
Part.1
Silau matahari memasuki ruangan. Mayang duduk tertidur disamping Taera.
"Ugh~~~"
Taera merintih bukan karena luka yang didapati sebelumnya, tapi karena sinar matahari yang menembus pas ke arah wajahnya.
Hampir bangun dengan kesal, Taera memperhatikan Mayang yang tidur disebelahnya dan teringat kejadian kemarin.
"Astaga." Ucap Taera dengan penuh pertanyaan.
Bagaimana tidak. Terakhir yang Ia ingat adalah saat dirinya pingsan setelah perkelahiannya dengan vampire yang membunuh banyak wanita dengan parasnya.
...---KLEKK---...
Pintu kamar terbuka. Dengan sorot tajam ke arah Taera, Ariel berjalan menutup tirai kamar dan berdiri disamping Mayang.
"Dia menunggu mu siang dan malam sampai akhirnya tertidur." Ucap Ariel mengelus rambut Mayang dengan lembut.
"Haaa.. Memalukan sekali. Aku tak biasa menghajar orang untuk menjaga cewek."
Taera menghela nafas dalam sambil memegang keningnya. Mengabaikan perkataan Taera barusan, Ariel memasang wajah serius.
"Kau tau.. berapa hari kau tertidur?" Tanya Ariel.
Taera hanya diam memperhatikan.
Ariel memalingkan pandangannya dari Taera yang bermaksud menebak pertanyaan dari Ariel, Ariel menatap kosong dinding ruangan, berkata dengan nada dalam.
"7 hari. Kau tertidur selama 7 hari Taera."
Taera menyandar kembali di tempat tidurnya.
"Hmm... Begitu.."
Ariel merubah ekspresinya yang sebelumnya tenang karena sikap Taera yang terlalu santai.
"Apanya yang begitu?! Sebelumnya kau bahkan tidur lebih lama dari ini? Apa yang harus ku lakukan lagi jika kamu tidur lebih lama dari ini?!" Ariel mengeraskan suaranya yang membuat Mayang bergedik.
"Pelankan suaramu." Ucap Taera dengan tajam.
Aura Taera berubah menjadi gelap. Ariel merasa gugup karena itu.
"Aku tau kapasitas tubuh ku lebih dari siapapun. So, tenanglah." Ucap Taera pelan.
Memperhatikan Mayang yang masih tidur, Taera menatap dengan senyuman.
"Kak. Aku hanya ingin menikmati masa-masa sekarang aja. Jadi, kau juga. Nikmati aja selagi kita bisa merasakannya. Carilah cara untuk bisa bahagia dihari-harimu sendiri."
Taera bangun dari kasurnya dan meregangkan badannya.
"Yaps begitulah kak. Jadi tolong bantuannya lagi yah."
Setelah menyeringai, Taera keluar dari kamarnya. Menggendong Mayang dalam pelukannya. Meninggalkan Ariel yang masih dalam gundah gulana.
...🥀🥀🥀...
Mayang masih dalam keadaan mengantuk berat, menepuk-nepuk kasur untuk memastikan keadaan Taera dengan mata yang masih terpejam.
Menyadari Taera tak berada di kasurnya, Ia bangun seketika. Berdiri untuk mencari Taera.
"Dimana....? Ada dimana?" Tanya Mayang dalam kebingungan.
"Hoi "
Taera yang tingginya lebih dari 20 centi dari Mayang, berdiri dibelakang Mayang dan menatapnya dari atas.
"W...aaa.h"
Mayang terkejut dengan kemunculan Taera yang tiba-tiba. Ia terjatuh dan terduduk. Menatap dan memperhatikan Taera dengan panik.
Taera memicingkan matanya dan melihat ke arah Mayang.
"Cewek kikuk. Kenapa selalu kagetan gituh sih?"
"Haaa?? Kagetan apa? Lho?.. kapan kita kembali ke rumah?"
"Tadi."
"Yah tadi masih ada di apartemennya Ariel kan? Gimana cara kita bisa pulang ke rumah?"
"Naik mobil lah? Gw kan ga bisa teleportasi kayak Ariel."
"Mobil? Mobil siapa?"
"Mobil lu lah."
"Ya dah. Yang jelas masakin sesuatu dong. Gw kangen masakan rumahan."
Taera duduk dengan antusias di kursinya. Sambil memasang muka memelas, Ia berharap dikasihani dan dituruti permintaannya.
Mayang berdiri mendekat ke hadapan Taera. Mengecek satu persatu bagian tubuh Taera untuk mencari kemungkinan luka yang didapatinya.
"Apaa?? Hey cewek. Ngapain si?? Jangan deket-deket gituh dong."
Baru ini Taera merasa panik di hadapan seorang perempuan. Ia menyembunyikan wajahnya yang tersipu.
"Cuma nge-check aja. "Jawab Mayang singkat.
Meskipun terlihat kesal, Mayang lega melihat Taera baik-baik saja dan kembali seperti semula.
"Ada yah cewek kayak gini?" tanya Taera sebal.
"Kan Aku yang pertama merawatmu dalam bentuk kucing itu. Jadi ini cara ku untuk memeriksa pasien ku."
Taera memegang keningnya dan melihat ke arah Mayang dengan kecewa.
"Jadi lu ngeliat gw kayak kucing gituh?"
Mayang ingin mengangguk tapi mengurungkan niat nya karena suara lapar dari perutnya berbunyi. Dengan malu, Mayang langsung mengalihkan pembicaraan.
"Oke. Tadi katanya mau makan kan? Otw masak dulu."
"Haa. Dari tadi kek."
Taera tersenyum. Ia selalu merasa senang saat bersama dengan Mayang. Taera merasa jika bersama dengan Mayang, hatinya sangat tenang.
Part. 2
Dilain pihak, Ariel kembali sibuk untuk mengurus sisa dari permasalahan woman killer kemarin. Ia mengumpulkan data-data dan laporan yang diterimanya. Ada suatu hal yang menarik perhatian Ariel. Mengenai siapa vampire murni yang membuat kontrak dengan Mr. Stev (woman killer) ini.
Menurut pernyataan Taera, pria ini menjalankan kontrak dengan taruhan darahnya, sehingga begitu Ia mengatakan nama dari majikannya, Ia langsung kehilangan nyawanya. Tapi, melihat tak ada paksaan dari pengaju kontrak, mungkin vampire ini dapat menggunakan kemampuan hipnotis dan memperdayaan budaknya.
Begitu menyadari terdapat suatu kejanggalan dengan dokumen-dokumen yang diterimanya, Ariel memanggil seketarisnya.
"Siapkan aku Jet pribadi ku."
Ariel bergegas menghubungi nomor Ayahnya. Sebenarnya lebih cepat jika Ia menggunakan kemampuannya, tapi karena menemui Ayahnya, Ia tidak bisa mengunakannya di lingkungan anti sihir yang dikembangkan ayahnya sendiri.
Tak perlu beberapa lama, Ariel tiba di rumah, tampaknya Ayahnya adalah penyuka seni dan estetik. Banyak lukisan yang terpajang di ruangannya.
"Ayah."
Ariel berkata dengan sopan. Dihadapan Ayahnya, Ia sangat gugup, bahkan Ariel tak bisa melakukan kesalahan satu kata pun.
Ayah nya berdiri tanpa memperhatikan Ariel.
"Jadi, Taera berurusan lagi dengan vampire berdarah murni ini?"
"Iya, Ayah."
Ayahnya kemudian diam sambil membaca laporan yang dibawa oleh Ariel.
"Veronica, Nyctonia, Felix. Tiga nama ini ada kemungkinan berkaitan dengan hipnosis."
Menyerahkan dokumen itu kembali pada Ariel, mata merah Ayahnya membuat kuduk Ariel bergetar.
"Baik Ayah." Balas Ariel dalam ketakutan.
Di jalan menuju lorong rumahnya, Ariel teringat saat pertama kali Ia bertemu dengan suami ibunya dan Taera yang saat itu berdiri dikejauhan tanpa mengindahkan perkataan Ayahnya. Taera sama sekali tak merasa khawatir dengan keberadaan Ayahnya yang dikelilingi oleh aura hitam di pandangan Ariel.
"Ariel?" Suara indah dan pembawaan yang halus muncul dari belakang Ariel.
Ariel menahan tangis saat melihat wanita yang berada dihadapan nya.
"Ibu.."
Ariel langsung memeluk ibunya yang lebih kecil darinya dengan kencang. Ibunya mengelus kepala Ariel dengan sentuhan lembut.
"Ada apa? Berantem lagi dengan Taera? Apa diomelin sama Ayah?"
Ariel menggeleng. Sambil mengusap air matanya. Hanya di hadapan ibunya, Ia merasa menjadi wanita biasa yang lemah.
Setelah agak tenang dan meminum lemon tea buatan ibunya, Ariel melihat ke arah ibunya yang masih menatapnya khawatir.
"Taera kemarin pingsan dan baru bangun 7 hari lamanya." Ucap Ariel.
Ibu melihat dengan cemas.
"Kejadian ini persis sama dengan 10 tahun yang lalu kan bu?"
Ariel mengingat kembali kejadian sebelumnya. Saat Taera hampir kehilangan nyawanya ketika menyelamatkan Ariel.
Ditengah kobaran Api berwarna biru, mata Taera yang berwarna hijau pun terlihat kuning keemasan.