
Mayang melontarkan kata-kata kasar sebagai luapan emosinya untuk Bima.
Bima yang sudah dipenuhi kebenciannya hendak memukul Mayang kedua kalinya. Namun, tepat sebelum tangannya menyentuh Mayang, sebuah tangan menahannya sehingga Ia tak dapat bergerak.
Dengan mata penuh amarah, Taera yang sudah berdiri di depannya menekan erat tangan Bima yang membuat nya teriak kesakitan.
"Taera???!!!"
Mayang melihat Taera yang berdiri membelakanginya, Ia mengetahui bahwa Taera saat ini sangat marah. Ia bermaksud untuk untuk menghancurkan lengan Bima bahkan mungkin membunuhnya saat itu juga.
"Hentikan Taera! Sudah!"
"Aww.. waaaaakkh..kh!!!"
Mayang menarik lengan Taera yang tak juga melepaskan genggamannya dari Bima yang sudah meraung kesakitan.
Bima yang menahan sakitnya berusaha melepaskan tangan Taera yang kekuatannya melebihi batas kekuatan manusia.
Mayang dengan panik berusaha menyadarkan Taera yang sudah dipenuhi api kebencian terhadap pria yang sama sekali tak dikenal nya.
Mayang melihat keadaan tangan Bima yang mulai membiru. Matanya berubah menjadi sangat ketakutan melihat ke arah Taera yang memasang wajah sedingin es.
"Kumohon Taera ! Lepaskan tangannya!"
Mayang terus berteriak dan memeluk Taera dengan tangisnya yang sudah tak ada daya.
Taera menoleh ke arah Mayang yang rambutnya sudah acak-acakan dan wajahnya dipenuhi oleh air mata dan lebam di bagian pipinya.
Dengan kesal, Taera mendorong Bima sambil melepas tangannya. Bima yang merasakan horor untuk pertama kalinya semasa hidupnya langsung berlari terbirit-birit seperti dikejar syaitan.
Taera menatap Mayang yang tak berhentinya menangis. Allen yang sejak awal ikut bersama Taera merasa keberadaannya sangat menganggu.
Allen menggaruk lehernya lalu memberikan makanan yang dibeli mereka tadi.
"Nih. Makan berdua sama Mayang. Gue balik yah. Udah malem juga!"
Allen menepuk Taera yang diam seperti patung. Sebelum akhirnya Ia berpamitan.
Taera menyentuh pipi mayang yang lebam dengan lembut.
"Maaf karena datang terlambat."
Taera bingung apa yang harus diucapkannya. Banyak sekali yang ingin ditanyakannya. Tentang siapa pria itu yang telah membuat Mayang dalam keadaan seperti ini.
Mayang masih menangis dan Tak ada tanda-tanda Mayang akan bangun dari tempatnya duduk.
"Hnn"
Taera yang memperhatikan Mayang langsung mengangkat Mayang dan menggendongnya masuk ke dalam rumah. Menaruh Mayang di sofanya.
Mayang tak melepaskan pelukannya dari Taera. Mayang berusaha menghentikan isakan tangisnya dengan menggigit bibirnya kuat-kuat sampai membuat bibirnya berdarah.
"Ternyata kamu cengeng banget."
Taera berkata dengan nada yang sangat lembut dan mendekat ke arah Mayang yang matanya sudah bengkak.
"Ga adil, Taera. Kenapa kamu jadi lembut banget gituh?"
Isakan tangis masih terdengar disuara Mayang.
"Sakit banget yah?"
Taera bertanya untuk maksud supaya Mayang segera berhenti menangis dan marah kepadanya seperti biasa.
Tapi, melihat lebam yang membekas di wajah Mayang, malahan Taera sendiri yang merasa amarah nya ingin diledakkannya pada orang yang sudah membuat Mayang dalam kondisi seperti sekarang.
Taera berdiri dan hendak mencari kotak simpanan P3K milik mayang. Namun, ketika akan pergi, Mayang menarik lengan Taera lagi.
"Aku baik-baik saja. Jadi, ga usah kemana-mana."
Mayang berkata dengan jujur. Hal yang membuat nya menangis bukan karena sakit yang dialami tubuhnya secara fisik. Melainkan Ia menangis karena kekecewaan dan kekesalannya terhadap lelaki yang pernah ada dihidupnya selama 6 tahun. Ditambah Taera yang harus mengotori tangannya karena ingin melindunginya dari Bima.
"Kadang Kamu itu yang ga fair deh."
Taera mendekat lagi dijarak yang lebih dekat dari sebelumnya. Taera terlihat sangat tertekan saat melihat mata Mayang yang bengkak dari dekat. Tangan Taera yang besar menutupi kedua Mata Mayang yang masih basah oleh Airmatanya.
Darah menetes dari bibir Mayang yang digigit nya tadi. Kepala Taera terasa berat dan terhuyung. Ia merasa gagal menahan dahaganya ketika melihat darah yang menetes dihadapannya. Dengan ragu, Taera menjilati darah segar yang menetes dari bibir Mayang.
Mayang terhentak. Namun, tenaga nya yang sudah terkuras karena tangisnya tadi, membuat tubuh Mayang tak berdaya untuk mengelak.
Baru kali ini Taera berada sedekat ini dengan Mayang.
Mayang menggenggam lengan Taera untuk memberi nya sedikit kekuatan agar tak terjatuh. Melihat Mayang yang bergantung padanya, Taera yang sudah berpuasa minum darah beberapa tahun terakhir menjadi tak bisa mengontrol kekuatannya.
"H...ng.."
Mayang menggeliat dan mencoba untuk mencari jalan nafas melewati celah bibirnya yang tertutup. Sementara Taera terus mencicipi sisa-sisa darah Mayang dengan rakus nya.
Mayang yang meminta untuk membuka jalan nafasnya, menepuk-nepuk bahu Taera yang besar. Namun, seperti nya usaha Mayang sedikit terlambat. Taera sudah mengambil kendali atas tubuhnya.
Badan Mayang terasa panas ketika mata nya yang tertutup tangan Taera mengintip dari celah tangannya, mengarahkannya pada Mata hijau Taera yang menatap tajam ke arahnya.
"Mayang."
Taera berulang kali memanggil namanya untuk beberapa saat.
...Blood, Sweat, and Tears. ...
Semuanya telah dicicipi oleh Taera tanpa tertinggal sedikit pun.
Saat keduanya sedang larut dalam perasaan mereka, sebuah dering telpon panjang berbunyi.
"Telpon..."
Mayang melirik telpon Taera yang berbunyi.
"Abaikan aja."
Taera dengan santai meminta Mayang untuk tak mengalihkan pandangannya darinya.
-----rrrriiing------
Suara telponnya tak juga berhenti dan semakin kencang. Membuat Taera menjadi jengkel dan segera menghampiri ke tempat hp nya berada.
Masih dengan suasana kesal karena merasa terganggu, Taera melihat nama penelepon.
Nama Ariel tertera di hapenya.
"Ada apa, kak?"
"Ada yang terjadi dengan pemeriksaan Wanita yang kalian bawa tadi."
Terdengar suara mengeram di balik telpon Ariel.
Taera yang mendengarkan itu hanya menebak-nebak kemungkinan yang sedang terjadi disana.
Menoleh ke arah Mayang yang menatap nya dengan bingung, Taera memegang keningnya seraya berpikir.
"Oke kak. Aku kesana sekarang."
Dengan berat hati, Taera menatap Mayang sebentar sebelum Ia akhirnya berubah menjadi bentuk kucing hitamnya yang memudahkan dia bergerak mencapai tempat tujuan.
Mayang yang melihat Taera pergi mengumpulkan kesadarannya kembali dan mengingat Apa yang dilakukan Taera pada dirinya barusan.
"~~~~"
Mayang menjadi salah tingkah dikamarnya dan menepuk sofanya dengan girang.
Sambil memeluk bantalnya, Ia tersenyum riang dan menganggap pertemuannya dengan Bima sebagai angin lewat yang terlupakan.
...🥀🥀🥀...
Di ruangan wanita itu disekap, Ariel memperhatikan wanita yang mengeram itu sambil melirik ke arah Allen yang sudah datang lebih dulu dari Taera.
"Hebat." Ucap Allen terkesima melihat tubuh wanita dihadapannya perlahan mengikis seperti pasir.
Ariel menatap wanita itu dalam diam, tak beberapa lama Taera datang dan menghampiri.
"Lihatlah." Allen menunjuk wanita itu dengan santai.
"Dia seperti bom waktu." Ucap Allen menikmatinya.
Tubuh Wanita setengah vampire yang telah dibawa mereka tadi seketika menjadi berwarna terang keemasan.
"Bom waktu.... Eh?" Allen berpikir kembali terhadap ucapannya.
Menyadari dugaannya yang terkadang tepat, Allen, Taera, dan Ariel langsung memperhatikan kembali wanita itu.
Sebuah ledakan yang timbul dari tubuh wanita itu pun terjadi.
----BBOOOOBBMMM-----