The Cuttie Kitty Is A Vampire

The Cuttie Kitty Is A Vampire
Malam



Sebuah ledakan yang timbul dari tubuh wanita itu pun terjadi.


----BBOOOOBBMMM-----


Beruntung, Taera, Allen, dan Ariel yang menyadari lebih awal segera menghindari sumber ledakan.


"Dia beneran meledak ternyata. Hah."


Allen memperhatikan sisa dari ledakan itu.


Ledakan yang meninggalkan bekas pasir kristal yang perlahan menyebar di ruangan itu.


...🥀🥀🥀...


Seorang Asisten berpakaian kemeja rapih tengah membawakan seperangkat hidangan ke hadapan tamu boss nya.


Seraya merunduk, Ia menghidangkan beberapa menu handalannya.


Ketika sang Asisten pergi, Allen bersiul riang dan segera mengambil sebuah gelas berisi wine berwarna merah pekat.


Taera memperhatikan dengan resah ketika Allen meminum wine itu yang kemudian mulai memotong steak dengan saus merah pekat.


"Hn...." Taera mendesah pelah dan menghembuskan nafasnya.


"Itu makanan biasa ko." Ucap Ariel yang menyeruput wine nya.


Allen nampak sangat menikmati hidangan dihadapannya. Sedangkan Taera masih menggoyangkan gelasnya dengan pelan seperti memperhatikan secara detail wine yang ada didalam gelasnya itu.


"Aku tahu."


Taera memejamkan matanya sambil ikut mencicipi makanan yang dibawakan asisten kakaknya tadi.


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi sebelum tubuhnya terkikis gituh?" Tanya Taera dengan serius.


"Hm"


Ariel meletakkan gelas nya lalu menyilangkan kedua tangannya.


"Saat kami sedang menginterogasi nya, tiba-tiba tubuh wanita itu membengkak dan mengeram."


Lalu, sepintas ingatan beberapa waktu lalu pun terbayang oleh Ariel.


Wanita yang sedang terikat di kursi nya meronta dan terlihat sangat menderita.


"LEPASKAN!! LEPASKAN GUE BILANG!!!"


Wanita itu terus meronta yang membuat para penyelidik dan eksekutor yang turut hadir di ruangan itu terpaksa mengancamnya dengan senjata anti-V yang dirancang khusus untuk membasmi vampire bermasalah.


"Huhuhuuuhu....."


Wanita itu menangis sembari tertawa. Lalu, menatap tajam ke arah sang penyidik.


"Kalian tak akan dapat satu pun info yang kalian ingin kan dari gue!!"


Senyum menyeringai tampak di wajah wanita itu. Dengan tenang, Ariel mendekat ke arah wanita itu.


"Maksud mu, dengan nego apapun yang kami tawarkan, Kamu takkan memberikan info yang berguna bagi kami?"


Wanita itu tersenyum masam.


"Kau tahu, kenapa nyamuk harus menerima dirinya yang tak bisa hidup tanpa menghisap darah manusia sebagai makanannya?"


Tanya wanita itu melihat santai ke arah Ariel.


"Dengar yah! Kami tak bisa memilih makanan kami untuk bertahan hidup!! Apa salahnya para manusia itu merelakan darah nya untuk kami? Males amat gue kasih tau alasan kami mencari makan?!"


Ariel menatap wanita itu dalam diam.


"Kamu dulunya manusia kan?"


Ariel bertanya kepada wanita yang sedang memandangnya remeh.


"Manusia akan hidup sebagai manusia selama tak masuk ke dunia itu."


Ariel memperhatikan kembali wanita yang berada dihadapannya.


"Hidup kemudian mati sebagai manusia. Tapi, hal apa yang menyebabkan manusia kemudian mati dan hidup kembali sebagai makhluk yang abadi dan kebal pada kematian?"


Ariel berusaha bersikap tenang terhadap ucapannya. Ia kemudian teringat pada sosok menyedihkan Taera yang berusaha menentang takdir nya sebagai seorang vampire.


"Bahkan jika Ia ditetapkan sebagai makhluk penghisap darah dan harus menerima takdirnya, Dia akan lebih dulu menjaga orang lain dibanding dirinya sendiri."


Mata Ariel menekan Wanita yang sekarang diam karena merasakan Aura kuat dari Ariel.


"Sekarang, pertanyaan ku. Mengapa manusia seperti mu yang harusnya hidup sebagai manusia malahan bangkit sebagai seorang vampire? Siapa kah orang dibalik pertanggung jawaban atas hidup mu ini?"


Sinar terang terpancar dari aura Ariel yang membuat kuduk wanita itu berdiri. Tak mampu Ia berkata kembali kata-kata yang ingin diucapkannya.


Wanita itu menatap Ariel dengan lirih.


"Dia yang melakukannya....."


Kemudian mendadak suara wanita itu mengeram.


"Oh My God....."


Tubuhnya seketika terasa panas. Wanita itu kemudian menjerit kesakitan. Tubuh wanita itu perlahan terbakar dan mengikis disertai suara raungan yang menyakitkan dan bikin ngilu orang yang mendengarnya.


Ariel menghela nafas panjang dan menyeruput wine nya lagi.


"Aroma Mawar."


"Eh?"


Ariel dan Allen bertanya dengan bingung.


Taera kemudian menambahkan.


"Aku mencium aroma mawar ditubuh kedua orang yang kita dapatkan terakhir itu."


Ariel menyandarkan tubuhnya yang ramping ke sofa nya. Dan meminum gelas wine terakhir nya.


"Begitu. Aroma Mawar yah." Ucap Ariel seraya berfikir.


Allen yang dari tadi hanya mendengarkan akhirnya turut bicara.


"Berhubungan dengan mawar, persis sekali dengan dia kan?" Tanya Allen menatap Taera.


"Yah. Dia." Ariel menjawab sambil melihat ruangan yang kosong disampingnya.


Keheningan malam menyelimuti ruangan mereka.


Ketiga nya kemudian serempak memperhatikan jendela.


Di luar jendela terlihat bulan yang sangat besar nampak dengan indahnya.


Di malam ini, terang rembulan terlihat lebih terang dari biasanya.


Malam yang indah bagi makhluk berkekuatan seperti esper, vampire, werewolf.


Sama hal nya dengan kediaman Keluarga Veronica, penghuni rumah yang semua nya adalah vampire berdarah campuran terlihat sangat menikmati malam mereka.


Di sepenghujung jalan kediaman veronika, mawar merah menghiasi semua ruangan dari halaman hingga bagian rumah yang bernuansa klasik.


"Nyonya. Undangan-undangan yang Anda pinta, sudah disiapkan."


Sang butler menyerahkan sekotak peti berukuran sedang yang berada ditangannya.


Veronica yang sedang menyisiri anak perempuannya yang berusia sekitar 10 tahun menoleh ke arah butler nya.


"Baiklah. Langsung aja dikirimkan. Dan persiapkan pesta yang megah untuk acara ulang tahun putri ku, Rosella."


Senyum mempesona terlihat di ekspresi veronica yang dingin. Rosella menatap kearah ibunya dengan warna matanya yang seperti mawar merah.


Bibir mungil nya mengucapkan kata dengan suara yang sangat pelan untuk didengar oleh pendengaran Manusia. Berbeda hal nya dari pendengaran kaum vampire yang dapat menangkap jelas suaranya.


"Aku ingin boneka petter yang mirip dengan om-om itu."


Rosella menunjuk boneka peter miliknya dan kemudian menunjuk butler yang masih menunduk itu.


Butler itu menjadi cemas saat melihat veronica yang sudah mengamatinya tajam seakan memperhatikannya dengan detail.


"Baiklah. Nanti siapkan juga pakaian yang sama persis dengan yang dipakai oleh mu untuk boneka peternnya Rosella."


Veronica langsung memberikan instruksi pada sang butler disertai anggukan antusias dari Rosella.


Bersamaan dengan selesainya Veronica yang mendandani putrinya sendiri, Butler itu pun meminta pamit.


"Rosella, putri ku. Kali ini Ibu akan menjaga mu dengan benar." Ucap Veronica yang mengelus rambut putrinya dengan lembut.


Keesokan harinya, Mayang berangkat ke kantor nya seperti biasa. Di meja kerjanya, teman-temannya menatap Mayang dengan khawatir.


"Mayang. Kau ga apa-apa?"


Mira bertanya cemas sambil memegangi wajah Mayang untuk mengamatinya dari dekat.


"Ko bisa ada lebam gini dimuka mu?"


Luka lebam yang terlihat menyakitkan di wajah Mayang yang putih mulus membuat Mira nampak sangat cemas.


Mayang tersenyum berseri-seri.


"Gapapa ko. Ga sakit banget."


"Lho?"


Mira menjadi terheran dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Mayang. Dan menge-check bagian per bagian mulai dari kening, lengan, dan badan Mayang. Mungkin saja ada suatu kejanggalan yang terjadi pada teman dekatnya itu.


"Aku benar-benar ga apa-apa ko."


Mayang masih terlihat berseri di senyumnya. Baru kali ini Mira melihat Mayang tampak saat gembira.


Sementara itu, di jarak yang bisa terlihat dari kursi kerja Mayang, Laerry dan ketiga temannya termasuk Tony berbisik memperhatikan Mayang.


"Keliatan banget itu luka tonjok." Ucap salah seorang teman Laerry.


"Hey. Mana ada cewek berantem tonjok-tonjokkan?" Temannya yang lain terlihat bingung.


Laerry mengacuhkan semua obrolan temannya itu. Laerry hanya diam tanpa memberikan argumentasi apapun.


"Hoi. Ga usah pasang ekspresi gituh. Samperin sana. Langsung tanya aja ke orangnya. Tampang lu ngeri banget tauk."


Tony menepuk bahu Laerry yang masih terdiam, bermaksud menyadarkan temannya yang terlihat sedang menahan emosi nya.


--- bersambung ke episode selanjutnya yah ---