The Cuttie Kitty Is A Vampire

The Cuttie Kitty Is A Vampire
Pesta Ulang Tahun



Mayang pulang lebih lambat dari biasanya. Kerjaannya hari ini banyak sekali.


Memasuki rumahnya, Mayang baru menyadari. Bahwa malam ini, Taera ada acara diluar bersama Allen yang telah menjemput nya.


"Hm. Iyah juga. Tadi di pesan mereka katanya mau party yah?"


Mayang menge-check story milik Allen karena penasaran. Ternyata Allen memang sering sekali update aktivitas nya di story.


"Apa-apaan ini? Katanya yang ultah masih anak-anak? Tapi, ko tamu undangannya kebanyakan wanita-wanita sek-si gini?" Mayang menggerutu sambil terus memeriksa foto dan video yang dibagikan Allen.


"Uuukkh~~~"


Pandangan Mayang terfokus pada Taera yang berdiri di samping Allen.


"Kucing ini emang jenis kucing garong kan? Lihat mukanya." Mayang menge-zoom Taera yang ada di postingan Allen dengan sedikit cemburu.


Merebahkan badannya yang pegal-pegal karena duduk seharian, Mayang melihat kembali sosok Taera yang ada di postingan Allen.


"Cepet pulang, Taera Meong." Ucap Mayang dengan lembut.


--ting tong--


Suara bell rumah berbunyi. Merasa de javu saat terakhir Ia menerima tamu pas Taera tak ada dirumah. Mayang pun memasang tatapan waspada kalau-kalau ada tamu yang tak diharapkannya datang seperti Bima waktu itu.


Mayang mengintip dari celah jendelanya. Seorang wanita yang tak dikenal nya berdiri di depan pintu rumahnya.


Agak bimbang, Mayang memberanikan diri untuk membukakan pintu rumahnya.


"Ada apa yah?" Tanya Mayang sedikit ragu.


Tak biasanya Ia mendapat tamu yang datang kerumah nya saat malam hari.


"Saya baru pindah ke rumah samping. Ini ada acara selamatan rumah." Wanita itu berkata ramah sambil memberi dua kotak nasi lengkap dengan lauknya.


"Oh. Iyah terimakasih bu. Aduh, Saya ga tau ada selametan. Baru pulang kerja soalnya."


"Gapapa, bu. Lagi juga dadakan, suami Saya bilang harus selametan malam ini."


Mayang mengamati kembali kotak nasi yang diberikan oleh tetangga barunya itu.


"Maaf bu. Ko Saya dapat dua kotak nasinya, ya?" Mayang menatap bingung kotak nasi yang diterimanya.


"Eh? Kemarin malam, Saya lihat Ibu pulang bersama suami ibu, kan?" Tanya Wanita itu heran.


"Suami??"


Mayang berusaha tampak biasa. Tapi, mendengarnya langsung dari orang membuat Mayang tersipu malu.


"Oh iyah. Kayak nya malam ini orang-orang banyak yang sibuk yah?"


"Kenapa emang bu?"


"Kan tadi saya dengar obrolan warga, kalau ada anak di kampung ini yang hilang di hutan?"


"Hutan?"


Sejujurnya, Mayang sama sekali tak tahu kalau di tempat tinggalnya masih ada tempat yang bisa disebut hutan. Ia merasa ketidak peduliannya terhadap sekitar mulai berada di tingkat Ia harus bergerak peduli.


Setelah berpamitan dan berbasa-basi untuk mampir ke rumahnya, wanita itu pun pergi.


"Haaa~~"


Mayang menghela nafas panjang. Berharap tak ada lagi rasa lelah hari ini yang akan membebani pundaknya.


Tiba-tiba, Mayang terpikir Kean, Anak tukang Warung yang biasa datang mengantarkan telur pesanannya.


"Ko Jadi inget Kean?"


Mayang merasa agak gelisah.


"Feeling ku kadang tepat. Semoga tak ada hal buruk yang terjadi." Mayang mencoba menenangkan hati nya dan melihat kembali foto Taera yang sedang dilihatnya tadi.


Di rumah besar Veronica sedang diadakan pesta ulang tahun penyambutan kelahiran kembali putri tersayangnya, Rosella.


Para tamu undangan yang datang hari ini adalah komunitas vampire yang kebanyakan adalah darah campuran.


Mereka dengan bersuka hati menikmati hidangan berkelas yang disajikan untuk mereka.


Sejak dulu, Veronica telah diakui sebagai salah satu pemilik lidah bercita rasa tinggi yang mempunyai selera tinggi terhadap asupan nutrisinya.


Di tengah sorak-sorai Tamu undangan yang sedang menikmati pestanya, seorang pelayan terlihat sedang menuju ruang bawah tanah.


Pelayan itu mengambil beberapa minuman yang telah disediakan khusus untuk pesta malam ini.


Mata pelayan itu sedikit bergedik ketika melihat pintu yang berada di ujung ruangan. Air liur nya menetes sampai Ia lupa untuk mengelap nya.


Kaki nya mulai melangkah mengikuti nalurinya. Namun, tepat saat Ia mulai mempercepat langkahnya, Seorang butler yang lebih tua darinya menghadangnya didepan.


"Jangan ceroboh. Nyonya Veronica tak akan mengampunimu jika sampai terjadi hal yang tak diinginkan di pesta ulang tahun nona Rosella yang sangat penting ini."


Pelayan itu langsung ketakutan begitu melihat mata sang butler yang menatapnya.


"Maaf. Kepala pelayan. Ampuni Saya. Saya akan lebih berhati-hati kedepannya." Ucap sang pelayan tertunduk.


Setelah pelayan itu pergi, sang butler menghampiri ruangan diujung itu, tempat dimana Kean berada.


--CKLEK--


Suara pintu yang sudah tua terdengar sedikit berdenyit ketika Ia masuk. Dalam keadaan setengah sadar, Kean melihat bayangan sang butler yang dilihatnya terakhir.


"Om. Sebenarnya, Kean ada dimana, om?" Rintih Kean.


Suara nya sangat pelan dan sudut pandang nya terlihat samar.


Butler itu hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun pertanyaan Kean. Kean hanya melihat makanan yang disuguhkan butler itu dihadapannya.


Kean yang lapar melihat makanan didepannya dengan perasaan senang.


"Terimakasih, om." Ucap Kean sambil tersenyum.


Butler itu keluar dalam diam. Sambil memperhatikan Kean yang berusaha memakan makanannya dengan tangannya yang tak bertenaga.


"Bapak. Ibu. Maafin Kean." Kean teringat dengan nasihat Bapak dan Ibunya yang terus melarangnya untuk pergi ke hutan.


Yang Ia sangat sesali sekarang adalah perasaan bersalahnya kepada Bapak dan Ibu, juga Sari, Adiknya. Karena, Kean telah membuat khawatir keluarganya.


Sambil makan dengan tenaga yang ia kumpulkan semampunya, Kean teringat tujuannya ke hutan.


"Rose." Bisik Kean memanggil nama Rose.


Suara Kean yang sangat pelan ternyata mampu didengar oleh Rosella yang memilki pendengaran lebih tajam dibandingkan yang lain. Rosella yang mendengar suara Kean langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. Berharap Ia bisa mencari dan mendengar suara Kean lagi.


Rosella melihat celah untuk pergi saat Veronica sedang disibukkan dengan salam sapanya dengan para tamu undangan.


Dengan berlari kecil, Rosella mengingat kembali asal suara yang didengar nya barusan.


"Kean datang menemui Rose!" Teriak Rosella bersorak didalam hatinya.


Rosella yang terlalu senangnya berlari tak menyadari keadaan di hadapannya. Ia pun menabrak orang yang berada didepannya.


"Ah maaf. Nona apa Anda baik-baik saja?" Allen dengan nada manisnya seperti yang biasa Ia lakukan di depan wanita-wanita yang baru di temuinya menebarkan aura nya yang mempesona.


"Iyah. Rose baik-baik saja."


Dengan nada pelan, Rosella menutupi wajahnya dengan tersipu sambil memeluk boneka peternya.


Rosella yang sedang terburu-buru mengangguk dengan cepat untuk berpamitan. Lalu, berlari kembali ke tempat tujuannya barusan.


"Hei. TaeTae. Saat kau melihat wanita cantik terburu-buru gitu. Bukannya timbul perasaan penasaran ingin mengetahui kemana arah tujuannya?" Tanya Allen dengan serius.


"Ngga." Taera menjawab singkat. Sementara Nara bertambah tak suka dengan teman dekat kakaknya ini.


"Kak Allen. Kadang Nata bingung. Kenapa Kak Allen terdengar seperti om-om cabul?" Tanya Nata dengan sejujurnya-jujurnya yang Ia rasakan.


"Om-om cabul?? Maksudnya?!" Allen begitu shock mendengar komentar Nata yang langsung pada mengena. Nata menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menarik nafas panjang.


"Yah masa' kak. Ada hobi mengikuti wanita begitu? Itu kan sama aja kayak stalker? Yah kan?" Tambah Nata yang sekali lagi mengena tepat sasaran.


Allen tak mampu mengelaknya. Tapi, Ia adalah pemuda yang jujur. Ia merasa ingin mengikuti Rosella yang barusan menabraknya.


"Ironi kadang. Tapi, Aku memiliki prinsip. Aku akan mengesampingkan harga diriku untuk mengikuti kata hati dan instingku." Ucap Allen dengan bangga.


Setelah Ia menetapkan hati nya, sebuah energi yang sangat besar tiba-tiba terasa menusuk masuk ke dalam kediaman keluarga Veronica.


...🥀🥀🥀...