The Cuttie Kitty Is A Vampire

The Cuttie Kitty Is A Vampire
Confession



Laerry mengamati Mayang dari kejauhan.


Mata bengkak dan kemerahan.


Pipi lebam kebiruan.


Dengan pilu, Laerry mengeratkan genggamannya. Dipikirannya hanya satu.


Siapa orang yang membuat Mayang dalam keadaan seperti ini?


"Hoi. Ga usah pasang ekspresi gituh. Samperin sana. Langsung tanya aja ke orangnya. Tampang lu ngeri banget tauk."


Tony menepuk bahu Laerry yang masih terdiam, bermaksud menyadarkan temannya yang terlihat sedang menahan emosi nya.


Teman-temannya yang lain pun mengatakan hal yang serupa. Dengan lirih, Laerry tak memalingkan tatapan nya dari Mayang.


"Mayang coba sini sebentar." Ucap Mira yang sudah duduk kembali di samping Mayang.


Mira mengeluarkan salp yang Ia bawa lalu mengoleskan pada lebam di pipi Mayang.


"U..hh.. sakit Mira. Sakit. Pelan-pelan dong." Rintih Mayang.


"Tuh kan. Pipi biru gini dibilang ga apa-apa. Orang yang lihat juga langsung tau kalo ini rasanya pasti sakit banget."


Mira mulai mendumel. Sambil mengoles kan salp nya di bagian yang lebam. Mayang tersenyum tipis. Ia merasa senang dipedulikan oleh temannya. Dan merasa sedih disaat bersamaan saat mengingat perasaannya jauh lebih sakit dari apa yang dirasakan oleh tubuhnya.


"Iyah yah. Sakitnya ko baru kerasa sekarang." Mayang memegangi pipinya yang terasa nyeri.


Mira menghela nafas dan memperhatikan temannya itu dengan cemas di wajahnya.


"Ga mungkin kan luka di wajah akibat jatuh kesenggol atau masa nyungsep gituh?" Tanya Mira.


"Haha. Yah ga mungkin si." Mayang agak tertawa dengan pertanyaan Mira.


"Kalau begitu pasti penyebab nya adalah orang!"


Mira mulai menekuk lengan kemeja panjang nya dan menarik Lengan Mayang.


"Hari ini kita bolos kerja!! Siapapun!! cewek atau cowok. Bakalan ku hajar!!"


Mira mengeraskan suaranya. Mayang merasa tak enak hati karena kebisingan mereka menyebabkan kegaduhan di ruangan kantor mereka.


Ketika Mira menarik lengan Mayang untuk segera keluar dari kantor bersamanya, Ia menyenggol Laerry yang sudah berada di depannya.


"Mayang. Temenin sarapan bentar yuk." Laerry menampakkan senyum yang terlihat dipaksakan.


Dengan canggung, Mira melepaskan tangan Mayang.


"Bener kata Laerry tuh. Mending sarapan dulu..."


"Tapi aku udah sarapan."


"Udah temenin aja."


Mira menggeser tubuh Mayang dengan pelan untuk mendekat ke arah Laerry. Mayang merapikan poni nya yang agak berantakan.


Ajakan Laerry membuat Mayang mulai bertanya-tanya.


Untuk apa Laerry memintanya untuk menemani sarapan? Disaat Laerry punya teman-teman yang bisa menemaninya sedangkan Ia sendiri sudah terlebih dulu sarapan dirumahnya.


Dengan bingung, Mayang mengikuti Laerry keluar ruangannya.


Laerry terlihat diam dari dirinya biasa. Membuat Mayang menjadi lebih canggung untuk bertanya.


"Nih."


"Thanks."


Laerry membawa kan segelas kopi susu kesukaan Mayang. Mayang yang dari tadi mengikutinya dengan bingung tertawa pelan karena tak menyadari bahwa mereka sudah sampai di kantin.


Mayang memperhatikan Laerry yang duduk di depannya. Hanya kopi yang diambil oleh Laerry.


"***, sarapannya cuma kopi aja?" Tanya Mayang.


Laerry agak panik ketika melihat Mayang yang sedang memperhatikannya.


"Ah. Iyah. Tadi kan lu bilang udah sarapan. Ga enak lah. Kalo gue makan sedangkan mayang ngga."


"Hmm. Yah ga apa juga si. Nanti kan bisa minta."


Mayang melihat Laerry yang agak panik. Sebenarnya, Ia mengetahui bahwa Laerry mungkin juga cemas dengan keadaannya hari ini.


"Keliatan jelas yah memar nya?"


Mayang bertanya sambil menujuk pipinya. Laerry menjadi serius ketika melihat kembali pipi Mayang yang sudah di beri salp tipis oleh Mira tadi.


"Kenapa bisa memar gituh?" Laerry melihat Mayang dengan tatapan penasaran.


"Eh ini. Cuma berantem dikit sama orang." Mayang berusaha menunjukkan pada Laerry bahwa lukanya tak seberapa nyeri seperti yang terlihat.


"Berantem dikit gimana? Lagian sama siapa? Ga mungkin ada orang yang tiba-tiba mukul sampe biru gituh?"


Tiba-tiba Laerry menjadi emosi yang membuat Mayang terkejut karena dugaan Laerry membuat Mayang mengingat Bima lagi.


Laerry menatap dengan serius. Pertanyaannya terdengar menekan. Mayang berusaha tak mengerti alur pembicaraannya.


"Maksudnya? Beneran ga terjadi apa-apa yang harus di khawatirkan ko, ***."


Laerry mengeratkan genggaman tangannya lagi.


"Kalo gituh kasih tau sejujurnya apa yang udah terjadi?"


Mayang menghela nafas panjang. Dan menceritakan kronologis kejadian kemarin.


Laerry menjadi diam kembali. Dan terlihat ekspresi dingin yang tak biasa darinya.


"Bener kan. Pasti dia."


"Iyah. Tapi udah berakhir semuanya. Jadi, ga usah diperpanjang lagi."


Mayang dengan santai menyeruput kopi nya. Sedangkan Laery yang masih sulit menerima penjelasan Mayang masih menampilkan ekspresinya yang dingin.


"Gue melihat nya Mayang."


Mayang menoleh ke arah Laerry.


"Melihatnya?"


"Iyah. 6 bulan terakhir. Saat dia mutusin lu.."


Mengingat kembali hal yang ingin dilupakan oleh Mayang, membuat sakit hatinya kembali terasa.


"Plis jangan bahas itu. Ga ada yang harus di bahas juga dari itu. Semua nya tentang dia hanya masa lalu."


Mayang yang kesal setiap mengingat Bima, Laki-laki yang pernah ada di catatan hidupnya, segera menghabiskan kopinya.


"Laerry. Hari ini lu ga kayak biasanya. Ada apa? Kalo mau ngebahas masa lalu gue sama dia mending gue pergi."


Mayang beranjak pergi. Laerry menahan tangan Mayang seketika.


"Yang, gue tanya satu hal yang bener-bener pengen gue tanya dari dulu."


Suara Laerry terdengar serius. Mayang menoleh ke arah Laerry.


"Lu tau perasaan gue kan?"


Mayang berfikir sebentar. Ia tak menyangka Laerry akan menanyakan hal itu.


Melihat pandangan Laerry yang tertuju padanya, Mayang memalingkan wajahnya.


"Perasaan yang kayak gimana?" Tanya Mayang dengan sejujurnya.


Laerry langsung menarik Mayang untuk mendekat.


"Dari dulu gue selalu memperhatikan lu. Walaupun gue tau lu punya tunangan. Tapi, perasaan gue semakin hari semakin sulit tertahan."


Mayang agak terhentak karena posisi mereka yang terlalu dekat dan mencoba untuk menghindar dari situasinya sekarang.


"Pas gue lihat dia buat lu nangis waktu itu, gue marah karena dia nyia-nyia in lu. Tapi gue juga seneng, karena dengan gituh gue masih ada kesempatan buat ngisi tempatnya dihati lu."


Kata-kata Laerry terdengar lirih.


"Mungkin kelihatannya sepele, tapi ngeliat wajah yang biru dan mata yang bengkak gue udah bisa nebak apa yang terjadi."


Kening Laerry disandarkan kebahu Mayang, sebentar Mayang terdiam dan menepuk-nepuk pelan bahu Laerry yang ternyata cukup besar.


"Thanks Laerry. Gue seneng karena perhatian lu selama ini. Disaat hati dan kepercayaan gue tersakiti, kalian semua ada buat nguatin hari-hari gue yang membosankan."


Mayang kemudian mendorong pelan tubuh Laerry agar menjauh.


"Tapi, ***. Perasaan gue ke lu ga lebih dari perasaan gue ke seorang teman."


Laerry cukup mengerti dengan perasaannya yang bertepuk sebelah tangan.


Tapi, karena bertahun-tahun ini dia sudah cukup menahannya, Ia merasa harus segera mengatakanya atau perasaannya akan meledak karena membendungnya terlalu lama.


"Gue ngerti. Tapi, kalo gue minta satu kesempatan, bisa ga lu kasih kesempatan itu?" Tanya Laerry serius.


Mayang menggeleng.


"Maaf Laerry. Kayak nya itu ga bisa gue lakuin."


Laerry menatap dengan lirih penolakan yang baru dirasakannya pertama kali.


"Oke Mayang."


Dengan ucapannya yang singkat, Laerry segera menjauh. Dan mengajak Mayang kembali.


"Yuk lah balik kerja." Ajak Laerry.


Mayang mengangguk dan tersenyum.


Sementara Laerry yang berjalan didepan mayang, pergi dalam diam.