yang masih sangat kecil. Mereka bermain di pinggir danau bersama bapak dan Ibu. Dimimpinya, Kean melihat Bapak memancing ikan emas yang sangat besar. Bapak memang paling jago memancing. Karena itu juga Kean sangat menghormati bapak.
Setelah hasil pancingan bapak lumayan banyak, Ibu sudah bersiap untuk memanggangnya.
"Waah. Mantap ini! Kean mau dua!"
Kean berkata sambil tertawa. Sebelum akhirnya Ia menyadari bahwa Itu hanyalah mimpi. Tiba-tiba bayangan Ia yang tengah bermain bersama adik-adiknya dan orangtuanya pun lenyap.
Kean melihat sekeliling nya yang gelap, tak ada satu pun orang disana, tak ada satu pun yang nampak di penglihatan selain langit yang hitam dan gelap.
"Kean dimana ini?" Tanya Kean sambil terus melihat sekeliling nya.
Kemudian, tatapan Kean menuju suatu sinar yang terang dari arah samping kirinya. Sebuah rumah besar yang pernah dimasukinya beberapa hari yang lalu.
"Oh iyah. Rose."
Tujuan Kean awalnya ke hutan adalah untuk memenuhi janji nya bermain kembali bersama Rose, teman barunya.
Kean merasa kasihan dengan Rose yang tinggal di kamarnya sendirian dan penuh kebosanan. Menurut Kean, umur sebaya dengannya harus mendapatkan kesenangan dalam bermain bersama teman-temannya.
Kean terus menghampiri rumah yang ditujunya melalui sinar terang yang dilihatnya. Tapi, sekeras apapun dan selama apapun Kean berlari, kaki nya tak juga sampai pada tempat tujuan.
"Aneh. Kenapa ga sampe-sampe?"
Kean mengatur nafasnya dan mengepat keringatnya yang banyak keluar.
Kean kemudian berhenti kembali. Lalu, melihat rumah besar yang ingin ditujunya itu dengan tatapan bingung.
"Jaraknya tak berubah sama sekali?" Pikir Kean dibathinnya.
Rumah Veronica telah dilengkapi kekuatan tak kasat mata yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang berkemampuan khusus.
Sambil menata rambutnya yang panjang dengan mawar-mawar merah yang bermekaran terlihat cantik menghias rambutnya.
"Jadi, anak ini adalah 'teman' yang diceritakan oleh Rosella? Si "Peter"?" Veronica bertanya tanpa melirik Butler yang sedang menggendong masuk tubuh Kean yang sedang tertidur.
"Yah. Nyonya. Saya menemukannya ditengah hutan. Lalu, sesuai perintah Nyonya, Saya membawa nya kemari."
"Hm.."
Veronica yang telah selesai berdandan, menghampiri Butler nya itu sambil berusaha menutupi penciumannya yang mulai mencium bau darah dari Kean.
"Letakkan anak itu di kamar bawah tanah." Ucap Veronica.
Ada sorotan tajam di mata Veronica yang berwarna kemerahan.
"Ternyata benar kata orang. Satu serangga kecil mengundang banyak serangga lainnya." Veronica melipat kedua tangannya sambil menatap keluar melalui kaca jendelanya.
Veronica mengisyaratkan beberapa pelayannya untuk datang menghampirinya.
"Perkuat teritori kita. Jangan sampai ada satu orang pun yang dapat menembus tempat ini. Pastikan serangga-serangga itu tak mengganggu jalannya pesta nanti malam."
"Baik, Nyonya."
Setelah pelayan-pelayannya pergi, Veronica kembali ke ruangan Rosella yang masih membaca cerita bergambar nya berulang-ulang.
Dan tanpa banyak kata yang terucap, Veronica duduk disamping Rosella.
Malam semakin larut, para tamu undangan sudah mulai berdatangan mengisi ruangan perjamuan. Suara musik dialunkan. Minuman disajikan.
Taera, Allen, Nata, dan Nara telah terlihat bergabung diantara tamu undangan.
"Kak Allen. Lama tak berjumpa. Apa kabar kakak?" Nata memberi salam dengan sopan dihadapan Allen. Sementara Nara hanya memalingkan wajahnya dari Allen seakan tak menyukai pertemuan mereka.
"Lama tak jumpa, Nata dan Nara. Ternyata kalian berdua juga datang, yah?"
Allen membalas sapaan Nata dengan senyuman diwajahnya. Lalu, menghela nafas sambil menggerutu.
"Aku harap Adikku Allan juga akan datang ke tempat ramai seperti ini. Tapi, dia tak mau meninggalkan istananya itu dan anjing kesukaannya." Keluh Allen.
"Anjing?" Nata bertanya bingung.
"Iyah. Cewek serigala yang numpang divilla nya Allan." Allen menggaruk lehernya agak tak enak hati.
"Padahal Nata ingin sekali bertemu dengan Allan. Sayang sekali." Nata agak menghela nafas.
"Oh iyah. Kalian lagi sibuk membantu urusan rumah yah?" Tanya Allen.
"Iyah kak. Ayah memberi kami banyak PR."
Allen memperhatikan Nata yang agak cemberut dihadapannya.
"Apa beliau sehat? Beliau juga tak datang, yah? Sudah lama sekali tak bertemu dengannya." Allen tertawa kaku saat mengingat hubungan Taera yang kurang harmonis dengan ayahnya.
Namun, saat Allen menanyakan perihal keharmonisan Ia dan Ayahnya, Taera hanya menjawab bahwa itu adalah bentuk perhatian dan kasih Ayah yang diberikan padanya.
"Ayah sehat. Begitu pula dengan Ibu. Hanya saja sekarang ini beliau sangat sibuk. Jadi tak ada waktu untuk ikut pesta ini." Jelas Nata.
Kemudian, Allen mengingat suatu hal.
"Oh iyah. Kalian udah ketemu ceweknya Taera belum?" Allen tersenyum kembali.
Taera yang sejak tadi diam pun bergedik ketika mendengar Mayang dibahas.
"Ceweknya kak Taera?" Nata bertanya. Namun, seakan itu bukan pertanyaan. Melainkan pengulangan kata untuk diralat kesalahannya langsung oleh Allen yang mengucapkannya.
"Iyah. Pacarnya Taera, Mayang."
Nata dan Allen sama-sama menjaga senyum terpaksanya dihadapan masing-masing. Nata yang berusaha menahan dirinya dari berbuat keributan. Dan Allen yang berusaha menahan tawa nya yang melihat ekspresi datar Taera menjadi berubah saat mendengar nama Mayang.
Kemudian, mata mereka menuju kearah Veronica yang memasuki ruangan bersama seorang gadis kecil yang sedang memeluk boneka kelincinya.
Dalam balutan gaun serba merah, Veronica memberi salam pada para tamu undangannya.
"Seperti yang sudah Saya beritakan, Putri Saya yang sangat Saya cintai ini akhirnya bangun lebih cepat dari perkiraan. Saya berharap para hadirin bersedia menerimanya di komunitas dan menyanginya sama seperti kasih Sayang yang diberikan kepada Saya selama ini."
Setelah mengakhiri pidato singkatnya, Veronica mempersilahkan Rosella untuk gantian memberi salam dan rasa terimakasihnya.
Sambil berjalan agak lambat, Rosella menguatkan pelukan eratnya pada boneka kelincinya.
Dengan gaun merahnya yang agak mekar dibagian bawahnya, Rosella memberi salam sambil memegang boneka peternya yang telah berpakaian tuxedo ala butlernya.
"Terimakasih telah hadir di pesta ulangtahun Rose malam ini." Rosela mengatakan salamnya dengan singkat lalu mengakhiri nya dengan anggukannya yang pelan.
Para tamu melihatnya sambil tersenyum sambil terpesona dengan wajah mungil dan cantik milik Rosella.
"Dia imut sekali. Seperti kuncup mawar yang belum mekar." Bisik tamu undangan.
Taera melihat dari kejauhan lalu Taera mulai mengamati dengan detail.
"Mawar yang belum mekar yah?" Bathin Taera bertanya dalam hatinya.
Taera dan Allen menatap curiga para pelayan yang bergantian bergerak ke ujung ruangan dengan teratur.
"Mau kemana mereka dari tadi?" Tanya Allen penasaran.
Taera yang berusaha menajamkan kembali indera pembau nya menangkap bau yang tak asing baginya.
"?!"
Setelah mendapatkan kepastian dari kecurigaan nya. Taera menatap tajam kearah Veronica yang sedang memperkenalkan Rosella ke temannya satu persatu.
"Kakak akhir-akhir ini tertarik dengan pekerjaan yah?" Tanya Nata sambil meminum hidangan yang disediakan.
Taera tak memberikan komentar apapun. Nata sudah biasa dengan Taera yang terkadang mengacuhkannya.
Setelah menyeruput hidangan darah digelasnya, mata Nata berubah menjadi berseri.
"Wah. Memang benar minuman di kediaman veronica adalah salah satu yang terbaik." Ucap Nata riang.
Nata hanya tersenyum ketika matanya kembali memperhatikan Taera yang diam seribu bahasa ketika Nata dengan terang-terangan meminum darah segar favoritnya.
...🥀🥀🥀...