
Bell berbunyi kembali. Mayang dan Taera Kucing saling menoleh.
Mayang membuka pintu nya dengan ragu.
Dibalik pintu, Mata Mayang bergedik saat melihat orang yang membunyikan bel.
"Hay.. Permisi."
Nata sudah ada di depan pintu sambil tersenyum. Nata Melihat Mayang yang terdiam saat melihatnya.
Kemudian, Mayang melirik Nara yang berada disamping Nata dalam balutan jaket nya yang berwarna hitam.
Agak mengacuhkan Mayang, sang pemilik rumah. Nata dan Nara langsung masuk tanpa ijinnya.
"Kakak!!!"
Nata memeluk Taera kucing dengan riangnya. Sementara Nara hanya duduk di sofanya sambil sedikit mengangguk memberi salam.
Taera terlihat agak risih dan berusaha melepaskan pelukan Nata dari dirinya.
"Kalian ngapain si kesini?"
Taera terlihat agak kerepotan. Meski begiu, Nata terus menempel dengan manjanya.
"Kak.. kapan kakak pulang ke rumah?" Tanya Nata agak memelas.
"Yah.. kapan-kapan.."
Dengan santainya, Taera berbalik menuju Nara yang sedang duduk disofa tanpa melakukan apapun.
"Hoi. Kau juga kesini? Tumben. Biasanya paling ga mau ikut-ikut Nata?" Tanya Taera yang akhirnya dibalas dengan tatapan tajam dari Nara.
Taera tersenyum menyeringai melihat Nara yang merasa terganggu dengan pertanyaan darinya.
"Jadi. Sangkin kangennya kalian sama kakak, Kalian kompak datang bersama yah?"
Pertanyaan Taera ditanggapi berbeda oleh Nata dan Nara.
Nata membalasnya dengan senyuman riang sementara Nara menjadi semakin badmood karena pertanyaan Kakaknya mengusik dirinya.
"Kalian..."
Masih tersenyum, Taera mencari keberadaan Mayang untuk dikenalkan pada Adik-adiknya.
Pandangan Taera kemudian tertuju pada Mayang yang berada di ujung ruangan.
"Dia. Kenapa dia suka ada dipojokkan gituh?" Taera memegang jidatnya seraya berfikir.
Dulu juga saat Mayang bertemu dengan Ariel, Mayang dengan aura keberadaan yang samar berada lumayan jauh dari mereka.
Nata dan Nara menatap Mayang dengan pandangan datar.
Mayang berusaha mengalihkan pandangannya dari tatapan kedua saudara kembar itu.
"Hei kesini! Kenapa jauh-jauh gituh?"
Taera mencoba memanggil Mayang beberapa kali.
Mayang dengan kaku menghampiri Taera.
"Kayaknya suka banget yah ada dipojokkan gituh?" Tanya Taera sedikit melirik.
Mayang menoleh ke arah Nata dan Nara yang sedang melihat ke arahnya.
Nata tersenyum dengan penuh aura persahabatan dan menjabat tangan Mayang dengan riangnya.
"Salam kenal! Aku Nata Kak. Dan ini adik Saya, Nara."
Nara hanya memalingkan wajahnya dari Mayang. Ia tak bisa melakukan hal yang sama seperti Nata yang berpura-pura baru pertama kali bertemu dengannya.
"Nara emang kaku banget didepan cewek! Ga bisa dia natap cewek walau hanya satu detik."
Taera melirik Nara sambil mengejeknya
Dengan kesal, Nara memegang ekor kucing Taera yang membuat nya menjerit.
"Meeooong!!"
Suara kucing tanpa sadar dikeluarkannya.
"Adek akhlakless." Raungan kesal dari Taera disertai dengan Cakaran tajam yang sudah disiapkannya untuk menghukum Nara.
Terjadi pertengkaran ringan antara kakak-adik untuk saling membalas perbuatan masing-masing.
Tapi, Taera yang dalam bentuk kucing bukanlah tandingan Nara yang berbakat dan memiliki kecepatan reflek diatas yang lain.
Taera kucing terlebih dahulu kelelahan.
"Kakak sudah seperti bapak-bapak saja." Nara melihat Taera kucing yang sudah berbaring terlentang.
"Shit! Mana bisa badan kucing disamain sama anak yang lagi puber gituh." Keluh Taera.
Nata hanya tertawa dengan ringan saat melihat kakak dan adiknya yang selesai melakukan sedikit pemanasan seperti olahraga (menurut pandangan Nata).
"Fufu. Laki-laki memang keren saat bermandikan keringat gituh kan?" Tawa santai Nata.
Taera agak cemberut.
"Kalian ngapain si kesini?"
Kedua kalinya pertanyaan serupa ditanyakan oleh Taera. Nata melihat Taera dengan agak sedih.
Lalu, tak lama setelah nya, Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil ditangannya.
"Kami mengantar surat undangan untuk mu, kak." Ucap Nata seraya memberikan kotak itu pada Taera.
Melihat Taera yang tak ada keinginan menyentuh kotak itu, Nata pun menaruhnya di atas meja.
"Ayah?"
"Yah. Ayah hanya mengatakan itu."
Tatapan Taera menjadi dingin saat mengingat Ayahnya. Taera sangat tidak menyukai Ayahnya. Karena itu juga, terkadang melihat Nata dan Nara yang sangat mirip dengan ayahnya secara appearance sangat menganggu pandangannya.
"Yah udah. Mungkin itu aja yang mau kami sampaikan, kak. Soalnya kami juga ada kuliah malam. Jadi ga bisa lama-lama juga."
Meski terlihat sedih, Nata masih memperlihatkan senyuman di wajahnya.
"Oke deh. Thanks yah."
Tangan kucing Taera terlihat sedikit mengusir.
"Ah!"
Nata kemudian mengingat sesuatu dan segera menghampiri Mayang yang berdiri tanpa bergeming dari tempatnya.
Dengan berbisik, Nata mendekatkan suara nya ke telinga Mayang.
"Kak, Aku titip kakakku padamu, yah."
Nata menyudahi ucapannya dengan senyuman.
Taera yang mendengar jelas perkataan Nata segera memalingkan pandangannya.
Mayang agak sedikit melamun dan baru menyadari permintaan Nata saat kedua adik Taera itu sudah pergi dari rumahnya.
"eh?" Mayang menoleh ke arah Nata yang sudah pergi.
"Huh."
Taera kucing menggaruk kepala nya dengan kesal.
Lelah dengan bentuk kucingnya, Ia pun kembali berubah dengan tubuh manusianya.
Mayang mencoba menutupi matanya yang melihat setengah bagian tubuh Taera yang terbuka.
Taera duduk dengan santai beristirahat di sofanya. Lalu memandangi kotak yang dibawa oleh adiknya itu.
Ia membuka kotak yang diikat dengan tali berwarna merah itu.
Setelah kotak itu terbuka, didalamnya ada sebuah surat yang berwarna merah juga. Disertai kelopak mawar merah disisinya.
"Mawar?"
Taera berfikir sejenak. Mayang merasa penasaran dengan Taera yang hanya diam memandangi surat kosong dihadapannya.
"Itu surat?"
Taera memegang dagunya dan mengangguk. Mayang bingung dengan surat yang seperti kertas kosong itu.
"Darimana nya dibilang surat?" pikir Mayang bingung.
Kemudian Taera meneteskan setetes darah dari dirinya ke atas permukaan surat itu.
Surat itu. Yang semula kosong perlahan berubah menjadi tulisa-tulisan yang sulit dibaca oleh Mayang.
"Veronica?" Tanya Taera.
Taera terlihat agak terkejut. Lalu dengan panik menatap ke arah Mayang.
"Ada apa?" Seketika Mayang muncul di sudut pandangnya.
Mata Mayang dan Taera pun bertemu. Membuat keduanya teringat kembali kejadian kemarin.
Dengan salah tingkah, mereka memalingkan wajah nya.
Menggaruk rambut hitam kecoklatannya yang agak bergelombang, Taera melirik Mayang tanpa sepengetahuannya.
"Bagaimana keadaan mu sekarang?"
Mayang agak terhentak. Akhir-akhir ini Ia merasa nada suara Taera terdengar semakin lembut di telinga Mayang. Dan perlakukan Taera terhadap dirinya begitu halus. Seperti dipikirkan dulu dengan lebih hati-hati.
"Ah. Sudah baikan. Ga kerasa nyeri ko." Ucap Mayang gelagapan.
Taera masih mengamati Mayang. Dengan cepat, Taera menarik Mayang untuk duduk disofa dan menggunakan pangkuan Mayang sebagai bantalan nya.
Mayang membelalakan Matanya melihat Taera yang sudah tidur di pangkuannya.
Mayang memegang pipinya yang memerah.
"Uukkkh~~ kenapa dia malah tidur?" Bathin Mayang.
Mayang memperhatikan Taera yang matanya terpejam.
"Bulu matanya panjang sekali."
Mayang terus bergumam dalam bathinnya.
Dilihatnya oleh Mayang wajah Taera dari dekat.
"Ini definisi wajah sempurna seperti yang orang-orang bilang?"
Mayang menatap tajam Taera dari dekat.
"Bahkan bentuk tubuhnya bagus." pikir Mayang mengamati.
"Jangan melihat ku seperti itu, wanita Omesh."
Taera agak melirik Mayang dengan tersipu.
Mayang sangat terperanjat dengan Taera yang sedikit menoleh ke arahnya.
Kemudian, Taera tertidur kembali.