
...--- Potongan episode sebelumnya ---...
..."Maaf kak. Sepertinya rencana awal sudah berubah." Ucap Taera....
...Taera meregangkan dua tangannya kebawah, dan mengatakan sebuah kata yang jelas dan lugas....
..."Pragma."...
...Setelah selesai mengucapkannya, seketika dua pistol berlaras pendek muncul ditangan Taera....
...Taera sudah mengambil ancang-ancang untuk menembakkan pelurunya. Namun, sesosok wanita berambut panjang yang Ia kenal berada di jangkauan pandangnya....
......🥀🥀🥀......
Mayang bergegas meninggalkan kantornya. Dengan bantuan dari Ariel di chat, akhirnya Mayang tau dimana Taera berada. Tak berapa jauh dari kantornya, Ia telah tiba.
Memasuki jalan gang ke arah apartemen Ariel, mayang turun dari Mobilnya. Berjalan beberapa meter dari jalan utama, seketika Mayang merasakan aura dingin di sekitarnya.
Di bagian jalan yang tergelap, Mayang tak menyadari sesosok pria yang berada disana dengan sorotan mata tajam dan gigi runcingnya. Mata Mayang langsung fokus pada sesuatu yang sedang digenggamnya. Bukan suatu benda tapi seorang wanita yang telah terbaring kaku di lengannya.
"~~~~" Mayang spontan mengeluarkan suara keterkejutannya.
Sang vampire yang tengah menyantap hidangan malamnya pun menoleh ke arah Mayang yang berada di belakangnya.
"Vampire." ucap Mayang dalam keterkejutannya.
Dengan tersenyum mengerikan, sorot mata nya menatap Mayang dengan tajam.
Masih teringat jelas di mata Mayang, kilatan mata yang seperti terbakar dilihatnya di mata Taera.
Namun bebeda dengan saat Taera yang berada di depannya, saat itu, meski takut Mayang tak merasakan nyawa yang terancam darinya.
Kini, kaki Mayang terasa berat untuk lari, keringat dingin mulai mengalir.
Melepaskan wanita yang telah di santapnya barusan, Vampire itu mengalihkan pandangannya ke arah Mayang. Sambil mengusap darah dari mulutnya dengan kasar, Ia tersenyum lebar.
Vampire itu melompat ke arah Mayang dengan buas, melebarkan jangkauannya dan menunjukkan kuku-kukunya yang panjang ke arah Mayang.
Mayang spontan memejamkan matanya. Ia membayangnya kuku-kuku tajam dari sang vampire telah menembus lehernya.
Tapi, Ia tak merasakan rasa sakit sedikit pun dari tubuhnya. Matanya coba mengintip untuk memastikan yang terjadi didepannya.
"Taera??" Teriak Mayang menyuarakan nama Pria yang Ia tunggu dua hari ini.
Setelah menangkis serangan dari vampire itu, Taera segera mengeluarkan pistolnya. Terjadi pertempuran di langit.
Namun, Taera terlihat jauh lebih unggul. Vampire itu tampak terdesak.
Taera diam masih menahan pelatuknya, mengarahkan nya tepat pada titik vital sang vampire.
"Siapa yang membangkitkanmu?" Tanya Taera dengan suara dingin.
Sang vampire tanpa takut dengan posisinya yang sudah terdesak masih menunjukkan seringai lebarnya.
"Vampire murni yang Angkuh! Kalian pikir bisa dengan mudah memenuhi keinginan kalian hanya karena kalian darah murni?" Tanya vampire itu.
Matanya menjadi berwana merah menyala.
"Membangkitkan orang dan mengambil hidupnya sebagai mainan?! Kalian pikir itu menyenangkan??"
Sang vampire berteriak di depan Taera sambil tertawa.
"Apa yang salah dengan ku, yang hanya ingin memenuhi perutnya untuk bertahan hidup? Haruskah Aku menahan dahaga yang ditanamkan pada ku begitu aku terbangun??"
Ia terlihat putus asa.
Taera menatap vampire itu dengan mata hijaunya yang teduh.
"Kami tak membangkitkan siapapun orang-orang secara acak. Dan kami tak meninggalkan siapapun dalam dahaga yang tanpa penanganan dan pengawasan." Ucap Taera.
Taera bertanya kembali.
"Karena itu, siapa vampire murni bodoh yang melanggar aturannya dan menyebabkan kekacauan seperti ini?"
Sambil tertawa, Ia menjulurkan lidahnya ke arah Taera. Memperlihatkan tanda simbol yang ada dibelakang lidahnya.
Taera terlihat terkejut.
"Kau vampire murni kan? Pasti tau dengan simbol ini?! Meskipun Aku ingin mengatakannya padamu, Aku tak bisa. Aku masih ingin hidup!"
Vampire itu memancarkan kesedihan yang meyakinkan.
Taera menatap simbol itu dalam diam.
Simbol itu adalah segel. Segel yang hanya bisa dilakukan untuk menunjukkan kesetiaan antara majikan dan servant dalam sebuah kontrak. Tapi, juga adalah kutukan. Karena dengan adanya segel itu, Ia akan mempertahankan kesetiaannya pada sang majikan dengan cara apapun. Jika dilanggar, nyawalah taruhannya. Karena itu, orang-orang yang telah tertanam segel dalam tubuhnya, tidak akan bisa menghindar atas konsekuensi apapun.
Vampire itu menyeringai kembali, melihat Taera yang lengah dan mengendurkan senjatanya. Dengan cepat, vampire itu mengarahkan serangan nya kembali.
Tapi, yang dituju bukan Taera, melainkan Mayang. Ia berniat menerobos Mayang dan melarikan diri dari tempat itu.
"Peduli apa?! Yang penting Aku dapat memiliki kekuatan untuk memikat wanita-wanita bodoh yang jatuh dalam perangkap ketampanan ku!! Tak ada yang lebih menyenangkan dari ini!!" Teriak vampire itu sambil terbahak-bahak.
Kali ini, kuku-kuku tajam sang vampire semakin mendekati tubuh mayang, hanya masalah waktu sampai tubuh Mayang tercabik habis.
Namun, reflek Taera lebih cepat. Ia kembali berada di hadapan sang vampire. Kuku vampire itu mengenai bagian perut Taera. Taera yang berada sangat dekat dengan vampire itu, langsung menajamkan kukunya dan mencabik tubuh vampire itu dalam sekali gerakan. Sebelum vampire itu meringis dalam kesakitan, jasad sang vampir yang telah tercabik seketika berubah menjadi serpihan abu, kemudian menghilang bersamaan dengan hembusan angin.
Mayang memperhatikan Taera yang berdiri membelakanginya tanpa satu pun kata. Darah berwarna merah pekat mengalir dari bahu dan perut Taera yang tadi di pakainya untuk menahan serangan vampire yang ingin menyerang Mayang.
Taera memegang perutnya yang berkesimbah darah.
Dengan berjalan pelan dibelakangnya, Mayang mencoba menyentuh Taera. Dengan menunduk, Mayang membenamkan wajahnya di belakang Taera.
"Maaf. Aku bener-bener minta maaf. Aku menyakitimu kan." Ucap Mayang.
Taera menoleh memperhatikan Mayang dalam diam. Mayang sesenggukkan. Perasaannya bercampur aduk antara khawatir, takut, sedih, dan senang karena Ia masih bisa bertemu dengan Taera.
Mayang menggenggam tangan Taera yang terasa dingin. Ia terus mengoceh dengan suara yang parau.
"Aku merasa bersalah. Sekarang kau terluka. Apa yang harus ku lakukan?"
Taera mengacak rambut Mayang yang sedang menangis. Rambut Mayang semakin berantakan.
Sambil tersipu dengan ucapan Mayang, Taera menyembunyikan ekspresinya dengan menutup mata mayang menggunakan tangannya.
"Cewek jelek. Biasanya kau kuat. Kenapa jadi cengeng gini?"
"Siapa cewek yang ga cengeng dalam situasi kayak gini, baka Neko??"
"Yah yah. I know. Coba perlihatkan lagi mana muka jelek yang tadi bilang lagi kesepian?"
"Ga ada yang bilang kesepian ko??"
Taera tiba-tiba terdiam. Lalu tampak senyum tipis di wajahnya.
"Pinjamkan Aku pangkuan mu."
Suara Taera terdengar sangat lembut. Membuat Mayang menjadi salah tingkah.
Setelah itu, Mayang baru menyadari, luka Taera yang sangat dalam, mengalir dari bagian vital perutnya.
Mayang panik dan mencoba menutupi darah nya dengan cardigan yang dikenakannya.
"Kenapa darahnya ga berhenti juga?" Tanya Mayang.
Taera memperhatikan Mayang yang mencoba untuk menolongnya dalam ketidakberdayaannya
Sebenarnya Ia ingin terus melihat Mayang yang panik hanya memikirkan nya, tapi kesadarannya semakin menjauh dan Taera juga khawatir jika Ia akan kembali tertidur untuk waktu kebangkitan yang lama lagi.
...🥀🥀🥀...
...Note: maaf baru update. Aku lagi ngumpulin mood + niat + waktu luang baru Akhirnya update lagi. gomen ne. Mian!...